Wayang Beber Mampu Pertahankan Khasanah Lokal

NGALIYAN - Wayang Beber merupakan satu di antara puluhan model wayang di Tanah Air. Wayang Beber menggambarkan sebuah cerita melalui media kertas. ”Wayang Beber berarti gambaran cerita dengan media kertas yang dibeber seperti komik. Ini sebagai salah satu cara mempertahankan khasanah lokal,” kata Ibnu Tholhah, salah satu narasumber saat mengisi acara seminar nasional Wayang Beber, Pelestarian dan Transformasi bagi Pendidikan Karakter Bangsa di aula 2 Kampus III Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan, kemarin.

Menurut dosen Seni UIN Walisongo Semarang itu, Wayang Beber tidak begitu populer jika dibanding dengan jenis wayang lainnya. Padahal kiprahnya sudah lama ada. Selama ini masyarakat hanya mengenal beberapa jenis wayang seperti, wayang kulit, dan wayang orang. ”Pak Wisto Utomo, termasuk salah satu pelestari Wayang Beber dari Gunung Kidul, Yogyakarta. Ini yang harus kita contoh bersama,” ucap dia.

Ia menambahkan, Wayang Beber telah ada sejak era kerajaan Majapahit. Saat itu, sejumlah tokoh mementaskan dengan menggunakan kertas seadanya. Melalui sejarah perjalanan Wayang Beber tersebut, dia meyakini, bangsa Indonesia sejak dulu telah memiliki peradaban dan kebudayaan. ”Nenek moyang kita telah lama memiliki peradaban kemanusiaan. Ini yang harus dipahami bersama,” ujar Ibnu.

Diselaraskan

Narasumber lainnya, M Rikza Chamami dari sekretaris Pusat Pengembangan Islam dan Budaya Jawa (PPIJ) UIN Walisongo, mengatakan, Islam masuk di Indonesia tidak lepas dari budaya yang ada saat itu.

Secara perlahan nilai-nilai Islam dimasukkan melalui budaya tersebut, termasuk di antaranya melalui media wayang. ”Para pendakwah seperti Wali Songo melakukannya. Akhirnya budaya dan Islam mampu diselaraskan,” katanya. Selain itu, tambah dia, seiring waktu berjalan, nilai-nilai kebijaksanaan dalam pentas wayang juga perlu dimasukkan dalam pendidikan. Hal ini sebagai salah satu upaya melestarikan budaya wayang itu. ”Kami berharap melalui pentas wayang ini, ajaran Islam rahmatan lil alamain (kasih sayang bagi alam semesta) bisa disebarluaskan,” tandas Rikza.

Kegiatan seminar nasional, Wayang Beber diinisiasi tiga lembaga di UIN Walisongo Semarang. Yakni, LP2M UIN Walisongo Semarang, Pusat Pengembangan Islam dan Budaya Jawa (PPIJ) UIN Walisongo Semarang, serta perhimpunan mahasiswa jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), UIN Walisongo Semarang. (arw-48)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar