Pertigaan Hanoman Dirombak Total

SEMARANG BARAT - Pengaturan arus Lalu lintas di pertigaan Jalan Siliwangi-Jalan Hanoman akan dirombak total. Hal ini dilakukan karena di lokasi tersebut sering terjadi kecelakaan lalu lintas.

Keputusan tersebut diambil setelah dilakukan rapat koordinasi di Kantor Satker Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah Metropolitan Semarang, Jl Durian Raya, Banyumanik, awal pekan ini. Rapat yang membahas lokasi rawan kecelakaan di ruas Jl Siliwangi KM 6+300 itu melibatkan, Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, Dinas Perhubungan Kota Semarang, Satlantas Polrestabes Semarang, Pengelola Perumahan Graha Padma, Direktorat Jendral Perhubungan Darat, dan berbagai pihak terkait. ‘’Dengan berbagai pertimbangan, diputuskan persimpangan Jalan Hanoman akan ditutup. Nantinya akan diberi median jalan di Jl Siliwangi sebagai pemisah. Tidak akan ada lampu lalu lintas di persimpangan tersebut,’’ papar Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Semarang, Kusnandar.

Untuk kendaraan dari Jl Hanoman Raya yang akan ke arah barat, berbelok dulu ke kiri, dan diarahkan berputar di bundaran Kalibanteng. Adapun kendaraan dari arah timur Jalan Siliwangi yang ingin ke Jalan Hanoman Raya, berputar di dekat Pengadilan Negeri Semarang.

Di tempat itu, median jalan akan dibongkar. Saat ini, imbuh dia, sedang dilakukan pendataan di lapangan, terutama terkait pembuatan tempat putar balik yang berada di depan Pengadilan Negeri Semarang.

Pasalnya, daerah itu cukup dengan dengan persimpangan lampu lalu lintas pintu keluar tol Krapyak. ‘’Kemungkinan, penutupan mulai dilakukan pekan ketiga Desember ini. Nantinya akan dilanjutkan pembuatan median jalan secara permanen di Persimpangan Hanoman,’’tambah Kusnandar.

Kecelakaan

Dari catatan Suara Merdeka, beberapa kecelakaan terjadi di Persimpangan Hanoman yang ditetapkan sebagai salah satu black spot (lokasi rawan kecelakaan). Bahkan di antaranya memakan korban jiwa. Kecelakaan dipicu karena kendaraan berat tidak bisa dikendalikan saat turunan dari arah barat. Pada 30 Januari lalu, misalnya, terjadi kecelakaan di depan Kantor Samsat Semarang III, atau Persimpangan Hanoman. Kecelakaan melibatkan truk tronton yang menyeruduk tiga motor yang sedang berhenti di lampu lalu lintas. Pada 28 Februari, sebuah bus menabrak sepeda motor yang juga sedang berhenti di lampu lalu lintas. Pada 30 November, sebuah truk terguling di Persimpangan Hanoman. Pada 2017, sejumlah kecelakaan juga terjadi. Sebuah truk tronton bermuatan gulingan kabel ringsek menabrak median jalan pada 4 Agustus 2017 karena rem tidak berfungsi maksimal. Selang beberapa hari kemudian, atau pada 17 Agustus 2017, kecelakaan memakan korban jiwa. Truk tronton menabrak pengendara sepeda motor hingga meninggal dunia di persimpangan itu.

Pakar Transportasi Unnes, Untoro Nugroho mendukung penutupan Persimpangan Hanoman. Melihat sejumlah kecelakaan yang terjadi, perlu langkah nyata untuk mengantisipasinya. Apalagi, kendaraan yang masuk ke Jl Hanoman Raya juga banyak. Pria yang juga anggota Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang ini menambahkan, kendaraan berat dari arah barat yang melewati turunan, cukup sulit bila harus berhenti total di Persimpangan Hanoman.

Kinerja rem tidak bisa berfungsi maksimal. ‘’Bila hanya mengurangi kecepatan saja, mungkin masih bisa. Tetapi bila harus berhenti total cukup sulit. Apalagi banyak juga dari arah timur, yang melanggar lalu lintas dengan langsung berbelok ke Jl Hanoman Raya, padahal lampu masih merah,’’ ujar Untoro. (K18- 48)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar