Salamah, Peraih Rekor Guru Menulis PGRI

Ingin Lahirkan Siswa Melek Literasi

SM/Edy Purnomo : MENDONGENG: Salamah guru SD 2 Wonosobo mengajar membaca dan mendongeng kepada anak didiknya.(24)
SM/Edy Purnomo : MENDONGENG: Salamah guru SD 2 Wonosobo mengajar membaca dan mendongeng kepada anak didiknya.(24)

Salamah, guru SD 2 Wonosobo mencetak rekor nasional sebagai guru paling produktif menulis. Pekan lalu, dia menerima penghargaan di Bogor dan bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Total ada 28 judul buku yang ditulis, beberapa di antaranya best seller dan dicetak berbagai edisi.

GAGAL memenuhi cita-citanya menjadi dokter, tak lantas membuatnya patah arang. Menjadi guru pun akhirnya dilakoni dengan penuh ketekunan. Dialah Salamah, yang kini berprofesi menjadi seorang pengajar. Alumni S1 PGSD Universitas Kristen Satya Wacana ini bertahun-tahun mengabdi menjadi guru yang dimulai pada 2004 di SD 2 Wonosobo.

Istri dari Sumarsono ini kemudian mengajar di SD Negeri 1 Kayugiyang, SDN 1 Rojoimo, dan kini di SDN 2 Jlamprang, Wonosobo. Selain mengajar, perempuan yang berulang tahun setiap 18 April ini rajin menulis buku. Sejak 2011, ia sudah menghasilkan 28 buku. Sebagian diantara buku-bukunya berbentuk novel.

Berkat ketekunan menulis, anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Djamiyo dan Sutinah ini pernah dinobatkan sebagai juara pertama tingkat nasional Lomba Guru Menulis pada 2012. Selain itu juara pertama Guru Berprestasi tingkat kabupaten pada 2017. Dan pada 1 Desember lalu, dia mendapatkan penghargaan Rekor Guru Menulis PGRI di Stadion Pakansari, Bogor. Salamah berkisah mulai menulis sejak kecil karena ingin menyalurkan ide dan gagasan.

Baginya karya tulisan tidak lekang oleh waktu dan dia tidak mematok jenis karya yang harus ditekuni. ”Saya hobi nulis sejak kecil. Nulis apa saja saya tidak pernah memikirkan harus karya ilmiah atau tidak ilmiah,” katanya.

Hasilnya, belasan tahun lalu dia sudah mulai menuangkan idenya dalam bentuk buku. Waktu itu Salamah menulis Soal-Soal Sukses UKA dan UKG untuk Guru Sekolah Dasar. Dari karya ini dia semula pesimistis akan ada yang membaca. Namun, dia mengangap hal itu tidak penting. Selang tiga bulan kemudian, pada tahun sama dia menulis buku Uji Kompetensi Guru SD. ”Waktu itu selain menyalurkan ide, motivasi saya ekonomi. Terus terang waktu itu posisi saya agak sulit sehingga saya harus mandiri dan mendapatkan royalti,” jelasnya.

Dia juga berharap karyanya bisa menjadi film. ”Saya berharap, suatu saat salah satu novel saya bisa difilmkan. Novel yang saya harapkan itu bercerita tentang seorang guru di sekolah favorit, tapi sangat menyedihkan,” kata Salamah menambahkan.

Selain menulis Novel, buku tentang CPNS membuatnya banyak dipanggil untuk melakukan bimbingan kepada calon pegawai negeri sipil. Ia juga kerap diminta membina anak-anak yang hendak kuliah, berkat buku drilling psikotest yang pernah ditulisnya. Tak cukup menghasilkan tulisan, Salamah juga dikenal sebagai penggiat literasi, yang harapannya bisa melahirkan penulis-penulis muda.

Saat ini ia membimbing delapan penulis pemula. Beberapa orang diantaranya bahkan sudah menghasilkan buku. Ia punya harapan, bisa mewujudkan impian membawa Wonosobo meraih prestasi sebagai daerah penghasil penulis anak anak terbanyak. Salamah mengaku bangga karena karyanya dilirik penerbit dan mendapatkan royalti yang lumayan.

Dia mengaku semua buku dan karyanya diminta penerbit mayor sehingga tidak mencetak sendiri dengan uji verifikasi yang diserahkan ke mekanisme pasar. Dia enggan menyebut berapa jumlah royalti yang diterima, namun menurutnya cukup untuk membeli sebuah rumah dan sebuah kendaraan roda empat. Memang karya guru yang hobinya membaca dan tidur ini cukup banyak. Sebut saja karya yang ditulisnya tiap tahun yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (2013), Pendidikan Budaya Daerah (2014), Driling Lengkap Psikotes (2015), Tokoh Wayang Pandawa Punokawan (2016), Kumpulan Cerpen Anak (2017), dan Strategi Pembelajaran (2018). Buku-buku tersebut rata-rata menjadi panduan di dunia pendidikan sehingga sebagian besar terdistribusi dari kota kecil hingga kota-kota besar.

Sebagai guru yang sehari-hari mendidik anakanak sekolah dasar, Salamah mengaku harus ekstrasabar terhadap pola pikir anak. Bagi dia, tantangan saat ini adalah bagaimana mendidik karakter anak agar berdisiplin dan bertanggung jawab. Mendidik anak tingkat SD menurutnya tidaklah semudah yang dibayangkan, karena mereka usia membentuk diri. Apalagi tipikal anak didik sekarang ini sudah mafhum dengan gadget, sehingga harus diarahkan pada sesuatu yang positif. Di penghujung pembicarannya, Salamah berkeinginan mendidik anak-anak SD agar bisa menulis dan membuat buku. Paling tidak sudah dia awali dengan mencetak empat siswa SD di Wonosobo yaitu Everyl, Gadisa, Isye, dan Farsya yang telah menulis buku sendiri. Dia mendampingi anak didiknya agar melek literasi.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Wonosobo Sigit Sukarsana mengapresiasi atas prestasi guru Salamah dalam mendidik anak-anak di bidang menulis. Dia akan memberikan ruang seluas-luasnya agar karya yang ada terus dikembangkan kepada guru-guru lain di kota dingin ini.(Edy Purnomo-56)


Berita Terkait
Komentar