Berbaur Bersama bak Keluarga

SM/Eko Fataip  -  DAMPINGI ODHA : Sejumlah pengurus mendampingi anak-anak ODHA di Rumah Singgah Aira, Jalan Kaba Timur Nomor 14, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. (23)
SM/Eko Fataip - DAMPINGI ODHA : Sejumlah pengurus mendampingi anak-anak ODHA di Rumah Singgah Aira, Jalan Kaba Timur Nomor 14, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. (23)

ORANG dengan HIV/AIDS atau yang biasa disebut ODHA tak selalu harus mendapat perlakuan berbeda. Mereka layaknya orang pada umumnya, yang harus dihargai, diterima dan dipandang sama. Pemandangan itu terlihat di tempat singgah dan panti asuhan anak Rumah Aira.

Lokasinya berada di Jalan Kaba Timur Nomor 14, RT09 RW 13, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Di rumah ini, sejumlah ODHAditampung dan dirawat sementara. Ada empat anak yang terinfeksi HIV/AIDS tinggal di sana. Mereka dirawat layaknya anggota keluarga, termasuk segala kebutuhan hidupnya.

Pendiri Rumah Aira, Maria Magdalena mengatakan, keberadaan ODHAdi sana diterima begitu baik oleh warga sekitar. Mereka berbaur bersama tanpa adanya diskriminasi. ”Anak-anak di sini diterima dengan baik, tidak ada penolakan, karena sebelumnya kami melakukan sosialisasi terlebih dahulu.

Ada sukarelawan atau pendamping yang tulus merawat mereka tanpa bayaran,” kata Magdalena kepada Suara Merdeka, kemarin. Rumah Aira memiliki sekitar 10 pengurus, termasuk beberapa pendamping yang merawat keseharian mereka. Setiap hari, para pendamping bergantian menyempatkan diri untuk mengurus anak-anak.

Ditanggung Bersama

Menurut Anita, salah satu pendamping ODHA, empat anak yang tinggal di sana terdiri atas berbagai latar belakang. Paling kecil berusia sembilan bulan, dan paling besar berusia 14 tahun. ”Dua orang anak merupakan yatim piatu, dua lainnya adalah yatim. Mereka ada yang berasal dari Semarang, tetapi juga ada yang dari luar kota, seperti Kendal dan Pati,” ujarnya.

Setiap bulan, anak-anak ini harus rutin mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan. Ada yang periksa ke Puskesmas, ada pula yang di rumah sakit. Saban hari, mereka juga harus mengonsumsi obat agar kondisinya tidak semakin memburuk. ”Rata-rata yang tinggal di sini keluar-masuk.

Mereka juga masih dalam tahap pengobatan, sehingga setiap bulan harus kontrol untuk memperoleh tindakan medis,” kata Anita. Satu di antara yang tinggal di sana adalah Diki (14). Menurut keterangan Anita, dia mulai terinfeksi HIV/AIDS sejak enam tahun lalu, atau sekitar tahun 2012.

Saat itu, dia masih tinggal di tempat asalnya Pati. Awalnya, Diki terbaring sakit dan ada jamur di bagian mulutnya. Setelah melalui beberapa tindakan pemeriksaan, dia dinyatakan positif terjangkit HIV/AIDS.

Anita juga mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan mereka, bukan tanpa kendala. Salah satu kendalanya yakni beban biaya hidup yang harus ditanggung bersama. Selama ini, pihak yayasan masih menggantungkan uluran tangan dari dermawan.

”Kendalanya tentu pada biaya dan SDM, karena belum ada donatur tetap. Sementara ini bantuan datang dari teman-teman pengurus sendiri. Kami juga masih membutuhkan tenaga sukarelawan,” tuturnya. (Eko Fataip-23)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar