Ada Asa untuk Pengidap HIV/AIDS

SM/dok
SM/dok

Setiap tanggal 1 Desember, dunia memperingati Hari AIDS. Peringatan ini dimaksudkan untuk menyatukan orang-orang dari seluruh dunia guna meningkatkan kesadaran tentang HIV (Human Immunodeficiency Virus Infection) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Juga menunjukkan solidaritas internasional dalam menghadapi penyakit ini.

Meskipun banyak kemajuan dalam upaya penanganan, namun hingga kini belum ditemukan vaksin yang bisa mematikan virus HIV. ”Hari ini adalah kesempatan bagi mitra publik dan swasta untuk menyebarkan kesadaran tentang status pandemi dan mendorong kemajuan dalam pencegahan, dan perawatan HIV/AIDS di seluruh dunia,” tulis WHO dalam lamannya.

Sejumlah ilmuwan menyebut kali pertama pandemi AIDS muncul tahun 1920-an di Kota Kinshasa, Republik Demokratik Kongo. Pertumbuhan penduduk, seks, dan kemajuan transportasi, membuat penyakit yang bermula dari HIV ini menyebar secara global. Namun baru menjadi perhatian dunia pada awal 1980-an setelah diamati secara klinis di Amerika Serikat.

Kasus-kasus awalnya bermula dari sekelompok pengguna narkoba suntikan, serta pria homoseksual yang diketahui terinfeksi virus langka yang hanya menyerang orang dengan sistem kekebalan sangat lemah. Tahun 1985, publik AS diguncang oleh pengakuan dan kematian aktor ternama Rock Hudson karena AIDS.

Dia menjadi salah satu aktor papan atas pertama yang didiagnosis mengidap penyakit ini. Di Indonesia HIVkali pertama dilaporkan di Bali pada April 1987, yang menjangkiti warga negara Belanda. Sejak itu, kini hampir 75 juta orang terjangkit HIV. Lebih dari dua pertiga yang terjangkit berada di Afrika sub-Sahara.

Terapi ARV

Berbagai obat dan teknologi pengobatan HIV/AIDS diupayakan, namun belum ada yang benar-benar mematikan virus ini. Meski begitu ada jenis obat yang dapat memperlambat perkembangan virus. Jenis obat ini disebut antiretroviral (ARV). ARV bekerja dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri, dan mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4.

Beberapa jenis obat ARV, antara lain: Efavirenz, Etravirine, Nevirapine, Lamivudin, Zidovudin Selama mengonsumsi obat antiretroviral, dokter akan memonitor jumlah virus dan sel CD4 untuk menilai respons pasien terhadap pengobatan. Hitung sel CD4 akan dilakukan tiap 3-6 bulan. Sedangkan pemeriksaan HIV RNA dilakukan sejak awal pengobatan, dilanjutkan tiap 3-4 bulan selama masa pengobatan.

Dengan menjalani terapi ARV), orang yang terinfeksi virus HIV tetap bisa memiliki umur yang panjang, sehat dan produktif. Terapi ARV secara teratur sangat penting bagi orang dengan HIV positif, karena akan menekan jumlah virus HIVyang ada di tubuh sekaligus menjaga kekebalan tubuh (CD4 > 350).

Minum obat ARV bagi mereka yang HIV positif akan mencegah penularan pada orang lain, mencegah munculnya gejala AIDS, menjaga produktivitas dan meningkatkan kualitas hidup, kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. HM. Subuh, MPPM, dalam sambutannya pada puncak peringatan Hari AIDS Sedunia 2017 di Griya Agung Palembang.

Selama ini bahkan hingga saat ini, pemerintah tetap menjamin ketersediaan pengobatan ARV. Di tahun 2017, Kemenkes menganggarkan dana lebih kurang Rp 800 miliar agar masyarakat, khususnya orang dengan HIV-AIDS atau para ODHA, bisa mendapatkan dan memanfaatkannya secara gratis. (Wahyu Wijayanto-23)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar