Wisatawan Amerika Kagumi Batik Meteseh

Kunjungan Wisatawan Mancanegara

SM/Resla Aknaita Chak : BELAJAR MEMBATIK: Wisatawan Amerika belajar membatik di Desa Sumberejo, Meteseh, Tembalang, kemarin. (61)
SM/Resla Aknaita Chak : BELAJAR MEMBATIK: Wisatawan Amerika belajar membatik di Desa Sumberejo, Meteseh, Tembalang, kemarin. (61)

SEMARANG - Menggunakan kapal MS Amsterdam dan berlabuh di Pelabuhan Tanjung Emas, puluhan wisatawan mengunjungi tempat-tempat wisata di Kota Semarang.

Salah satu tempat yang menjadi destinasi wisata yakni Desa Sumberejo, Meteseh, Tembalang. Para wisatawan asing itu menyaksikan proses pembuatan batik. Ya, Kota Semarang tidak hanya identik dengan wisata Lawangsewu saja, tetapi kota atlas ini juga memiliki batik khas asli Semarangan yang menjadi daya tarik bagi wisatawan berkunjung.

Mereka menyaksikan proses pembuatan batik asli. Salah seorang wisatawan asal Florida, Amerika Serikat, Cudie Syfer mengatakan, sangat tertarik dengan kebudayaan serta kearifan lokal yang ada di Indonesia khususnya Pulau Jawa.

Menurutnya, Pulau Jawa memiliki kerajinan-kerajinan yang menjadi ciri khas dan identitas diri. ”Saya baru pertama kali datang ke Indonesia. Saya ke sini untuk melihat pembuatan batik, sebelumnya saya juga berkunjung ke Jerman hanya untuk melihat pembuatan mobil VW,” ujar Cudie, kemarin.

Wisatawan dari berbagai negara itu pun diajak mengetahui setiap proses pembuatan batik. Mulai dari penenunan kain, pemilihan bahan baku lilin, pencantingan, pengecatan dan perendaman, hingga menjadi kain batik lembaran. Cudie mengaku kagum dengan setiap proses pembuatan kain batik. Salah satunya dengan melihat para pekerja menenun kain yang memerlukan tenaga dan waktu ekstra untuk menghasilkan kain dengan kualitas super.

Adapun pencantingan batik yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran membuatnya tertarik ikut belajar membatik. ”Senang sekali bisa melihat pembuatan batik dari awal. Saya kagum dengan para pengrajin batik yang bekerja keras dan ulet untuk membuat kain batik berkualitas,” jelasnya.

Sejak 2010

Kepala Sanggar Batik Semarang 16, Suwardi Tatag Sepanto mengatakan, Jawa Tengah merupakan pusat batik terbesar di pulau Jawa. Berbeda dengan batik asal Pekalongan, Jogja, dan Solo yang memiliki ciri khas. Batik Semarangan juga memiliki produk batik yang menjadi khas Kota Atlas. ”Dengan adanya batik, kita mampu mengenalkan ciri khas kota Semarang kepada para Wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara melalui dengan menawarkan setiap proses pembuatan batik,” ujarnya.

Ditambahkan, Sanggar Batik Semarang 16 didirikan untuk mengenalkan kepada masyarakat dan wisatawan tentang proses pembuatan batik Semarang. Sanggar tersebut juga merupakan wadah bagi para wisatawan yang ingin belajar membatik. ”Kita juga menyediakan workshop bagi mereka yang ingin belajar membatik di sini,” paparnya.

Sanggar Batik Semarang 16 yang didirikan sejak tahun 2010 telah memproduksi 250 motif batik. Ratusan motif batik tersebut merupakan motif asli dari Kota Semarang yang diambil dari setiap kelurahan yang ada. Ciri khas motif batik tersebut dilihat dari letak geografis, sejarah, serta keunikan dari tiap kelurahan. Bahan yang digunakan untuk pewarna batik juga menggunakan bahan-bahan alami seperti dari kulit pohon tegeran, tingi, dan mengkudu. (res-61)


Berita Terkait
Loading...
Komentar