Tokoh Jateng Jadi Pahlawan Nasional

SM/Antara : GELAR PAHLAWAN: Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11).(24)
SM/Antara : GELAR PAHLAWAN: Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11).(24)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh pejuang, salah satunya Kasman Singodimedjo asal Purworejo, Jawa Tengah, Kamis (8/11).

Kasman merupakan salah satu tokoh yang meletakkan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kasman yang lahir di Purworejo pada 25 Februari 1904 dan wafat pada 25 Oktober 1982, itu merupakan salah satu tokoh nasional yang berjasa merumuskan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Semasa muda, Kasman aktif menjadi anggota organisasi Jong Islamieten Bond, salah satu peserta Kongres Pemuda pada 1928. Peran penting Kasman dalam perjuangan kemerdekaan juga tak lepas dari posisinya sebagai Komandan Peta (Pembela Tanah Air) Jakarta. Dialah yang bertugas mengamankan Sukarno-Hatta saat pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan RI.

Dalam buku Negara Paripurna yang ditulis Yudi Latif, Sukarno memasukkan Kasman sebagai Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 12 Agustus 1945. Dalam persiapan, Pancasila yang dikemukakan Sukarno pada 1 Juni 1945 juga disusun sehingga menjadi Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. PPKI bersidang pertama kali pada 18 Agustus 1945, setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Sukarno dan Hatta.

Saat itu, Piagam Jakarta sebagai Pembukaan UUD 1945 sudah disahkan. Karena itu, masih ada tujuh kata pada sila satu Pancasila yakni ”... dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya’. Ketujuh kata itu mengikuti kata Ketuhanan. Mohammad Hatta yang pada waktu itu mendekati tokoh-tokoh Islam agar mengganti tujuh kata tersebut menjadi Yang Maha Esa demi persatuan bangsa.

Saat itulah peran Kasman begitu besar dalam mendukung Bung Hatta. Dia meyakinkan golongan Islam, termasuk Ki Bagoes Hadikoesoemo bahwa persatuan lebih penting. Akhirnya tercapailah mufakat untuk menghapus 7 kata dalam Piagam Jakarta dan menggantinya jadi berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar NKRI. Setelah Indonesia merdeka, dengan bekal pendidikan hukum dari Recht Hoge School Jakarta, Kasman yang juga tokoh Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) itu meniti karier sebagai Jaksa Agung. Kasman diangkat menjadi Jaksa Agung pada 6 November 1945. Dia langsung mengeluarkan maklumat agar penegakan hukum dilakukan secara cepat. Dia menjadi Jaksa Agung hingga 1946.

Menteri Muda

Pengabdian Kasman terhadap bangsa, dilanjutkan dengan menjadi Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II. Selain itu, Kasman juga menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) cikal bakal DPR 1945- 1950. Jasa-jasa Kasman terutama sebagai salah satu tokoh peletak Indonesia sebagai negara kesatuan yang Bineka Tunggal Ika, membuat Presiden resmi memberikan gelar pahlawan nasional kepada dia dan lima tokoh lainnya.

Gelar bagi para tokoh itu diserahkan Jokowi kapada para ahli waris di Istana Negara. Gelar diberikan Jokowi sesuai Keppres No 123/TK/Tahun 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional bagi keenam tokoh itu tidak serta-merta, melainkan melalui riset Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) di Kementerian Sosial.

Selain Kasman, gelar juga diberikan kepada Abdurrahman Baswedan dari DI Yogyakarta, Ir H Pangeran Mohammad Noor dari Kalimantan Selatan, Agung Hajjah Andi Depu tokoh dari Sulawesi Barat, Depati Amir tokoh dari Bangka Belitung, dan Brigjen KH Syam’un dari Banten.

Para tokoh tersebut telah terbukti berjasa sangat besar. Salah satunya, Abdurrahman Baswedan. Kakek dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan itu menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). AR Baswedan juga salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure serta de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia dari Mesir. Sementara itu, Brigjen Syam’un merupakan cucu dari Kiai Wasid yang merupakan pemimpin perjuangan Geger Cilegon pada 1888 melawan Belanda. Lahir pada 1883 KH Syam’un, menjadi pelopor pengajaran Islam tradisional melalui Al- Khairiyah di Banten yang kemudian tersebar di Jawa hingga Sumatera.

Dalam perjuangannya, Syam’un pernah bergabung dengan Pembela Tanah Air atau Peta pada 1943-1945 dan terlibat dalam pembentukan pemerintah daerah. Dia kemudian diangkat menjadi Bupati Serang. (dtc,ant-41)


Berita Terkait
Komentar