Kecelakaan Bukan akibat Human Error

Bareskrim Periksa Kru Lion Air

SM/dok : Dedi Prasetyo
SM/dok : Dedi Prasetyo

JAKARTA- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengungkapkan kerusakan sensor angle of attac (AOA) Lion Air PK-LQP berdasar pemeriksaan flight data recorder (FDR) black box.

Kini, polisi memeriksa kru dan teknisi Lion Air PK-LQP Denpasar-Jakarta terkait kondisi nonteknis sehari sebelum pesawat jatuh di perairan Karawang, Senin (29/10). Penyelidikan ini untuk memastikan ada atau tidak faktor lain yang menyebabkan kecelakaan. Polisi juga mengecek kesehatan para kru pesawat yang bertugas dari Denpasar itu. Dalam penyelidikan itu, polisi belum menemukan unsur sabotase atau serangan terorisme. ”Sudah diperiksa di Denpasar, (penerbangan) dari Denpasar ke Jakarta. Nanti akan divalidkan dengan hasil KNKT,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jaksel, Kamis (8/11).

Tim Khusus Bareskrim itu ditugaskan untuk menyelidiki segi nonteknis. Karena itu, pemeriksaan terbatas seputar kronologi saat Lion Air PK-LQPterbang dari Denpasar ke Jakarta. ”Dari kesehatan, kemudian dari teknisi pesawat, latar belakangnya. Dari sekuriti bandara, kemudian bagian yang angkatangkat barang itu, sekuriti barang, yang seperti itu yang kita dalami,” sambung Dedi.

Dengan demikian, berdasar hasil pemeriksaan sementara KNKT tersebut, hal yang jelas telah ditemukan adalah kerusakan pada komponen pesawat, bukan human error atau kesalahan pilot/kopilot. Terlebih, telah terungkap alat penunjuk kecepatan Lion Air PK-LQPsudah bermasalah dalam empat penerbangan terakhir sebelum jatuh. ”Setelah dilakukan troubleshooting (pencarian sumber masalah secara sistematis) yang rusak adalah AOA,” kata Ketua KNKTSoerjanto Tjahjono, Rabu (7/11).

AOA itu untuk mengukur sudut pesawat terhadap aliran udara. Soerjanto mengatakan sensor AOAmenunjukkan perbedaan pada saat penerbangan dari Bali ke Jakarta. AOALion Air PK-LQPsebelah kiri berbeda 20 derajat dengan sebelah kanan. ”Pilot melakukan beberapa prosedur dan akhirnya dapat mengatasi masalah dan pesawat mendarat di Jakarta dengan selamat,” ujar Soerjanto.

Menurut Soerjanto, sensor AOA sudah diganti setelah pilot melaporkan ada kerusakan pada penunjuk kecepatan atau airspeed indicator. Dia menyebut sensor AOAdengan airspeed indicator merupakan satu bagian. Menyusul kecelakaan Boeing 737 MAX 8 Lion Air PK-LQP, Boeing dan otoritas penerbangan AS, Federal Aviation Administration (FAA) menerbitkan buletin keamanan untuk semua maskapai yang memakai pesawat sejenis. Rekomendasi keamanan ini bisa jadi indikasi kerusakan Lion Air PK-LQP, sebelum jatuh di perairan Tanjung Karawang. Buletin diterbitkan Boeing dan FAA, berdasar fakta awal yang ditemukan KNKTdalam penyelidikan.

Menurut KNKT, Lion Air JT610 mengalami pembacaan data AOAyang berubah-ubah (mengacau) sesaat sebelum jatuh. Dalam buletin TBC-19, 6 November 2018, Boeing menulis Uncommanded Nose Down Stabilizer Trim Due to Erroneous Angle of Attack (AOA) During Manual Flight Only atau ekanisme stabilizer trim yang membuat hidung pesawat turun sendiri, akibat pembacaan sensor angle of attack (AOA) yang kacau, hanya saat terbang manual.

Secara sederhana, AOAdibentuk dari naik-turunnya moncong pesawat dengan arah gerak pesawat. Saat fase mendarat misalnya, pesawat membutuhkan AOAtinggi, hidung naik ke atas sembari turun dari ketinggian. Sensor AOAsalah satunya digunakan untuk mencegah pesawat kehilangan daya angkat. Jika sensor AOAmembaca sudut terlalu besar, komputer Boeing 737 MAX 8 akan memerintahkan stabilizer trim berputar. Dengan demikian, hidung pesawat menjadi turun mengurangi AOAsehingga airspeed bertambah dan pesawat tidak kehilangan daya angkat.

Stabilizer trim bisa digunakan untuk membuat horizontal stabilizer pesawat (sayap kecil di ekor) berputar. Arah perputaran horizontal stabilizer ini (naik atau turun) bisa mengubah hidung pesawat naik atau turun. Menurut temuan awal KNKT, berdasar catatan kerusakan 737 MAX 8 PK-LQPsebelum-sebelumnya, sensor yang tidak bekerja sebagaimana mestinya ini menyebabkan sejumlah indikator kerusakan pesawat di kokpit menyala. Jenis indikator kerusakan yang bisa menyala, menurut buletin dari Boeing, antara lain indikator kecepatan yang berbeda-beda (IAS DISAGREE), ketinggian yang berbeda (ALTDISAGREE), dan tekanan diferensial hidrolik yang berlebihan di komputer elevator (FEELDIFF PRESS). Karena temuan itu, Boeing merilis buletin operasi manual 737 MAX 8, tentang cara mengatasi situasi jika hidung pesawat tiba-tiba turun dengan sendiri karena kesalahan data dari sensor AOA.

Menurut Boeing, kesalahan input data dari sensor AOAbisa membuat sistem komputer pesawat memutar horizontal stabilizer secara perlahan selama 10 detik, sehingga hidung pesawat turun. Pergerakan trim stabilizer yang membuat hidung pesawat turun itu bisa dihentikan dan dibalik arahnya, menggunakan tombol stabilizer trim elektrik di alat kemudi pesawat. Kejadian trim stabilizer berputar pelan 10 detik yang membuat hidung pesawat turun akan berulang dalam 5 detik setelah tombol stabilizer trim elektrik dilepas. Siklus hidung pesawat turun tanpa diperintah ini akan terus berulang, kecuali sistem stabilizer trim dinonaktifkan lewat kedua switch STAB TRIM CUTOUTdi pedestal pesawat. Kru pesawat yang menerbangkan Boeing 737 MAX diminta melakukan non-normal checklist (NNC) tentang runaway stabilizer dan memastikan bahwa switch STAB TRIM CUTOUT disetel pada posisi CUTOUTdan tetap dalam kondisi itu selama penerbangan.

Sementara itu, beredar percakapan antara pilot Kapten Bhavye Suneja dan kopilot Harvino dengan petugas pengatur lalu lintas, atau ATC Bandara Soekarno- Hatta, menjelang Lion Air PK-LQP jatuh. Rekaman tampak beredar seperti yang disampaikan tayangan berita Redaksi Sore Trans7, Selasa (6/11).

Dijelaskan dalam tayangan tersebut, pilot dan kopilot menginformasikan ada permasalah dengan kendali pesawat dan meminta kembali ke Bandara Soekarno- Hatta. Meski demikian, percakapan itu belum bisa menggambarkan kerusakan secara utuh. Karena itu, Basarnas meneruskan pencarian CVR black box dengan mengerahkan lima kapal, yakni KN Basudewa, KN Sadewa, KN Drupada, KN Baruna Jaya I, serta KP Parikesit. Selain itu, tim penyelam tetap diterjunkan untuk pencarian CVR dan korban. Di sisi lain, jumlah korban Lion Air yang berhasil teridentifikasi oleh tim Disaster Victim Investigation (DVI) Polri kini mencapai 71 orang, setelah kembali teridentifikasi 20 jenazah. 20 korban yang berhasil teridentifikasi tersebut hasil dari pemeriksaan terhadap 186 kantung jenazah yang tiba dan diperiksa di Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto, sejak Senin (29/10) dengan mengambil 609 sampel DNApostmortem dan 256 sampel antemortem dengan terverifikasi 189 sampel dari pihak keluarga.(ant,dtc,bbc ind-41)


Berita Terkait
Komentar