Ganjar : PLTU Batang Ramah Lingkungan

Kunjungi PLTU Jepang

YOKOHAMA- PLTU Batang menjadi kontroversi karena pembakaran batu bara dikhawatirkan merusak lingkungan. Namun teknologi Ultra Super Critical (USC) yang dikembangkan J-Power akan mengurangi emisi karbon hingga 90 persen.

Kecanggihan teknologi USC disaksikan oleh Gubernur Ganjar Pranowo saat mengunjungi PLTU Isogo yang juga menggunakan batu bara milik J-Power di Yokohama, Jepang, Kamis (8/11).

Dengan teknologi USC, PLTU itu berhasil membuat cerobong pembakaran tanpa asap dan mengurangi emisi karbon hingga 90 persen. ”Tadi di jalan dari jauh saya tidak lihat asap, hanya lampu-lampu berkedip. Sekarang dari dekat pun sama, udaranya bersih sekali. Cerobong setinggi 200 meter itu tidak mengeluarkan asap. Ini penting untuk menjadi gambaran bagaimana pengelolaan PLTU Batang yang ramah lingkungan,” ujar Ganjar.

PLTU Isogo berjarak enam kilometer dari permukiman padat penduduk di Yokohama. Kota ini terbesar kedua di Jepang dengan populasi 3,7 juta penduduk. Tidak ada polusi udara karena cerobongnya tidak mengeluarkan asap. Udara di area PLTU dan sekitarnya tetap segar, penuh dengan taman hijau dan pepohonan yang tertata rapi. Selama kunjungan, Ganjar didampingi Presiden Direktur J-Power Yasuhiro Koide, Direktur PLTU Isogo Yamamoto, dan Direktur External Relations Bhimasena Power Wasistho Adjinugroho. J-Power merupakan sponsor PT Bhimasena Power Indonesia bersama Adaro Power dan ITOCHU Corporation, yang sedang membangun dan mengelola PLTU Batang 2x1000 MW.

Batu Bara

Yamamoto mengatakan, PLTU Batang akan menggunakan teknologi USC yang sama dengan PLTU Isogo. ”PLTU kami memiliki efisiensi paling tinggi di Jepang. Meski menggunakan batu bara tapi konsentrasi emisinya paling rendah,” ungkapnya.

Awalnya PLTU yang dibangun 1960 ini menggunakan FGD (Flue- Gas Desulfurization). Sejak 1998, PLTU Isogo mulai menggunakan batu bara dengan kapasitas 2x600 MW. Teknologi baru berhasil memangkas 90% emisi.

Menurut Yamamoto, seperti halnya Amerika Serikat, Tiongkok dan India, penerapan tingkat kinerja lingkungan tertinggi dilakukan di pembangkit listrik Jepang, termasuk PLTU Isogo.

Dapat diperkirakan, mereka dapat mengurangi emisi CO2 hingga ± 1,3 miliar ton per tahun atau sama dengan lima persen dari total emisi CO2 dunia. Direktur External Relations Bhimasena Power Wasistho Adjinugroho menambahkan, saat ini PLTU Batang telah menyelesaikan pembebasan lahan 100 persen dan pembangunan konstruksi mencapai 57,2%.

Pembangkit yang menempati lahan 226 hektare dengan nilai investasi 4,2 miliar dolar AS itu ditarget dapat beroperasi penuh pada 2020. ”Untuk pembangunan konstruksi saat ini mempekerjakan 8.963 orang, 96 persen lokal, mayoritas warga Batang,” katanya. (K18-19)


Berita Terkait
Komentar