WNI IS Harus Jadi Perhatian

JAKARTA - Kabar ratusan anggota Islamic State merupakan WNI, harus menjadi perhatian kita. ”Soal ancaman radikalisme itu adalah nyata,” tandas anggota Komisi I DPR dari PPPArwani Tomafi di Jakarta, Kamis (8/11).

Sejumlah warga Indonesia dikabarkan masih bergabung dengan kelompok teroris Negara Islam Asia Tenggara (ISEA) di Mindanao, selatan Filipina. Hal itu terjadi meski angkatan bersenjata Filipina memperketat pengawasan setelah konflik di Kota Marawi tahun lalu.

Menurut pakar terorisme Filipina, Prof Rommel Banlaoi, para petempur asing itu bergabung dengan ISEA dan kelompok Abu Sayyaf yang bersembunyi di selatan Filipina. Mereka yang mendominasi berasal dari Indonesia dan Malaysia. Sisanya dari Arab Saudi, Turki, Maroko, Spanyol, Prancis, Tunisia, Irak, Somalia, Mesir, Yaman, Libya, Pakistan, Tionghoa, dan Bangladesh. ”Mereka ke Mindanao untuk bergabung dengan IS dan kelompok-kelompok yang berhubungan. Ada 60 orang dari mereka berhasil diketahui, 30 lainnya tidak terlacak,” kata Banlaoi, sebagaimana dilansir The Defense Post, Selasa (6/11).

Banlaoi mengatakan, sebagian dari petempur asing itu dicegat di bandara dan dideportasi. Lainnya lolos dan pergi ke Mindanao. Untuk mengelabui aparat, mereka menyamar menjadi pengusaha, pelajar, dan lain-lain.

Menurut Wakil Kepala Staf Intelijen Angkatan Bersenjata Filipina Mayjen Fernando Trinidad, para petempur asing itu kebanyakan diberdayakan untuk melatih para calon teroris. Sebab, mereka dianggap berpengalaman di medan perang, seperti Afghanistan, Irak, dan Suriah.

Trinidad menyatakan, agen telik sandi berhasil mendeteksi 15 militan asal Indonesia dan Malaysia pada November tahun lalu, kemudian menuju Provinsi Sarangani yang menjadi basis kelompok Maute. Sementara 16 warga Indonesia lainnya dikabarkan menjadi pelatih ISEAdan Abu Sayyaf di Basilan dan Maute di Provinsi Lanao del Sur. Peneliti terorisme dari Universitas Amerika, Munira Mustaffa menyatakan Mindanao masih memiliki daya tarik bagi para petempur asing karena termotivasi untuk melakukan itu.

Di samping itu, mereka bangga dan ingin menjadi bagian kelompok bersenjata. ”Pertempuran sampai hari ini di Mindanao membuat kesan itu adalah medan perang yang patut diperjuangkan, ketimbang berjuang di perkotaan Indonesia dan Malaysia,” kata Mustaffa. (J13-41)


Berita Terkait
Komentar