Tajuk Rencana

Siaga dan Siap Hadapi Banjir

Siaga, itulah yang harus dilakukan dengan semakin meningkatnya curah hujan belakangan ini. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) Rakyat Basuki Hadimulyo bahkan sudah menginstruksikan seluruh kepala Balai Besar Wilayah Sungai dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional untuk selalu siaga di wilayah kerjanya.

Apalagi jelas-jelas hujan lebat telah mengakibatkan banjir di sejumlah daerah, terutama di wilayah barat Indonesia, antara lain Aceh, Jambi, Padang, dan Tasikmalaya. Kesiagaan dan kesiapan menjadi penting untuk mengantisipasi dan merespons risiko banjir. Personel dan peralatan yang siap sangat diperlukan supaya penanganan darurat ketika terjadi bencana dapat dilakukan secara cepat.

Selain itu juga pembangunan sarana pengendalian banjir menjadi keharusan. PUPR membangun 65 bendungan. Sayangnya masih banyak daerah aliran sungai (DAS) yang belum mempunyai bendungan, sehingga masih terdapat potensi dan risiko banjir ketika curah hujan tinggi. Dampak lain banjir adalah jalan menjadi cepat berlubang, berpotensi tanah longsor, hingga jalan atau jembatan putus. Oleh karena itu sejak dini instansi yang berwenang perlu menyiagakan personel dan alat berat di lapangan, seperti buldoser, ekskavator, dan juga material. Satgas banjir juga harus disiagakan selama 24 jam, untuk memantau titik-titik rawan banjir seperti telah dipetakan.

Dengan demikian ketika banjir benar terjadi, tim bisa cepat bergerak menanggulangi. Berbarengan dengan hujan lebat terus menerus ini juga muncul petir dan angin kencang. Hal ini berpeluang terjadi di Demak, Blora, Grobogan, Sukoharjo, Magelang dan sekitarnya. Namun juga bisa meluas ke Semarang, Kendal, Batang, maupun Pekalongan. Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah ancaman gelombang tinggi. Potensi terjadinya di wilayah perairan selatan dari Cilacap, Kebumen, Purworejo hingga Yogyakarta. Nelayan diminta untuk mengurangi aktivitasnya.

Berkaitan dengan hujan lebat dan banjir, Semarang saat ini sedang mengerjakan berbagai proyek penanggulangan banjir dan diharapkan rampung akhir 2018. Banyak saluran di tepi jalan raya yang diperbaiki, dan sejumlah sungai juga dinormalisasi. Di antaranya adalah Banjir Kanal Timur, Kali Tenggang, dan Kali Sringin. Perbaikan saluran dimaksudkan agar mengurangi genangan di jalan-jalan utama, sehingga bisa mengurangi kemacetan. Normalisasi agar permukiman bebas dari limpahan sungai. Menghadapi potensi ancaman cuaca ini, masyarakat diminta untuk mewaspadai peningkatan potensi hujan disertai angin kencang dan petir di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah.

Di masa peralihan memasuki masa hujan, kesiagaan perlu ditingkatkan. Bagi kawasankawasan yang memang sering dilanda banjir perlu mempersiapkan berbagai prasarana, antara lain karung pasir, penahan air atau bronjong, pompa air, dan alat lain yang mendukung penanggulangan banjir.


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar