FIQIH WANITA

Kepemimpinan Ratu Balqis Membawa Kemakmuran

SM/Dok
SM/Dok

DI SAMPING memberi kemampuan memimpin bagi kaum laki-laki, Allah juga menganugerahkannya kepada perempuan. Allah memberikan contoh pemerintahan Ratu Balqis sebagai pemerintahan yang berhasil membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

Sebagai penguasa Saba (diperkirakan kini merupakan wilayah Eritrea, Ethiopia atau Yaman), kerajaannya dikenal sebagai negeri yang subur dan hasil buminya melimpah ruah. Kesuburan tanah tersebut antara lain didukung adanya bendungan besar untuk menampung air hujan. Pada musim kemarau digunakan untuk memenuhi kebutuhan air penduduk, dan dapat mengaliri lahan pertanian atau perkebunan.

Hasil bumi yang melimpah, mendorong kegiatan perdagangan menjadi ramai. Jalur perniagaan pedagang Saba pada masa itu sudah sampai hingga India dan Tiongkok. Kekayaan dan kebesaran kerajaan Saba, tercermin pula pada singgasana Ratu Balqis yang besar dan mewah, terbuat dari emas bertatahkan permata.

Kemakmuran di Kerajaan Saba waktu itu, tidak dapat dilepaskan dari gaya pemerintahan demokratis Ratu Balqis. Sebagian besar raja pada masa itu menjalankan pemerintahan secara otoriter. Berbeda dengan Ratu Balqis yang memberikan kesempatan bagi bawahannya untuk memberi masukan dan ikut terlibat dalam pembahasan masalah yang dihadapi kerajaan.

Guna mendorong para pembesar kerajaan berani mengemukakan pendapatnya, maka Ratu Balqis menegaskan bahwa keputusan tidak akan diambil, tanpa musyawarah dengan para pembesar kerajaan. Dengan penjelasan ini, maka para pembesar kerajaan berani mengemukakan pemikiran maupun sikapnya. Terciptanya komunikasi dua arah ini, menyebabkan para pembesar kerajaan mengetahui masalah yang dihadapi Ratu Balqis atau negeri mereka, sehingga berusaha ikut mencari jalan keluar. Dengan bimbingan Ratu Balqis, musyawarah menjadi tradisi yang hidup di tengah masyarakat Saba pada masa itu. Ratu Balqis juga mendelegasikan tugas untuk menanamkan kecintaan bermusyawarah di kalangan rakyatnya, kepada anggota Majelis Musyawarah Kerajaan.

Majelis ini beranggotakan 312 orang, dan setiap orang mempunyai anggota 10.000 orang (riwayat dari Qatadah). Melalui budaya musyawarah ini, kehidupan masyarakat menjadi tenang, dan kemakmuran dapat diwujudkan.

Ratu Balqis juga memberikan contoh untuk memilih jalan damai ketimbang perang, manakala persoalan masih bisa diselesaikan melalui dialog. Karena perang akan membuat pihak yang kalah menjadi terhina. Harta benda akan dirampas oleh pihak yang menang, sementara rakyat yang kalah akan ditawan dan dijadikan budak. Oleh karena itu, meskipun kerajaan Saba mempunyai tentara yang banyak dan kuat, namun Ratu Balqis tidak mengutamakan kekuatan militer sebagai jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

Keselamatan rakyat lebih diutamakan. Balqis memilih strategi damai untuk melindungi rakyatnya. Sampai sekarang, gaya kepemimpinan demokratis masih sangat diperlukan, baik di lingkup rumah tangga maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Karena sebagian besar kasus kekerasan dalam rumah tangga maupun di masyarakat, banyak yang disebabkan gaya kepemimpinan otoriter yang mengabaikan dialog dalam menyelesaikan masalah. (Hj Sri Suhandjati, Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan,Keluarga dan Remaja MUI Jawa Tengah, Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam UIN Walisongo Semarang-54)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar