Beramar Makruf dengan Kearifan Lokal

SM/Antara : PANJATKAN DOA: Warga memanjatkan doa dalam tradisi Saparan di kawasan lereng Gunung Andong Dusun Mantran Wetan, Giri Rejo, Ngablak, Magelang, Oktober lalu. Setiap bulan Sapar penanggalan Jawa, warga setempat melaksanakan tradisi merti dusun dengan mengirab Gunungan Jongko dan kenduri nasi tumpeng serta ingkung ayam sebagai wujud syukur kepada Tuhan. (54)
SM/Antara : PANJATKAN DOA: Warga memanjatkan doa dalam tradisi Saparan di kawasan lereng Gunung Andong Dusun Mantran Wetan, Giri Rejo, Ngablak, Magelang, Oktober lalu. Setiap bulan Sapar penanggalan Jawa, warga setempat melaksanakan tradisi merti dusun dengan mengirab Gunungan Jongko dan kenduri nasi tumpeng serta ingkung ayam sebagai wujud syukur kepada Tuhan. (54)

‘’Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.’’(QS Ali Imran / 3:104)

AMAR makruf nahi mungkar, menyuruh berbuat baik dan mencegah kemungkaran, merupakan salah satu konsep penting dalam Alquran. Dalam ayat lain Alquran menyatakan amar makruf nahi mungkar sebagai indikator utama umat yang baik, selain indikator lain yaitu iman kepada Allah (QS Ali Imran / 3:110 ).

Karena sedemikian pentingnya, bahkan mazhab Muktazilah menjadikan amar makruf nahi mungkar sebagai rukun iman. Pada mazhab lain seperti Sunni, amar makruf nahi mungkar menjadi ajaran Islam yang status hukumnya merentang dari wajib hingga haram, ditentukan oleh kondisi-kondisi subjektif maupun objektif yang melingkupinya. Al-Mawardi misalnya, menetapkan amar makruf nahi mungkar merupakan kewajiban bagi mereka yang ditunjuk oleh negara untuk melaksanakan.

Sementara kitab Al-Mausuíah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah( 17/230) terbitan Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Kuwait menyatakan amar makruf nahi mungkar bisa berubah menjadi haram karena beberapa alasan. Pertama, amar makruf nahi mungkar oleh orang yang bodoh yaitu orang yang tidak mengetahui dan membedakan hakikat al-ma’ruif dan al-munkar. Kedua, apabila pelaksanakaannya justru menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. Ketiga apabila aktifitas amar makruf nahi mungkar itu berkonsekuensi pada timbulnya bahaya terhadap jiwa dan kehormatan selain pelakunya seperti keluarga dan tetangganya. Untuk melaksanakan fungsi amar makruf nahi mungkar dalam khazanah politik Islam dikenal institusi hisbah. Institusi untuk memastikan stabilitas internal masyarakat muslim dan menghindari pelanggaranpelanggaran nilai-nilai agama serta kemanusiaan. Untuk menjalankan fungsi semacam itu tentu mengharuskan syarat-syarat dan perangkat tertentu yang harus dipenuhi.

Hanya mereka yang memenuhi syarat itulah yang bisa melakukan fungsi hisbah. Inilah alasan yang bisa dipahami dari Alquran dalam Surat Ali Imran. Amar makruf nahi mungkar menjadi alasan aktivitas gerakan-gerakan Islam yang biasanya berkelindan dengan konsep lain seperti jihad. Sejauh ini telah begitu jelas status hukum melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Namun demikian masalah subtansial yang harus dikaji dan dielaborasi lebih lanjut adalah mengenai apa yang dimaksud dengan al-maruf yang harus ditegakkan, dan apa yang dimaksud al-munkaryang harus dicegah?

Kejelasan konsep ini penting mengingat dewasa ini amar makruf nahi mungkar menjadi alasan aktivitas gerakan- gerakan Islam yang biasanya berkelindan dengan konsep lain seperti jihad dengan menggunakan kekerasan. Sesungguhnya kita sulit menemukan landasan mengenai diperbolehkannya kekerasan untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Namun dalam kenyataannya kita banyak menemukan tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama ajaran mulia tersebut.

Dalam sejarah Islam klasik, kita mengenal golongan Khawarij yang memiliki semangat keagamaaan tinggi, namun dengan pemahaman yang sempit sehingga mudah mempraktikkan kekerasan bahkan pembunuhan atas nama amar makruf nahi mungkar dan penegakkan hukum Allah.

Nilai Universal

Di zaman kita sekarang ini hal yang sama juga terjadi. Berbagai aksi kekerasan yang dilancarkan oleh sebagian umat Islam dilakukan dengan dalih menegakkan kebenaran dan memberantas kemungkaran. Apabila kita merujuk kepada basis normatif ajaran amar makruf nahi mungkar sebagaimana dalam ayat yang telah diungkapkan di muka, sebenarnya penggunaan kekerasan dalam kerangka amar makruf nahi mungkar tidak perlu terjadi. Surat Ali Imran ayat 104 secara gamblang sudah menekan agar ada sebagian umat mengajak kepada al-khair dan memerintah kepada almaírufdan juga melarang al-munkar.

Menurut Muhammad Quraish Shihab (2009) alkhair berarti kebajikan yaitu nilai universal yang diajarkan oleh Alquran dan sunah. Al-khair menurut Rasulullah sebagaimana diungkapkan oleh Ibn Katsir adalah ‘’mengikuti Alquran dan sunahku’’, (ittiba al- Qurían wasunnati). Sedangkan al-maíruf adalah sesuatu yang baik menurut pandangan umum satu masyarakat selama sejalan dengan al-khair.

Adapun al-munkar adalah suatu yang dinilai buruk oleh satu masyarakat serta bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi. Dalam pengertian semacam itu maka ada dua hal penting yang perlu digarisbawahi mengenai ajaran amar makruf nahi mungkar ini. Pertama, mengajarkan nilainilai Ilahi tidak boleh dilakukan melalui pemaksaan, apalagi menggunakan kekerasan. Sebaliknya penanaman nilai Ilahi itu harus disampaikan secara persuasif dalam bentuk ajakan yang baik. ‘’Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijaksana, nasihat (yang menyentuh hati) serta berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang lebih baik (QS an-Nahl / 16:125). Kedua, hal yang perlu digarisbawahi adalah konsep al-maíruf, yaitu kesepakatan umum masyarakat mengenai sesuatu yang baik yang harus diperintahkan. Adapun al-munkarmerupakan kesepakatan umum masyarakat mengenai sesuatu yang buruk yang harus dicegah. Konsep al-ma’ruf semacam ini tentu berimplikasi pada keharusan masyarakat muslim untuk menyadari dan menerima kemungkinan berbagai perbedaan kesepakatan mengenai al-maíruf ini.

Dengan konsep almaíruf, Alquran membuka kemungkinan yang sangat lebar bagi diterimanya perubahan nilai-nilai positif akibat perubahan masyarakat. Dengan konsep al-maírufpula, Alquran juga menerima tradisi dan adat kebiasaan masyarakat (uruf) yang selaras dengan nilai universal Islam sebagai kenyataan yang bisa diterima. Konsep al-maírufdan al-munkarsemacam inilah yang tampaknya menjadi landasan dakwah para penyebar Islam di Indonesia di masa lalu.

Keberhasilan Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam di Nusantara di antaranya karena caranya yang respek terhadap kebudayaan setempat. Wallahu aílam bishshawab. (HM Mukhsin Jamil, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Firdaus Semarang-54)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar