Kawasan Gunung Tidar Butuh Lahan Parkir

Upaya Pengeprasan Ditentang Dewan

SM/Asef F Amani : DIKOSONGKAN: Kawasan Blok G Rejomulyo sudah dikosongkan sebagai awal proses pengeprasan lahan Gunung Tidar guna perluasan area parkir dan pembangunan pusat penjualan UMKM.(33)
SM/Asef F Amani : DIKOSONGKAN: Kawasan Blok G Rejomulyo sudah dikosongkan sebagai awal proses pengeprasan lahan Gunung Tidar guna perluasan area parkir dan pembangunan pusat penjualan UMKM.(33)

MAGELANG- Keberadaan tempat parkir yang memadai dinilai sangat dibutuhkan di kawasan wisata Gunung Tidar Kota Magelang. Terutama di hari libur akhir pekan dan waktu-waktu tertentu, seperti bulan Sura yang banyak berdatangan wisatawan untuk ziarah.

Kepala UPT Gunung Tidar Kota Magelang, Widodo mengatakan, tidak dipungkiri keberadaan Gunung Tidar menjadi magnet wisatawan untuk datang ke Kota Sejuta Bunga. Khususnya para peziarah yang mengunjungi Makam Kiai Syaikh Subakir dan Eyang Ismoyo Jati. "Para peziarah ini biasanya datang rombongan satu sampai dua bus. Kalau akhir pekan atau bulan-bulan tertentu, bisa dilihat banyak bus membawa rombongan peziarah ke Gunung Tidar,” ujarnya di kantornya, Kamis (8/11).

Dia menuturkan, bus-bus yang mengantar peziarah ini kemudian terparkir di area eks terminal lama atau kompleks Pertokoan Rejomulyo. Karena banyaknya bus yang masuk, kawasan ini pun tak cukup lagi menampung bus-bus besar, sehingga perlu ada solusi. “Salah satunya memperluas area eks-terminal itu dengan mengepras Gunung Tidar sisi selatan (Blok G Rejomulyo). Tujuan awalnya untuk memperluas area parkir, sehingga pengunjung merasa lebih nyaman,” katanya.

Kalau sekarang muncul pro dan kontra, bahkan pertentangan dari Komisi C DPRD Kota Magelang, Widodo menilai, hal itu merupakan hal wajar. Dia pun mengaku, tidak terlalu memusingkan pro dan kontra tersebut, karena kebijakan nantinya ada di pimpinan. “Bagi saya sebagai pengelola, perluasan tempat parkir dengan mengepras Gunung Tidar atau mencari tempat lain tidak menjadi masalah. Sebab yang kami inginkan tempat parkir memadai, sehingga wisatawan merasa nyaman,” jelasnya.

Jemput Pengunjung

Dia menyebutkan, sebelum muncul rencana pengeprasan Gunung Tidar sekitar satu hektare ini, ada beberapa opsi yang coba ditawarkan. Seperti bus wisatawan parkir di halaman Magelang Theatre (MT) Alun-alun Timur dan pengunjung dijemput menggunakan mobil shuttlemenuju Gunung Tidar. “Opsi lain parkir di Terminal Tidar dengan sistem dijemput mobil shuttle juga, tapi keduanya dinilai kurang baik.

Muncul opsi lagi parkir di kawasan Lembah Tidar yang sekarang menjadi subterminal dan pusat kuliner, tapi ditolak karena untuk menuju ke sana bus susah bermanuver,” paparnya.

Seperti diketahui, rencana pengeprasan sebagian lahan di Gunung Tidar ini mendapat penolakan dari kalangan anggota Komisi C DPRD Kota Magelang. Seperti diungkapkan Muh Haryadi, pengeprasan tersebut akan menghilangkan nilai sejarah dan budaya kawasan gunung ini. “Dulunya kawasan ini secara keseluruhan berbentuk elips (bulat telur-Red). Tapi, kemudian karena ada pembangunan kompleks Pertokoan Rejomulyo yang mengepras lahan sisi timur laut, maka tidak lagi berbentuk elips. Sekarang kok malah mau dikepras lagi, maka jelas ahistoris dan tidak berbudaya,” terangnya.

Dia pun melihat, kebutuhan parkir dan kios di area yang akan dikepras ini belum hal yang krusial. Justru, yang menurutnya lebih krusial adalah lahan Gunung Tidar tetap dipertahankan seluas ini demi sejarah dan budaya. “Kalau memang mau menata parkir, ya jangan mengepras lahan. Cari saja lahan yang lain. Apalagi, secara lingkungan banyak pohon besar yang berfungsi sebagai paru-paru kota dan penahan longsor,” ungkapnya. (H88-33)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar