Lulusan Teknik Butuh Sertifikat Insinyur

SEMARANG -Era milenial yang ditunjang dengan kehadiran teknologi digital menjadikan kompetensi seseorang kini ditandai dengan keharusan memegang sertifikat khusus. Sertifikat menjadi penentu karena di era global hampir semua profesi terhubung secara internasional. ”Misalnya ketika seorang lulusan teknik dihadapkan pada pekerjaan konstruksi membangun gedung bertingkat atau properti lain.

Pihak pemimpin proyek pasti menanyakan keahlian dan kompetensi tim. Apalagi kalau sampai ada investor atau konsorsium asing, yang ditanyakan pasti sertifikat atau lisensi,” urai Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jateng Wisnu Suharto di Fakultas Teknik Unimus, Selasa (30/10).

Dia berbicara di hadapan mahasiswa dan dosen dalam kuliah umum bertajuk peran strategis insinyur menghadapi globalisasi dan era revolusi industri digital. Forum itu dibuka Dekan Dr RM Bagus Irawan dengan moderator Kaprodi Teknik Mesin Unimus Dr Purnomo.

Alumnus UGM yang mengenyam pendidikan lanjutan di Inggris dan Amerika Serikat itu menambahkan, sertifikat bersifat wajib. Selain ijazah dan gelar resmi sarjana teknik dari kampus, profesi ini kini dilengkapi gelar tambahan untuk mereka yang telah memegang sertifikat keahlian.

Standar Internasional

”Namanya yakni insinyur mulai dari muda, madya, hingga utama. Untuk bisa mendapatkannya juga harus melalui uji kompetensi,” imbuh dia.

Profesi ini memang membutuhkan standar untuk mengukur kinerja dan kompetensi anggota. Pada akhirnya kewajiban sarjana teknik mengantongi sertifikasi insinyur adalah kebutuhan. Bagus Irawan menambahkan di era serbacanggih ini lulusan teknik memang butuh memperkuat keahlian. Sebab, zaman sudah jauh berubah yang ditandai kehadiran aplikasi robotik, kecerdasan buatan, otomatisasi program digital hingga teknologi data.

Menurut alumnus Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Undip tersebut, mahasiswa teknik wajib belajar tanpa henti dan menambah cakrawala pengetahuan. (H41-31)


Loading...
Komentar