Revolusi Mental Berbasis Budaya

SOLO- Pendidikan karakter terhadap anak dalam mendukung revolusi mental berbasis budaya lokal, dapat ditunjukkan melalui pembiasaan bahasa daerah (bahasa ibu-Red). Di Denpasar Bali, internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter diterapkan pada individu, keluarga, lembaga sosial melalui forum kreativitas anak.

Demikian pula di Solo dan Jakarta Barat yang mempunyai visi sama, pendidikan yang baik memiliki keahlian dan keterampilan, menguasai teknologi, pekerja keras, serta etos kemajuan. Hal itu dikatakan Dr Siti Supeni, ketua tim peneliti pendidikan karakter di Denpasar, Bali, Jakarta Barat, dan Solo dari Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo.

Sebagai kota layak anak (KLA), lanjut dia, ada kesamaan dalam mewujudkan revolusi mental, membangun integritas sikap jujur, dapat dipercaya, kerja keras, bertanggung jawab, optimis, produktif, inovatif, berdaya saing, dan bekerja sama.

Perilaku yang dikembangkan dalam etika sopan santun dan berbudaya disesuaikan budaya asli. Sekolah ramah anak bidang seni dan budaya melalui simbol seni budaya lokal, sopan santun, ramah, beretika, mendengarkan lagu daerah telah memberi kebebasan berekspresi dalam mengembangkan potensi bakat dan minat. Di Bali dan Solo memiliki persentase berimbang, sedangkan di Jakarta Barat agak kurang diperhatikan, karena kota metropolitan yang terbawa pada kehidupan global. ‘’Itu kesimpulan dari penelitian yang kita lakukan di tiga kota, Solo, Denpasar, dan Jakarta Barat,’’kata Siti Supeni sebagai ketua tim peneliti, kemarin.

Penelitian dilakukan beserta dua pengajar Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo lainnya, Dr Dian Esti Nurati dan Feri Faila Sufa MPd. Lebih lanjut Supeni mengatakan, membangun karakter anak sebagai salah satu perwujudan kota layak anak melalui inovasi dan kreativitas budaya lokal dan mengandung nilai-nilai luhur kini sudah mulai ditinggalkan, dengan hadirnya gadget.

Identitas Kebudayaan

Sebagai kota yang memiliki keanekaragaman budaya, kata dia, berbagai kota kini tengah berusaha mengenalkan kembali identitas kebudayaan asli. Seperti wayang, gamelan, dan seni tari tradisional, pakaian adat, bahasa daerah, yang akan terus dibudidayakan dan sudah dikenal pada tingkat nasional bahkan internasional sebagai aset pariwisata dan budaya yang mampu menarik para wisatawan mancanegara.

Lahirnya kota layak anak di Solo yang diinisiasi sejak 2003, dengan terlaksananya Gerakan Jam Wajib Belajar bagi anak-anak di 2006 mejadi pilot project pengembangan KLAoleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), bekerja sama dengan UNICEF. Dan untuk pengembangan dituangkan dalam rencana aksi kota.

Pilot project itu diikuti berbagai daerah. Namun dalam perkembangannya, tergantung kebijakan masingmasing daerah. Beragam permasalahan anak, tingkat kriminalitas pada anak seperti trafficking, kekerasan anak, putus sekolah, anak terlantar, pekerja anak juga menjadi soal. Menurut dia, jika faktor pendukung budaya daerah masih lekat, elemen masyarakat masih kuat, maka pendidikan seni budaya masuk dalam muatan lokal di sekolah. ‘’Faktor penghambat khususnya di Denpasar sebagai kota pariwisata, budaya luar mudah masuk, tingkat urbanisasi tinggi,’’ jelasnya.

Komitmen pemerintah pada anak melalui budaya kreatif, kata dia, akan mengembangkan potensi kota pariwisata berbasis budaya masih memegang teguh adat. Khususnya di Bali dengan program partisipasi wajib belajar, memberdayakan anak, Denpasar berlandasan kearifan lokal melalui budaya kreatif.

Di Jakarta Barat, partisipasi wajib belajar program pemerintah belum diatur secara resmi melalui kebijakan Pemkot Jakarta Barat. Kota Solo sebagai Kota Layak Anak dan sebagai kota budaya, maka nilai-nilai karakter budaya Jawa perlu dilestarikan sebagai landasan pendidikan anak. ‘’Tujuan penelitian untuk mengetahui kebutuhan dan sikap anak dan mengimplementasikan pendidikan karakter dalam perilaku berbasis budaya lokal serta membuat model pengembangan pendidikan karakter sebagai kontribusi revolusi mental berbasis budaya lokal,’’tandasnya. (G8-62)


Berita Terkait
Komentar