Belajar Kehidupan dari Santri

SM/Agus Fathuddin - JUARAMARS YALALWATHAN : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, mantan Gubernur Jateng Ali Mufiz dan para kiai di Kota Semarang, berfoto bersama dengan para mahasiswa Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang yang dinyatakan sebagai juara I Lomba Mars Yalal Wathan dalam rangka Hari Santri Nasional 2018 Kota Semarang. (46)
SM/Agus Fathuddin - JUARAMARS YALALWATHAN : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, mantan Gubernur Jateng Ali Mufiz dan para kiai di Kota Semarang, berfoto bersama dengan para mahasiswa Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang yang dinyatakan sebagai juara I Lomba Mars Yalal Wathan dalam rangka Hari Santri Nasional 2018 Kota Semarang. (46)

”Bersama Santri Damailah Negeri” menjadi tema utama Hari Santri Nasional (HSN) 2018 yang diperingati hari ini, Senin 22 Oktober 2018. Tahun lalu ”Wajah Pesantren Wajah Indonesia” dan HSN pertama tahun 2016 bertema ”Dari Pesantren untuk Indonesia”.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Kementerian Agama RI Ahmad Zayadi menjelaskan, Isu ”perdamaian” diangkat, karena dinilai aktual, faktual, dan erat kaitannya dengan kondisi bangsa Indonesia dewasa ini.

”Sebagai bangsa yang multikultural, Indonesia dihadapkan pada dua hal yang bersamaan, yakni adanya keuntungan dan sekaligus ancaman,” kata Zayadi kepada Suara Merdeka.

Pertama, kondisi multikultura bisa menguntungkan lantaran menunjukan kekayaan dan keragaman sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Entah itu soal agama, etnis, suku, budaya, bahasa, yang jelas semuanya dapat menjadi modal kekuatan untuk kemajuan Indonesia.

Namun, keragaman dapat pula mengancam jalannya proses kehidupan bernegara. Pada tingkat tertentu, keragaman kadang melahirkan konflik berupa sentimen, diskriminasi, intoleransi, radikalisme, bahkan hingga perang saudara.

”Kerukunan dan perdamaian di negeri yang membentang belasan ribu pulau ini terancam oleh maraknya aksi sejumlah oknum orang/kelompok yang ‘gagap’dan ‘kagetan’ menghadapi perbedaan, terutama soal kelas sosial, pemahaman keagamaan dan selera politik. Perbedaan tersebut seolah-olah dipandang sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan,” kata Ahmad.

Apabila situasi demikian terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini bisa runtuh dan terpecah belah. Makanya, suara-suara damai dari berbagai kalangan sangat perlu divokalkan kembali untuk membendung para kelompok yang tidak menginginkan kerukunan dan perdamaian di negeri ini.

Kitab Kuning

Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Australia-New Zealand, Prof Dr H Nadirsyah Hosen menggambarkan, khazanah pesantren adalah cakrawala tak berujung, laut tak bertepi, sumur tanpa dasar yang takkan pernah habis dikaji dan diarungi. Kitab kuning warisan para ulama klasik dari berbagai penjuru dunia, sekian disiplin intelektual dan khazanah spiritual dengan berbagai mazhab dan mantra, menyatu dan berpadu dengan kearifan tradisi khas Indonesia di pesantren.

Oleh karena itu, kekhasan Islam Indonesia adalah pesantren, bukan yang lain. Sementara itu, ulama sering kali disebut dengan kiai, tuan guru, abuya, ajengan dan lain-lain, memiliki kedudukan khusus sebagai ”elite” di tengah-tengah masyarakat, yang dalam fungsinya menjadi pewaris para nabi.

Para kiai, beserta istri yang biasanya dipanggil Bu Nyai, anak-anak kiai biasanya dipanggil Gus untuk laki-laki dan Ning untuk perempuan, lazimnya di desa-desa menerima penghormatan yang tinggi jika dibandingkan dengan elite local yang lain seperti para juragan, para petani kaya (tuan tanah), para blantik dan tengkulak. Berbagai keputusan dan tindakan masyarakat sering diserahkan dan ditentukan oleh sosok kiai.

Pendek kata, masyarakat yang cerdas pasti dibimbing oleh kiai yang visioner. Menurut Nadirsyah Hosen, walaupun kiai menjadi elite yang sangat kuat, namun kiai adalah pelayan umat, merakyat dan memang kiai adalah rakyat itu sendiri. Lihatlah ide-ide pembangunan yang mengalami kebuntuan di masyarakat, kiai pesantrenlah yang mencairkannya.

Di zaman Orde Baru misalnya, pada saat umat mempertanyakan hukum Keluarga Berencana (KB), Almaghfurlah KHM Sahal Mahfudh bersama BKKBN banyak menulis dan bicara tentang masalah itu. Pada saat muncul prokontra bunga bank riba atau tidak, kiai pesantrenlah yang tampil menjelaskannya. Ach Dhofir Zuhry dalam buku berjudul Peradaban Sarung menyebutkan, salah satu kekhasan Islam Indonesia yang tidak ada di belahan dunia lain adalah kaum santri, kaum sarungan.

Hal itu bukan semata karena tiap tahun lebih dari empat juta anak belajar di pesantren dan lebih dari enam juta lainnya belajar di Madrasah Diniyah yang menjadi bagian dari pesantren, tetapi lantaran santri adalah identitas yang akan terus dibawa dan dibela sampai mati.

Santri, pada prinsipnya adalah para sarjana yang bukan ”nonformal”, tetapi memang sengaja menolak formalitas dan apalagi formalisme menara gading. Mereka adalah kaum terperlajar yang sederhana dan bersahaja, rela membaur mengabdi tanpa embel-embel apa pun di tengah masyarakat pedesaan dan pedalaman.

Sebuah fakta mencengangkan mengingat para sarjana lulusan perguruan tinggi bonafid biasanya enggan pulang kampung dan membangun desa. Dalam filsafat Jawa disebutkan bahwa urip kuwi urup, urip kuwi urap (hidup itu menyala dan bercahaya, hidup itu membaur dan bermasyarakat). Falsafah ini santri banget.

Dari 27.000 desa yang terhampar di seluruh Nusantara, nyaris selalu santri mengambil peranan penting terutama dalam pendidikan agama dan pembentukan karakter, melestarikan kebudayaan dan tradisi, menggeluti sektor pertanian, peternakan, perekonomian mikro, kecil dan menengah, bahkan sektor paling vital yakni menjaga kerukunan umat beragama dan kedaulatan NKRI. Para santri berteriak lantang, ”NKRI Harga Mati!”. Selamat Hari Santri. Bersama Santri Damailah Negeri. (Agus Fathuddin Yusuf-46)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar