Bangga Menjadi Santri

Oleh : Muhibbin

SM/Agus Fathuddin
SM/Agus Fathuddin

BARANGKALI banyak orang yang lebih membanggakan almamater perguruan tingginya pada saat menyebut tempat studinya, karena kampuslah yang telah menempanya dan mengantarkannya untuk menjadi ”orang”.

Akan tetapi mereka lupa bahwa pendidikan yang sangat memengaruhi kehidupannya itu justru pada saat di sekolah atau madrasah, karena di situlah warna akan diserap dan pembentukan karakter juga sedang berproses.

Apalagi kalau di samping sekolah juga sekaligus mondok atau nyantri, tentu akan semakin berkesan dalam mewarnai hidupnya di kemudian hari. Kebiasaan yang ditanamkan pada saat nyantri tentu akan berkesan dan menajdi sebuah kebiasaan yang sudah menyatu dengan kehidupan.

Shalat berjamaah, mengaji kitab, meminta ijazah dalam setiap mengkaji sebuah kitab dan lainnya, menjadi hal yang biasa. Apa yang saya alami selama nyantri dan sekolah di Futuhiyyah sungguh sangat terkesan dan tidak pernah terlupakan, apalagi pada saat selesai mondok ada pesan dari kyai untuk mendakwahkan halhal baik selama hidup dan tentu saja tentang keberkahan yang didapatkan santri dari kyai.

Kebiasaan untuk memperbanyak shalawat, untuk mewiridkan baca alfatihah seratus kali setelah Subuh, harus membaca kitab suci, dan lainnya sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan santri Futuhiyyah. Karena itu hingga saat ini sebagai alumnus Futuhiyyah, saya akan senantiasa mengenang Futuhiyyah yang telah berjasa mengantarkan saya seperti saat ini.

Saya meyakini hanya keberkahan dan restu dari hadratusy syaikh KH Muslih sajalah yang menguatkan diri dan memberikan spirit kuat dalam menjalani kehidupan ini. Kalau pun saya tetap bangga dengan almamater perguruan tinggi saya, tetapi saya tidak akan pernah mampu melupakan Futuhiyyah.

Banyak kenangan selama menjadi santri dan sekolah di Futuhiyyah, meskipun pada awalnya saya sama sekali tidak berminat untuk sekolah di madrasah, karena mayoritas kawan kawan seangkatan saya di desa memasuki SMP. Namun pada saat itu saya ”dipaksa” oleh orang tua untuk sekolah di Mts Futuhiyyah.

Selama satu tahun saya belum dapat merasakan nikmat bersekolah, sehingga rapor saya lebih banyak yang merah ketimbang yang biru, namun untungnya saya tetap naik kelas. Tetapi saat libur kenaikan kelas itu, Ayah saya dipanggil oleh Allah Swt, sehingga saya menjadi yatim.

Saat itulah saya baru sadar bahwa kalau saya terus begini, maka saya mungkin tidak akan menjadi orang. Sejak saat itulah saya kemudian mau belajar dan belajar. Alhamdulillah di kelas dua tersebut nilai saya meningkat dratis dan bahkan di akhir kelas tiga saya termasuk yang hafal alfiyah dan nilai saya tinggi, bahkan mungkin tertinggi.

Mengaji Tafsir

Pada saat saya meneruskan di Madrasah Aliyah, juga di Futuhiyyah, saya sudah benar-benar kerasan dan mantap untuk menimba ilmu di Futuhiyyah. Ada banyak kejadian yang di samping menyenangkan juga sekaligus dapat dinilai sebagai aneh. Salah satunya ialah ketika mengaji tafsir Jalalain dari al-maghfurlah KH MS Lutfil Hakim, di Masjid An- Nur, tiba tiba saya disuruh membaca sebelum beliau mulai membaca tafsir.

Tentu saja saya kaget sebab sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti itu. Namun alhamdulilah saya dapat melaksanakan perintah tersebut dengan baik dan saya anggap itu sebagai ”ujian”.

Ada satu pesan yang hingga saat ini terus saya ingat, yakni pesan hadratusy syaikh bahwa saya harus membaca Alquran setiap hari, harus menjauhi perempuan, dan kurangi nonton bioskop. Rupanya, hadratusy syaikh tahu benar tentang kenakalan saya sering menonton bioskop.

Namun alhamdulillah hingga saat ini pesan tersebut dapat saya jalani dengan konsisten. Saya sangat yakin bahwa apa yang dipesankan tentang kebajikan tersebut pasti mengandung makna yang sangat dalam dan akan mengantarkan saya menjadi orang baik, walaupun tentu saya menilai diri saya sendiri belum baik.

Saya sangat terkesan dengan pesan tersebut, sehingga pada saat saya masih mahasiswa dan terkadang sedikit ”mengabaikan” shalat, maka di malam harinya seolah saya bertemu dengan hadratusy syaikh sedang menjalankan shalat jamaah bersama di Masjid An-Nur. Saat itulah saya kemudian mengingat beliau dan saya merasa sedang ditegur oleh beliau.

Barangkali masih banyak lagi kisah mengesankan yang saya alami dan membentuk watak saya dan memengaruhi kehidupan saya hingga saat ini. Demikian juga yang dialami oleh santri lainnya. Karena itulah sekali lagi saya harus mengatakan bahwa saya sangat bangga menjadi santri, saya bangga dengan almamater saya Futuhiyyah.

(Prof Dr H Muhibbin MAg, Rektor UIN Walisongo Semarang, Ketua Alumni Pondok Pesantren Futuhiyyah Suburan, Mranggen, Demak-46)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar