Tunjukkan Islam Rahmatan Lil Alamin

SM/Dok - KH Mustofa Bisri - SM/Dok - Ahmad Zayadi
SM/Dok - KH Mustofa Bisri - SM/Dok - Ahmad Zayadi

PENGASUH Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang KH Mustofa Bisri (Gus Mus) mengajak bangsa Indonesia memanfaatkan momentum Hari Santri Nasional (HSN) untuk menunjukkan kepada dunia Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Islam yang damai, Islam yang sejuk, Islam yang memberikan rahmat tidak saja kepada manusia tetapi juga hewan, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh alam jagat raya ini.

”Secara umum, saya melihat Hari Santri masih baru disambut dan disikapi secara seremonial. Belum benar-benar dihayati sebagai tonggak perjuangan keindonesiaan kaum santri,” kata Gus Mus dalam wawancara dengan Suara Merdeka, Minggu (21/10) malam.

Menurut Mustasyar PBNU itu, perlu sosialisasi makna Hari Santri yang mengedepankan kejuangan dan cita-cita kaum muslimin Indonesia yang patriotik dan menebarkan kerahmatan Islam.

”Ke depan masyarakat santri perlu mengisi peringatan Hari Santri dengan lebih menanamkan kesadaran akan kerahmatan Islam dan menebarkannya dalam bingkai keindonesiaan, sekaligus memberikan contoh riil keberagamaan ala Ahli Sunnah wal Jamaah sebagaimana diamalkan para pemimpin pendahulu di bumi Nusantara ini,” katanya. Euforia Hari Santri tidak boleh terus berlanjut hanya sebagai euforia yang tidak memberikan manfaat yang lebih bagi kehidupan keislaman dan keindonesiaan.

Menurut Gus Mus, tantangan menjadi santri saat ini jauh lebih besar ketimbang santri di era sebelumnya. Berbagai gempuran kepada santri saat ini akan terus dirasakan, terlebih saat ini juga telah muncul era dunia maya.

Dia menyebutkan, perlakuan antara kiai dengan santri pun saat ini juga telah berbeda. Jika sebelumnya kalangan santri masih sering ditunggui oleh kiainya, saat ini telah digantikan dengan kiai muda yang memiliki segudang kesibukan. ”Setiap zaman itu tantangannya lebih berat. Santri dulu masih banyak ditunggui kiai-kiai.

Tambah lama, kiai-kiai sepuh digantikan dengan kiai-kiai enom (muda). Lama-lama kiai enom diganti ustadz enom. Jadi tantangannya lebih banyak,” jelasnya. Gus Mus berharap para santri ikut memahami dunia sosial. Menurut dia, perkembangan media sosial saat ini berpengaruh besar terhadap kehidupan sosial bermasyarakat, tak terkecuali di kalangan santri.

”Media sosial di mana orang bisa bersembunyi, untuk berteriak lalu tidak kelihatan wajahnya. Akunnya gambar lain, jadi tidak karuan siapa yang ngomong. Itu tantangan untuk santri, bagaimana dia menyikapi itu semua,” tuturnya.

Secara terpisah, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Kementerian Agama RI, Ahmad Zayadi mengingatkan, konflik akibat hoaks dan ujaran kebencian sedang bergejolak di mana-mana, baik itu di dunia nyata maupun dunia maya perlu disikasi kaum santri. Pada saat yang sama, orang semakin jemu dan muak akan semua itu. Hidup damai menjadi sesuatu yang kini diimpikan oleh setiap individu.

Sang Guru Bangsa sekaligus Guru Besar pesantren KH Abdurrahaman Wahid alias Gus Dur (2006) jauh-jauh hari telah mengajarkan bahwa untuk mewujudkan cita-cita perdamaian, sedikitnya perlu ada empat komitmen, yakni membangun etika global dan pemerintahan yang baik, adanya perundingan sebagai penyelesaian terbaik dan memasukkan moralitas dengan pendekatan spiritual yang holistik serta memahami bahwa pertentangan bukanlah permusuhan.( Agus Fathuddin Yusuf-46)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar