90 Desa Rawan Banjir dan Longsor

Waspada Memasuki Musim Hujan

SM/Ryan Rachman - JALAN TERGENANG : Hujan beberapa waktu lalu membuat wilayah kota Purbalingga, tepatnya di perempatan Kompo, tergenang. Memasuki musim hujan, warga di sejumlah daerah rawan bencana perlu lebih waspada. (37)
SM/Ryan Rachman - JALAN TERGENANG : Hujan beberapa waktu lalu membuat wilayah kota Purbalingga, tepatnya di perempatan Kompo, tergenang. Memasuki musim hujan, warga di sejumlah daerah rawan bencana perlu lebih waspada. (37)

PURBALINGGA- Sedikitnya 90 desa di 16 kecamatan di Kabupaten Purbalingga masuk daerah rawan bencana alam, baik banjir maupun tanah longsor. Memasuki musim hujan, masyarakat di daerah tersebut perlu lebih meningkatkan kewaspadaan.

Kepala Pelaksanan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, Rusmo Purnomo, Kamis (11/10), memerinci, daerah tersebut meliputi Kecamatan Kemangkon, Kejobong, Bukateja, Kutasari, Bobotsari, Karangreja, Karanganyar, Karangmoncol, Rembang, Bojongsari, Pengadegan, Karangjambu, dan Kertanegara.

"Untuk daerah rawan banjir ada 36 desa/kelurahan dan rawan longsor ada 65 desa/kelurahan. Ada satu desa yang rawan kedua bencana tersebut, antara lain Desa Karangjambu di Kecamatan Karangjambu dan Desa Kaliori di Kecamatan Karanganyar," katanya. Menurutnya, pada tahun lalu, di Kabupaten Purbalingga terjadi 40 kali tanah longsor dan 11 kali banjir.

Bencana tersebut menyebabkan kerugian materi mencapai Rp 4,9 miliar lebih. Bahkan, pada Februari lalu, empat anak di Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu, tewas tertimbun akibat longsor.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Purbalingga, Muhsoni, menambahkan, berdasarkan data dari Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), prakiraan hujan di Kabupaten Purbalingga mulai terjadi di September dan Oktober, di mana sifat hujan masih di bawah normal.

Sedangkan untuk curah hujan, pada bulan ini terjadi di kategori menengah dan dengan curah tinggi pada bulan depan. Menurutnya, longsor dan banjir bisa diantisipasi dengan melihat tanda-tandanya seperti hujan yang turun dengan intensitas lama.

Karena itu, pihaknya memberikan peringatan dini kepada masyarakat untuk mulai meningkatkan kewaspadaan. Hal itu untuk mencegah timbulnya korban jiwa jika kedua bencana itu melanda.

"Yang tidak bisa diprediksi angin ribut. Hal ini bisa terjadi di seluruh wilayah. Biasanya saat memasuki pancaroba pada saat-saat intensitas hujan antara sedang dengan tinggi. Tahun lalu saja ada 20 kejadian," katanya. Kepala Desa/Kecamatan Karanganyar, Tofik, mengatakan, wilayahnya termasuk daerah rawan longsor.

Tahun lalu dan awal tahun ini terjadi beberapa kejadian. Walau tidak sampai menimbulkan korban jiwa, namun sejumlah fasilitas umum terutama jalan dan jembatan penghubung antardusun rusak. Kepala Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu, Bambang Hermanto, mengatakan, awal tahun ini empat warganya meninggal akibat tertimbun longsor.

Sejumlah rumah warga juga harus direlokasi ke tempat yang aman agar tidak sampai terjadi korban bila longsor melanda. Beberapa kali kegiatan pencegahan dan simulasi penanganan bencana dilakukan, agar warganya lebih siap jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. (H82-37)


Baca Juga
Komentar