Koperasi Lepaskan Penderes dari Jeratan Ijon

SM/Agus Wahyudi - SIAP DIEKSPOR: Hasil gula kristal organik dari para petani penderes di Kecamatan Sumbang yang dihimpun melalui Koperasi Liga Sirem, di Desa Sikapat, dikemas untuk komoditas ekspor. (37)
SM/Agus Wahyudi - SIAP DIEKSPOR: Hasil gula kristal organik dari para petani penderes di Kecamatan Sumbang yang dihimpun melalui Koperasi Liga Sirem, di Desa Sikapat, dikemas untuk komoditas ekspor. (37)

TERJERAT praktik sistem ijon, terlilit utang kepada tengkulak, dan hasil olahan gula cetak harus dijual murah, adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebagian besar nasib yang dialami petani penderes di Kabupaten Banyumas, termasuk di wilayah Kecamatan Sumbang.

Namun dengan penuh kesungguhan dan kesabaran, Koperasi Liga Sirem didirikan untuk berusaha membantu para penderes menatap kehidupan yang lebih baik ke depan.

Petani penderes di Kecamatan Sumbang dan sekitarnya mulai mengenal dan mempraktikkan produksi gula kristal untuk komoditas ekspor. "Tengkulak itu menjamur, mulai dari kelas kecil sampai kelas raksasa, tidak ada penderes yang lepas dari jeratannya," tutur Nasrudin, Manager Koperasi Liga Sirem di Desa Sikapat, Kecamatan Sumbang, kemarin.

Koperasi Liga Sirem, diambil dari singkatan nama-nama desa sekitar, Limpakuwus, Gandatapa, Sikapat, dan Siberem, dirintis tahun 2005. Dua tahun kemudian, yaitu tahun 2007 baru berbadan hukum secara resmi.

Salah satu pendiri koperasi adalah Nasrudin, kini dipercaya menjadi manager koperasi. Nasrudin mengungkapkan, jeratan sistem ijon tengkulak untuk skala kecil, penderes bergantung pada tetangga mereka yang membuka warung. Semua kebutuhan keluarga penderes tinggal mengambil dari warung tersebut dan dibayar dengan setoran gula saat panen.

Untuk skala besar, tengkulak membiayai semua kebutuhan insidental penderes, mulai dari hajatan, biaya untuk berobat saat ada yang sakit, untuk perbaikan rumah, dan lain-lain. "Jadi, jeratan tengkulak begitu kuat mencengkeram di kalangan penderes," tandasnya.

Awal terjun di gula kelapa, katanya, kondisi petani penderes masih memprihatinkan, tengkulak mengelilingi mereka, dari mulai skala kecil hingga besar. Kerja siang-malam penderes hanya untuk menyetor gula kelapa ke tengkulak dengan harga murah. Mereka begitu yakin, hasil kerja mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga harus bergantung pada tengkulak.

"Untuk membantu mereka melepaskan jeratan tengkulak, kita mulai dengan memberikan pinjaman lunak untuk memenuhi kebutuhan mereka, membeli gula dengan harga yang lebih bagus.

Tapi ini tidak bisa langsung mengubah begitu saja. Butuh waktu panjang," jelasnya. Pihaknya tidak mengambil langkah konfrontasi, karena sebagian besar tengkulak juga warga desa setempat dan masih ada ikatan saudara. Jadi, jalan kompromi yang dipilih. Tengkulak mulai dirangkul. Kemudian program pemberdayaan mulai digaungkan para pengurus koperasi.

Dan petani penderes mulai diedukasi untuk memproduksi nira yang berkualitas, guna memenuhi pasar eksport gula kristal organik. Para tengkulak juga dilibatkan dalam pemberdayaan. Mereka diimbau untuk tidak mengambil untung terlalu banyak dan koperasi juga memantau harga jual gula. "Kita berbagi profit dengan tengkulak.

Mereka yang beli dari petani dan kemudian kita membeli dari mereka. Langkah kompromis ini membuahkan hasil, secara perlahan kita bisa mengendalikan para tengkulak. Mereka tidak lagi mencekik petani dengan harga yang rendah," kisahnya.

Mulai tahun 2016, Koperasi Liga Sirem mulai merambah pasar ekspor. Menurut Maksum, pendamping petani penderes dari koperasi tersebut, untuk bisa melampaui proses tersebut tidak mudah. Butuh waktu satu tahun untuk mendapatkan sertifikasi organik sesuai kebutuhan pasar ekpor.

"Dan yang tidak kalah berat adalah mengubah perilaku petani dalam mengolah nira," ujarnya. Setelah satu tahun menjalani sertifikasi, pada Mei lalu untuk kali pertama petani bisa mengekspor gula kristal organik.

Dari 100 petani binaan koperas tersebut, hanya 50 yang lolos sertifikasi. Kini dengan proses yang lebih baik, petani bisa menjual gula kristal dengan harga Rp 15.000 per kilogram. Harga tersebut jauh lebih baik dari harga gula cetak yang biasa ditampung tengkulak, hanya kisaran Rp 8.000 per kilogram. (Agus Wahyudi- 37)


Baca Juga
Komentar