Renovasi Masjid Saka Tunggal Perlu Pertimbangkan Lingkungan

BANYUMAS -Pembenahan kawasan Masjid Saka Tunggal, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, harus mempertimbangkan kondisi lingkungan. Sisi kesakralan objek wisata religi tersebut harus tetap terjaga.

Menurut pengamat pariwisata Universitas Jenderal Soedirman, Drs Chusmeru MSi, kawasan wisata religi Masjid Saka Tunggal dengan daya tarik kera ekor panjang tidak perlu dikembangkan dengan konsep wisata massal. Konsep yang dapat dikembangkan dengan konsep quality tourism agar kesakralan masjid dan kehidupan kera dapat terjaga dengan baik.

”Kemarin diperkirakan ada 7000 orang dalam satu festival. Dari sisi pengunjung ini bagus. Tapi tentunya dapat membuat kera-kera itu menjadi stres dan merasa terancam habitatnya.

Perlu dipikirkan lagi untuk membatasi jumlah pengunjung Rewandha Bojana maupun yang diperbolehkan memberi makan kepada kera. Sebab, kenyataannya, pengunjung yang memperebutkan makanan kera,” ujarnya, Kamis (11/10). Dia mengatakan, masjid tertua tersebut sebenarnya memiliki keunikan karena keberadaan kera di sekitarnya.

Objek wisata religi ini seharusnya dikembangkan dengan narasi sejarah dan proses akulturasi budaya di dalamnya. Masjid Saka Tunggal, kata Chusmeru, memiliki segmen pasar tersendiri serta kemasan paket wisata yang bersifat religius. Artinya, aktivitas wisatawan tidak jauh dari unsur tersebut.

”Yang perlu dipikirkan itu seharusnya faktor penunjang, seperti kuliner dan cindera mata. Segala bentuk kegaduhan tentu harus dihindari pada objek wisata religi. Coba contoh kawasan wisata religi seperti Borobudur,” tuturnya.

Atraksi Wisata

Chusmeru menambahkan, penggarapan kera sebagai atraksi wisata pun harus dikembangkan dengan hatihati. Sebab, perilaku dan habitat kera dapat berubah apabila terus menerus berinteraksi dengan manusia, apalagi dalam jumlah yang banyak.

Menurut dia, dampak negatif proses interaksi ini baru dirasakan puluhan tahun mendatang. Oleh karena itu, perlu ada pembatasan jumlah wisatawan dan rambu larangan yang mengatur sikap dan perilaku wisatawan terhadap kera.

”Banyak kasus, kawasan yg dihuni kera, saat dikembangkan sebagai objek dan daya tarik wisata menyebabkan perubahan perilaku kera. Hewan ini menjadi agresif kepada pengunjung atau sebaliknya bersembunyi ketika ada pengunjung datang. Memang agak sulit mengontrol perilaku wisatawan, tetapi paling tidak harus ada rambu-rambu dan petugas yang mengawasi,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Asis Kusumandani mengatakan, pasca penyelenggaraan Festival Rewandha Bojana Minggu (7/10) lalu, Pemerintah Kabupaten Banyumas berencana membenahi kawasan Masjid Saka Tunggal.

Perluasan area pengunjung ini sangat dibutuhkan untuk menambah daya tampung. ”Dari arahan Bupati dan Wakil demikian. Karena kemarin waktu festival pengunjung berdesakan. Arena untuk memberi makan kera jadi lebih sempit,” ujarnya. (K35-52)


Baca Juga
Loading...
Komentar