Seniman Perlu Kemampuan Mengemas Karya

SM/Dini Failasufa : FOTO BERSAMA: Peserta, dan pembicara, berfoto bersama saat Workshop Daya Karya ”Seni Rupa Kontemporer” di Hotel Horison NJ, Jalan MT Haryono, kemarin.(49)
SM/Dini Failasufa : FOTO BERSAMA: Peserta, dan pembicara, berfoto bersama saat Workshop Daya Karya ”Seni Rupa Kontemporer” di Hotel Horison NJ, Jalan MT Haryono, kemarin.(49)

SEMARANG - Pelatihan seni rupa digelar dalam rangkaian Biennale Jawa Tengah II 2018 dalam tajuk ”Daya Karya Seni Rupa Kontemporer” di Lantai 7 Hotel Horison NJ, Rabu (10/10).

Materi diberikan secara bergantian oleh narasumber yang merupakan perupa, fotografer, pekerja media, dan lainnya. Pelatihan ini bekerja sama dengan Dinas Kepemudaan, Olahraga Dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Fotografer dan wartawan, Nugroho DS mengawali memberi materi. Kedekatan seniman dengan media dibahas sebagai salah satu cara untuk menguatkan eksistensi karya. ”Media sangat penting untuk seniman. Kedekatan dengan media memudahkan untuk berkomunikasi kepada masyarakat. Berkait juga dengan penyampaian di dalam karya,” kata Nugroho.

SM/Dini Failasufa :
MEMAPARKAN MATERI : Perupa, Putut Wahyu Widodo memaparkan materi
didampingi empat narasumber lain dalam Workshop Daya Karya ”Seni Rupa
Kontemporer” di Hotel Horison NJ, Jalan MT Haryono, kemarin.(49)

Pelatihan ini dihadiri sekitar 50 peserta. Mereka terdiri atas perupa dan mahasiswa. Diskusi terjadi mengalir dengan tanya-jawab. ”Kesadaran untuk menyampaikan karya kepada ruang yang lebih luas itu harus dimiliki. Kepentingannya tidak selalu mengenai eksistensi seniman dan karya. Termasuk memberikan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat. Terutama di media yang bukan internal, dalam hal ini internal seni rupa,” tuturnya.

Hal itu, kata dia, bisa menjadi modal bagi seniman ke langkah berikutnya. Perjalanan berkarya pun tercatat dan terdapat dokumentasi. Perupa Semarang, Putut Wahyu Widodo memberi pemaparan tentang ekonomi kreatif. Seni rupa merupakan salah satu dari 16 subsektor ekonomi kreatif. ”Penting melihat hal itu, karena menyangkut proses kita berkarya,” paparnya.

Menurutnya, pemahaman tentang mengemas dan menyiapkan karya harus dilakukan. Tujuannya adalah menguatkan karya supaya mampu berada di ekonomi kreatif. ”Tanpa memiliki kesadaran itu, kita tidak akan mampu menjadi pekerja seni. Di mana pekerja seni perlu tanggung jawab profesi. Bekerja untuk berkarya. Karya kita siapkan untuk berjualan, dalam tanda kutip,” ucapnya.

Berjualan, kata dia, ada dua konteks. Berjualan dalam arti sesungguhnya yang memberikan keuntungan ekonomi, serta berjualan yang memberi keuntungan terhadap eksistensi. ”Karya itu kebutuhannya adalah bercerita. Kita sampaikan ke publik dengan pameran, supaya bisa bercerita,” tuturnya.

Pengorganisasian Pameran

Putut juga membahas tentang perencanaan dan pengorganisasian pameran. Konsepnya adalah kegiatan untuk memperlihatkan sesuatu kepada orang lain dengan manajemen. ”Ada beberapa prinsip manajemen, antara lain perencanaan, pengelolaan, pelaksanaan, pengawasan, dan lainnya,” ungkapnya.

Kabid Pengembangan Sumber Daya Manusia Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kepemudaan, Olahraga Dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Trenggono mengatakan Biennale Jawa Tengah II 2018 merupakan momentum silaturahmi. Khususnya dalam peningkatan sumber daya manusia bidang seni rupa. ”Kota, jika ada sentuhan seni dan budaya suasananya menjadi adem. Kegiatan ini juga untuk meningkatkan kualitas dan rangkaian membangun citra,” kata Trenggono.

Kasi Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif Dinas Kepemudaan, Olahraga Dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Hendrawan Purwanto menerangkan pelatihan yang dilakukan termasuk dalam program pemantapan sumber daya manusia. ”Peserta yang terdiri atas berbagai kalangan yakni pelaku seni rupa dan mahasiswa, mendukung program kami. Pengisinya juga mumpuni, dari praktisi, akademisi, dan pelaku seni rupa,” tandas Hendrawan. (akv-49)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar