Warta Remaja

Spanda Nguri-uri SENI KALIGRAFI

Hai gaiss... SMP IT Harapan Bunda ternyata sudah menghasilkan ratusan karya seni kaligrafi tahun ini lho. Karya-karya kaligrafi itu dibuat oleh siswa kelas 7, 8, dan 9 dengan bimbingan Ustadz Ichsan, Ustadzah Atik, dan Ustadz Malikhan, selaku guru pengajar mata pelajaran Bahasa Arab.

Karya kaligrafi yang dihasilkan siswa seringkali dipamerkan pada acara open house dan dipajang di berbagai ruangan yang ada di SMPIT Harapan Bunda. Ruangan yang menjadi objek pemasangan kaligrafi ini antara lain ruang pertemuan, perpustakaan, ruang guru, ruang tata usaha, ruang kelas, masjid, dan lainnya.

Banyak tanggapan positif yang muncul, baik dari siswa, guru maupun masyarakat terhadap karya seni kaligrafi ini. Apalagi setiap bulannya bermunculan karya-karya baru yang dihasilkan setiap rombongan belajar (rombel) mata pelajaran Bahasa Arab.

Pada beberapa acara peringatan hari besar agama Islam tingkat sekolah, kesenian kaligrafi juga seringkali dilombakan. Dari kegiatan lomba internal inilah sekolah dapat memilih siswa-siswi yang akan mewakili SMP IT Harapan Bunda untuk berlomba ke tingkat Kota Semarang.

Awal mula munculnya pembelajaran seni kaligrafi pada mata pelajaran Bahasa Arab ini adalah hasil inovasi guru-guru mata pelajaran Bahasa Arab dalam rapat rutin guru mapel atau KKG. Dalam rapat inilah masingmasing guru mapel saling berbagi pengalaman dalam pengajaran Bahasa Arab.

Beberapa permasalahan yang seringkali muncul adalah kesulitan siswa tingkat SMPdalam penulisan kalimat menggunakan huruf hijaiyah. Siswa mengalami kesulitan dengan teknik penulisan dari kanan ke kiri. Mereka juga kebingungan dengan perubahan bentuk huruf yang dipakai pada awal, tengah, dan akhir kalimat.

Dari sini muncul gagasan untuk memberikan inovasi pembelajaran menggunakan seni kaligrafi. Melalui seni kaligrafi, para siswa menjadi lebih tertarik mempelajari Bahasa Arab.

Seni kaligrafi ini tidak monoton, sebagai contoh kalimat Bismillahirrahmanirrahiim bisa ditulis dengan berbagai model kaligrafi. Model yang sering dipakai dalam pembuatan kaligrafi antara lain Naskhi, Farisi, Tsuluts, dan Diwany. Teknik pembuatan kaligrafi di SMP IT Harapan Bunda bervariasi sesuai dengan tingkat kemahiran siswa.

Untuk siswa pemula, diajarkan teknik membentuk huruf menggunakan dua buah pensil. Siswa pemula juga masih menggunakan media kertas gambar dalam pembuatannya. Selain itu, bentuk kaligrafi yang dibuat masih meniru model yang dibuat guru di papan tulis.

Pewarnaan kaligrafi pun masih sebatas satu atau dua warna. Untuk siswa yang mulai mahir membuat kaligrafi, mereka akan dikenalkan jenis-jenis khot kaligrafi, seperti Naskhi, Farisi, Tsuluts, dan Diwany. Mereka juga akan dikenalkan teknik pembuatan background meliputi pemilihan bentuk pemandangan alam ataupun pemakaian gradasi warna.

Selain itu, mereka juga mulai memakai kanvas sebagai media pembuatan kaligrafi. Pada tahap akhir, karya kaligrafi diletakan ke dalam pigura sebelum dipasang di tembok ruangan. Kegiatan pembelajaran Bahasa Arab melalui pembuatan karya kaligrafi ini diharapkan mampu melestarikan seni kaligrafi di era teknologi komunikasi dan informasi saat ini.

Pada era digital ini, perlu menumbuhkan kecintaan generasi muda pada seni kaligrafi. Karena generasi mudalah yang akan melanjutkan keberlangsungan seni kaligrafi pada masa yang akan datang. Apalagi seni kaligrafi memiliki nilai keindahan dan keunikan yang tidak kalah dengan seni gambar, seni lukis, seni grafis, ataupun seni fotografi.

Atik Rochmiyatun, pengajar kaligrafi SMPITHarapan Bunda menjelaskan, pembelajaran Bahasa Arab melalui seni kaligrafi ini diharapkan dapat mengasah kreativitas siswa sekaligus menjadi sarana pengenalan dan pelestarian seni kaligrafi. Karya seni kaligrafi siswa SMPITHarapan Bunda beberapa kali menjuarai LombaTingkat Kota Semarang.

Di antara siswa yang sering menjuarai lomba kaligrafi adalahAsma' Azka kelas 8C dan Novita Saraswati Cinta Melati kelas 8D. Dalam pembuatan karya seni yang akan dilombakan, siswa dapat menghabiskan waktu antara 2 s.d. 3 jam. Walaupun waktu yang dibutuhkan untuk membuat karya seni kaligrafi ini cukup lama, para siswa antusias dan bersemangat.

Mereka senantiasa menantikan kapan sesi kaligrafi itu dilaksanakan dalam setiap bulannya. Mereka akan mendapat jatah membuat minimal satu karya dalam sebulan. Semoga dengan keberadaan pembelajaran Bahasa Arab memakai teknik kaligrafi ini, kesenian kaligrafi bisa semakin lestari. Aamin.

Tim SMPIT Harapan Bunda Semarang


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar