Izin Jateng Park 35 Tahun

SEMARANG - Pembangunan Jateng Park masih dalam tahap lelang. Jika kelak sudah ada investor dan dibangun, izin pemanfaatan hutan produksi Penggaron, Kabupaten Semarang itu dibatasi 35 tahun. Izin dapat diperpanjang tiap 20 tahun.

Ketentuan tersebut akan dituangkan dalam tahapan kedua pembangunan Jateng Park, yakni perjanjian kerja sama antara PT Penggaron Sarana Semesta (PSS) dengan pemenang lelang (investor). PT PSS adalah bentukan PT SPJT (Pemprov Jateng) dan PTPalawi (Perum Perhutani).

Saat ini masih memasuki persiapan tahap pertama, yakni perjanjian kerja sama antara PT PSS dan Perum Perhutani yang akan ditandatangani 7 Oktober 2018 tentang jangka waktu dua tahun untuk mencari investor. “Tapi nanti kalau ternyata kurang dari dua tahun sudah dapat investor, ya langsung masuk ke tahap kedua.

Tak perlu menunggu tahap pertama selsai,” jelas Kepala Biro Infrastruktur dan SDA Pemprov Jateng Peni Rahayu, Kamis (4/10). Peni mengatakan, pemanfaatan hutan selama 35 tahun itu sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor P31 Tahun 2016 tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam pada Hutan Produksi.

Lelang Kedua

Untuk prose lelang, jelasnya, akan dilakukan tahapan aanwijzing atau pemberian penjelasan pada para calon investor pada 10 Oktober. Tahap lelang ditarget selesai pada Desember 2018.

Tahapan ini sebenarnya merupakan lelang kedua. Lelang pertama gagal lantaran waktu yang terlalu mepet. Lalu, berapa persen saham yang akan dimiliki Pemprov Jateng jika Jateng Park jadi dibangun dan beroperasi?

Peni mengaku belum mengetahui secara persis, lantaran hal itu akan dibicarakan oleh PT PSS dengan investor. Adapun pembagian saham di PT PSS yakni PTSPJT(Pemprov Jateng) 49% dan PTPalawi (Perum Perhutani) 51%.

“Soal berapa (persen) saham Pemprov Jateng, akan disepakati antara PT PSS dan investor,” ujarnya. Anggota Komisi B DPRD Jateng Ahsin Makruf mengatakan, tahap lelang itu diharapkan benar-benar bisa memunculkan pemenang dan bisa segera dilakukan pembangunan.

Menurutnya, masyarakat Jateng sudah lama diiming-imingi objek wisata yang baru dan bagus namun sampai saat ini masih belum terlihat realisasinya. Jika proyek itu sulit terealisasi, Pemprov diminta mengalihkan fokus pada destinasi wisata yang merupakan aset Pemprov sendiri, seperti Tlogo di Tuntang, Kabupaten Semarang. (H81-19)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar