Garebeg Suran Baturraden Butuh Inovasi

PURWOKERTO - Ajang Garebeg Sura Baturraden membutuhkan inovasi baru. Pasalnya, event budaya yang telah dikemas menjadi atraksi wisata tersebut terkesan monoton belakangan ini. Pengamat pariwisata Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Drs Chusmeru Msi mengatakan, sebagai tradisi yang sudah mengakar di masyarakat sekitar Kecamatan Baturraden, kegiatan tersebut perlu dipertahankan.

Akan tetapi, perlu ada kemasan kegiatan pendukung lainnya yang menarik. ”Sebenarnya Garebeg Suran yang dijadikan satu dalam Festival Baturraden sudah menarik. Akan tetapi, sebaiknya dipisahkan, yang tradisi ya tetap tradisi.

Pemkab tak perlu terlalu jauh mengintervensi kegiatan budaya itu. Biar masyarakat yang menjalankan inisiatifnya,” ujarnya, Kamis (20/9). Menurut dia, tradisi suran merupakan bentuk kearifan lokal yang sarat dengan nilai dan budaya. Apabila terlalu banyak komodifikasinya, kegiatan budaya tersebut justru akan kehilangan nilai sakralnya.

Oleh karena itu, dia mengusulkan, Festival Baturraden dan Garebeg Suran digarap secara terpisah. Meski keduanya berkontribusi terhadap pengembangan pariwisata. ”Artinya, kedua agenda tsb bisa menjadi satu paket wisata, namun berbeda konsep dan teknis pelaksanaannya.

Sedangkan Festival Baturraden menjadi event pendukung yang momentumnya dirangkaikan dengan grebeg suran. Oleh karenanya, Festival Baturraden haruslah selalu kekinian, tidak monoton,” katanya.

Chusmeru menambahkan, apabila Dinporabudpar Banyumas kesulitan menemukan konsep yang kekinian dan tidak monoton, maka sebaiknya kegiatan itu diserahkan kepada komunitas seni budaya dan masyarakat setempat. Mereka yang akan merumuskan konsep dan mengerjakan teknisnya.

Melihat Masa Depan

Menurut dia, mengelola kepariwisataan harus selalu melihat masa depan. Hal ini kerap menjadi kendala bagi pemerintah di daerah. Sementara komunitas seni dan kreatif yang memiliki potensi untuk mengembangkan pariwisata di daerah tidak diakomodasi dan kurang mendapat ruang ekspresi.

”Kalau monoton, dampak yang signifikan jelas pada menurunnya minat kunjungan pada acara tersebut. Orang berwisata tentu cenderung mencari sesuatu yang baru, yang berbeda dan menarik. Setiap tahun Garebeg Suran Baturraden harus selalu berbeda konsep, seiring dengan konsep pariwisata yang setiap tahun juga berubah mengikuti motif dan tren pasar,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Saptono Supriyanto, menyebutkan, dari hasil rapat koordinasi teknis dengan Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden (PMPB), Jagabaya Baturraden diputuskan grebeg sura digelar Minggu (30/9) pagi. Arak-arakan gunungan dan ubo rampe dimulai dari Wanawisata Baturraden.

Pengelola objek wisata di sekitar Kecamatan Baturraden diminta untuk menjadi peserta arak-arakan agar lebih meriah. Jadi tidak hanya kelompok dari 12 desa penyangga Baturraden saja,” tambahnya.

Saptono menambahkan, lokasi rebutan gunungan dipindahkan ke lahan parkir Bukit Bintang. Rombongan pengarak gunungan dipisahkan dengan pembawa tenong yang masuk ke dalam Lokawisata Baturraden. (K35-52)


Loading...
Komentar