Eksplorasi Budaya lewat Arsitektur

PAMERAN ARSITEKTUR: Dua mahasiswi mengunjungi pameran arsitektur yang diselenggarakan Prodi Arsitektur Fakultas Teknik dan Informatika UPGRIS, baru-baru ini. (54)
PAMERAN ARSITEKTUR: Dua mahasiswi mengunjungi pameran arsitektur yang diselenggarakan Prodi Arsitektur Fakultas Teknik dan Informatika UPGRIS, baru-baru ini. (54)

Dunia arsitektur tak pernah bisa lepas dari kesenian. Pada hakikatnya, karya arsitektur tercapai oleh perpaduan antara kemampuan pada bidang teknik dan kualitas seni yang tinggi.

Indonesia sebagai negara yang berlimpah tradisi dan budaya, tentu memiliki potensi yang begitu besar untuk diserap dan direalisasikan dalam bentuk karya-karya arsitektur. Program Studi Teknik Arsitektur Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang merupakan salah satu prodi di Fakultas Teknik dan Informatika memahami betul potensi tersebut.

Untuk itulah, mahasiswa Prodi Arsitektur selalu mendapat pemahaman agar menangkap budaya di Indonesia sebagai salah satu produk arsitektural. Beberapa waktu waktu lalu, mereka berkunjung ke Lombok guna melihat produk kultural arsitektur di sana.

Mahasiswa lantas diminta membuat maket atau miniatur rumah tradisional Lombok lantas dipamerkan kepada khalayak. ”Kami bisa melihat bentuk arsitektur, sejarah, terbentuknya sebuah pemukiman yang masih utuh sampai sekarang dari observasi langsung. Sedangkan proses pembuatan maket desa dimaksudkan agar orang lain bisa melihat langsung dalam bentuk miniatur yang kami tampilkan,” ungkap M Syndhu Yoga Pratama, salah satu mahasiswa, yang juga ketua pameran.

Dosen Prodi Arsitektur, Ratri Septina Saraswati ST MT menuturkan, melalui pameran diharapkan mengasah jiwa mahasiswa dalam menengkap kearifan lokal. ”Pameran ini bertujuan mengapresiasi dan menginspirasi bagi masyarakat luas agar lebih dekat dan mengenal arsitektur yang berakar pada kearifan lokal, serta tolok ukur kekompakan dan kerja sama mahasiswa arsitektur,” tuturnya.

Dikatakan, mendekatkan mahasiswa secara langsung dengan masyarakat berikut budayanya, membuat mahasiswa lebih peka terhadap konsep ruang, sehingga teori yang mereka terima di ruang kelas bisa lekas dipraktikkan. Ratri sadar betul tantangan mahasiswa hari ini bukan lagi sebatas penguasaan teori arsitektur, tetapi juga pemahaman dan kekayaan referensi, serta pengetahuan yang dibuktikan dengan kemampuan praktik.

Ragam Budaya

Belum lama ini, empat mahasiswa arsitektur, yaitu Fajrie Ferdiansyah, Alfian Mahmud Refangga, Muhammad Syndu Yoga Pratama, dan Muhammad Ridhowan, terlibat secara langsung dengan Program Kemitraan bagi Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UPGRIS, bersama para dosen.

Tim tersebut ditantang untuk membuat desain bangunan baru pendidikan anak usia dini dan kantor desa di lahan yang kondisi tanah yang tidak datar, tepatnya di tepi sungai. ”Keterlibatan mahasiswa semacam ini bisa menjadi permulaan yang sangat bagus untuk mereka. Belajar jadi arsitek profesional sekaligus pengabdian kepada masyarakat,” ungkap Ratri.

Ketua Prodi Arsitektur Baju Arie Wibawa ST MT mengungkapkan, mahasiswa arsitektur UPGRIS tidak hanya diajarkan mengenai cara merancang wadah (context) berupa fisik bangunan saja, namun harus memperhatikan isi (content) dari bangunan yang dirancang. Manusia sebagai ”isi” bangunan memiliki aspek sosial budaya yang harus dikaji dalam merancang, dengan segala ragam budaya dan sosial yang berbeda. Budaya masyarakat di tiap wilayah disadarinya berbeda-beda. Karena itu arsitek harus memperhatikan latar belakang budaya penghuni bangunan yang dirancang secara tepat.

Hal itu bertujuan membuat penghuni bangunan memiliki rasa memiliki, kerasan, keinginan untuk memelihara, dan upaya pengembangan bangunannya dilakukan secara arif dan bijaksana. ”Dengan pendekatan ini, maka bangunan sebagai karya arsitek akan menjadi manifestasi bagi budaya masyarakatnya,” ungkap Baju. (54)

Penulis dan Fotografer : Arie Widiarto
Penyunting : Wahyu Wijayanto


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar