“New Normal” dalam Pendidikan Tinggi

Oleh Ridwan Sanjaya

"Kemampuan untuk menganalisis secara kritis menjadi salah satu keunggulan yang harus dikembangkan; tidak terjebak semata-mata pada penguasaaan alat atau teknologi."

BEBERAPA waktu lalu kita dikejutkan oleh dua nama calon wakil presiden yang terpilih sebagai pendamping dua calon presiden. Bahkan ada nama calon wakil presiden yang belum pernah muncul sebelumnya dan merupakan usulan baru dalam beberapa jam terakhir sebelum diumumkan.

Meskipun banyak yang terkejut, akhirnya dipahami sebagai sesuatu yang normal dan harus berjalan. Titik normal baru yang diterima oleh masyarakat tersebut menjadi hal yang kemudian dipahami sebagai kondisi yang wajar. Berbagai perubahan yang terus terjadi ini menciptakan kondisi yang disebut sebagai “the new normal”.

The new normal merupakan terminologi yang dipakai pada tahun 2009 oleh Philadelphia City Paper saat mengutip Paul Glover dalam menjelaskan kondisi yang semula dinilai tidak umum menjadi sesuatu yang kemudian dianggap biasa, wajar, dan akhirnya diterima secara luas.

Pada saat itu, dunia bisnis mencari titik normal yang baru setelah terjadi krisis keuangan pada 2007- 2008 dan resesi global pada 2008- 2012. Kejutan serupa juga saya alami saat diundang ke Harvard University pada Juli lalu. Saat itu ada kesempatan mendatangi sebuah restoran di kota Boston yang bernama Spyce.

Restoran ini memiliki pilihan menu masakan dari berbagai negara yang dapat dipesan sesuai dengan selera dan pantangan pemesannya. Setiap menu masakan juga sudah dihitung kalorinya dan semua pesanan itu dimasak di depan pemesannya dengan urutan berdasarkan antrean. Namun yang menarik, tidak ada koki yang memasak di restoran itu. Semua dikerjakan oleh robot melalui panci-panci induksi berbasis listrik yang terhubung ke menu pemesanan. Koki terkenal dari Prancis, Daniel Boulud, dilibatkan dalam memberikan jaminan masakan yang dihasilkan.

National Sanitation Foundation (NSF) memberikan jaminan terhadap kebersihan dan kesehatan wajan setiap masakan. Bagi dunia bisnis makanan, kehadiran rumah makan baru dengan kreativitas yang berbedabeda sudah menjadi bagian dari tantangan rutin yang dihadapi setiap waktu. Berbagai rumah makan muncul dan hilang sewaktu-waktu karena menyesuaikan selera, harga, dan status konsumennya. Namun keberadaan robot yang secara akurat mengatur komposisi bumbu makanan dan panas yang dibutuhkan dalam memasak bisa menjadi tantangan yang berbeda dan kejutan bagi profesi koki di dalam dunia bisnis makanan. Teknologi bisa menjadi normalitas baru dalam bisnis makanan.

Menurut Rosabeth Moss Kanter dalam tulisannya “Surprises Are the New Normal; Resilience Is the New Skill” yang dimuat di Harvard Business Review, kejutan-kejutan baru yang kita hadapi merupakan titik normal yang baru.

Kejutan ini sering membawa gangguan dan masa sulit bagi banyak pihak, namun kekuatan untuk pulih dengan cepat dan bangkit kembali mengejar ketertinggalan akan menjadi kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai perubahan tersebut.

Analisis Kritis

Bahkan artikel “Constant Transformation Is the New Normal” yang ditulis oleh Scott Anthony juga menyebutkan bahwa saat ini bekerja dengan baik saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi, mengurai peluang- peluang baru, dan menyediakan ruang untuk berkembang. Lulusan perguruan tinggi pun diharapkan lebih siap menghadapi kondisi yang disebut the new normal tersebut.

Kemampuan untuk menganalisis secara kritis menjadi salah satu keunggulan yang harus dikembangkan; tidak terjebak sematamata pada penguasaaan alat atau teknologi. Kompetensi menekankan pada kemampuan dalam menuntaskan pekerjaan secara substantif dan terintegrasi dengan sikap kerja; tidak bergantung pada produk, alat, atau teknologi tertentu.

Dengan begitu, kemampuan dan kompetensi yang dimiliki tidak mudah kedaluwarsa oleh perubahan yang cepat berganti sehingga akan menjadi nilai lebih untuk daya saing bekerja ataupun usaha mandiri kelak. Memahami masa depan sebagai normalitas baru yang bisa sama sekali berbeda dari yang dipelajari sebelumnya saat kuliah menuntut dunia pendidikan tinggi tidak hanya memahami revolusi industri 4.0 pada alat dan teknologi baru semata, tetapi sebagai kenyataan yang akan terintegrasi pada setiap bidang ilmu lulusannya kelak. Menghindari, menghibur diri, ataupun menyangkal akan menyebabkan lulusannya terdisrupsi dan tersingkir dari normalitas baru.

Perguruan tinggi tidak hanya mempersiapkan mahasiswanya untuk lulus dan bekerja saja atau alih-alih justru berfokus pada penguasaan teknologi semata, tetapi kemampuan analisis dalam melihat peluang dan pengembangan talenta harus diperbesar. Penguasaan softskill menjadi bagian penyeimbang lulusan perguruan tinggi ketika normalitas baru kelak mereka hadapi. Dosen tidak sekadar memikat atau menguasai materi tetapi juga berwawasan luas dan memberikan inspirasi agar setiap individu dapat bertransformasi menghadapi normalitas baru. (40)

–– Prof Dr Ridwan Sanjaya, Rektor Universitas Katolik Soegijapranata, Guru Besar Sistem Informasi.


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar