Pasar Gedawang Direvitalisasi 2019

Mangkrak Belasan Tahun

SEMARANG -Revitalisasi pasar tradisional secara menyeluruh terus dilakukan Pemkot Semarang. Proses tersebut dilakukan secara bertahap untuk 48 pasar tradisional. Setiap tahunnya, Pemkot menganggarkan pendanaan revitalisasi setidaknya bagi tiga pasar tradisional. Salah satu pasar tradisional yang direncanakan untuk direvitalisasi pada 2019 yakni Pasar Gedawang. Kondisi pasar tersebut saat ini tidak terawat dan tidak layak untuk ditempati karena banyak bangunan yang roboh. Bahkan, kawasan sekitar telah ditumbuhi ilalang yang cukup tinggi. Pasar Gedawang sebenarnya pernah dilakukan perbaikan talud dan jembatan akses beberapa tahun lalu. Hanya saja, kondisi pasar yang sepi membuat pedagang memutuskan menutup kios mereka.

Pasar saat ini masih berfungsi, namun cuma diisi pedagang daging dan sayuran. ”Mereka menempati dua los di pasar tersebut. Selain itu, aktivitas pasar masih digunakan bagi kegiatan komunitas burung kicauan asal Gedawang dan Pudakpayung. Lomba digelar setiap setengah bulan sekali. Pasar Gedawang rencananya akan diajukan anggaran revitalisasi pada 2019,’’ ujar Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, Jumat (14/9).

Menurut Fajar, ia sering menerima keluhan pedagang terkait sepinya kondisi di pasar tradisional. Dijelaskan, jika usaha meramaikan pasar bukanlah merupakan tupoksinya.

Dinas hanya memberikan pemenuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan pedagang, serta mengatur kondisi yang ada di sekitar pasar. ”Teknis jual beli harusnya pedagang paham dan bisa sabar, karena prosesnya memang membutuhkan waktu tidak sebentar. Apalagi saat mereka direlokasi berarti harus kembali babat alas,” katanya.

Inovasi Pedagang

Pasar, imbuh Fajar, bisa ramai dalam jangka waktu sebulan, tiga bulan, setahun atau bahkan dua tahun. Untuk meramaikan pasar, maka pedagang harus bisa improvisasi mencari cara.

Fajar mencontohkan, seperti di Taman Kasmaran, pedagang kuliner mengalami sepi pembeli, mereka meminta izin mengganti dagangannya dengan laptop dan komputer. Ia pun mengizinkan, karena maklum bahwa pedagang membutuhkan pemasukan guna memberi makan keluarga mereka. ’’Sama halnya saat pedagang Pasar Bulu mengeluhkan sepi pada saat pagi hari, ternyata mampu ramai sore harinya berkat usaha kuliner. Jadi, saya pikir ini terkait inovasi dan kiat pedagang untuk kreatif dalam meramaikan dagangan mereka,’’ ungkapnya.

Salah satu pemilik kios di Pasar Gedawang, Ade Desiwati, mengeluhkan kondisi mangkraknya Pasar Gedawang kepada Dinas Perdagangan Kota Semarang. Ia menceritakan telah membeli kios sejak 2008. Sempat membuka jualan selama setahun, namun akhirnya menyerah dan menutup kiosnya karena sepi pembeli. ’’Beberapa bulan kemarin saya coba kembali ke Pasar Gedawang tapi sudah tidak bisa masuk karena ilalang sudah sangat tinggi. Kami mohon agar Pemkot bersedia untuk memperhatikan ini,’’katanya. (ary-61)


Berita Terkait
Komentar