Bulog Masih Salurkan Beras Sejahtera

SOLO - Meski Bulog sudah tidak lagi memonopoli penyaluran beras sejahtera (rastra) bagi masyarakat kurang mampu, tetapi BUMN itu masih bisa menyalurkan beras.

Yakni dengan cara memasok beras ke e-warong, tempat di mana masyarakat penerima bantuan pangan mengambil beras dan bantuan lainnya secara nontunai.

Keberadaan Bulog, kata Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial, Andi AZ Dulung, sama seperti pemasok lainnya. Di mana beras yang disalurkan atau dipasok ke e-warong harus berkualitas dan harganya juga harus kompetitif.

Menurut dia, penyaluran bahan pangan nontunai (BPNT) adalah salah satu cara untuk mengalihkan rastra yang selama ini dikomplain atau dikeluhkan penerima bantuan. “Secara nasional, penerima bantuan rastra sekitar 15,6 juta KK (kepala keluarga).

Diharapkan sekitar 10 juta KK tahun ini sudah bisa mengambil bantuan secara nontunai di e-warong, sisanya tahun depan,” kata Andi di sela penyerahan BPNT di Kantor Kecamatan Jebres Solo, Kamis (13/9).

Perbaiki Sistem

Menteri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, sistem penyaluran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah pada masyarakat kurang mampu, terus diperbaiki dari tahap ke tahap.

Pihaknya berharap, model bantuan pangan nontunai (BPNT) yang kini diberlakukan bisa seperti yang diharapkan. Yakni, tepat sasaran, tepat guna, tepat waktu, tepat manajemen, dan tepat harga. “Penyaluran bantuan sosial model BPNTini lebih tertib administrasi, dan mengantisipasi terjadinya korupsi. BPNT juga lebih efektif dan efisien karena meniadakan antrean panjang dalam pengambilan bantuan serta meniadakan biaya,” kata Agus.

Dalam kesempatan itu, Mensos juga mengingatkan keluarga penerima manfaat BPNT dan bantuan sosial program keluarga harapan (PKH) segera mandiri sehingga tidak lagi bergantung pada subsidi pemerintah. Ia mencontohkan, di Solo jumlah penduduknya pada siang hari mencapai 2 juta orang, kalau malam hari sekitar 500.000 orang. Meningkatnya jumlah penduduk pada siang hari merupakan pasar yang sangat potensial.

Pihaknya berharap masyarakat khususnya ibu rumah tangga mau memanfaatkan potensi itu dengan membuka usaha kecil. Menurut dia, jika di kemudian hari KPM mengalami kenaikan tingkat dari sisi perekonomian, pemerintah tidak akan lepas tangan. Pemerintah akan terus mendampingi dengan melakukan pendampingan sesuai jenis-jenis usaha yang ingin digeluti oleh ibu-ibu. “Bangga bagi saya jika tahun depan tercipta pelaku usaha baru. Untuk pasarnya kemana akan dibantu,” jelasnya.

Untuk memudahkan masyarakat, pemerintah telah mengeluarkan terobosan layanan antar menggunakan kendaraan roda tiga untuk penyaluran komoditas yang bisa dibeli melalui BPNT, seperti beras dan telur ayam. “Kami memperoleh bantuan dari BNI berupa empat unit sepeda motor yang dilengkapi bak terbuka untuk mempermudah proses mengantar komoditas dari e-warong sebagai penyedia komoditas kepada KPM,” katanya.

Kemudahan lain adalah dengan memperbanyak pembentukan ewarong. Ia mengatakan, untuk di Kota Solo saat ini jumlah e-warong sebanyak 98 tempat dari total kebutuhan 113 tempat.(G8-50)