Tukang Ojek Kemuning Dilatih Bahasa Inggris

TUKANG ojek konvensional yang biasa mangkal di sekitar Pasar dan Terminal Kemuning, kini tidak lagi gagap jika harus menghadapi wisatawan asing yang ingin memakai jasanya. Sejak beberapa waktu terakhir, pengojek yang tergabung dalam Paguyuban Ojekku Pater Kemuning itu intensif belajar bahasa Inggris.

Pengajarnya adalah guru dari SMKN Ngargoyoso, yang setiap Pon dan Legi meluangkan waktunya untuk mengajar bahasa Inggris bagi para penarik ojek tersebut.

Sambil duduk lesehan di pangkalan, mereka diajari kalimat-kalimat bahasa Inggris, yang biasa dipakai dalam percakapan dengan wisatawan asing. Mulai dari sapaan good morning, good evening, good afternoon, sampai kalimat untuk tawar menawar harga, maupun kalimat untuk menunjukkan tujuan wisata di kawasan tersebut.

Meski usianya tak muda lagi, kebanyakan di atas 50 tahun, bahkan ada yang buta huruf dan tak bisa membaca, para pengojek itu dengan semangat menyimak pelajaran yang disampaikan. Tanpa canggung, mereka juga mempraktikkan percakapan dengan menggunakan kata dan kalimat yang sudah dipelajari. ''Salah mengucapkan tidak apa-apa, yang penting berani. Kalau ada wisatawan asing datang, langsung ditawari.

Tentu dengan sapaan yang santun dan jangan lupa senyum,'' tegas Konsultan Pengajar House Keeping dan Komunikasi Pariwisata SMKN Ngargoyoso Widodo, yang menjadi salah satu sukarelawan pengajar.

Tata Krama

Selain diajari bahasa Inggris, tukang ojek itu juga diberi pemahaman tentang tata krama. ''Attitude harus diperhatikan dalam melayani penumpang. Berpakaian rapi, sopan, bau badan juga yang fresh agar turis yang dilayani senang,” ujarnya.

Sekretaris Paguyuban Ojekku Pater Kemuning Sutarmo menuturkan, sebelum diajari bahasa Inggris, tukang ojek sering kebingungan saat menghadapi turis asing yang akan menggunakan jasanya. ''Akhirnya pakai bahasa isyarat. Kalau tawar menawar harga, menunjukkan angka di kalkulator. Jadinya lucu. Sama-sama bingung, tidak paham, turis dan tukang ojeknya saling ketawa,'' tuturnya.

Pernah, Paguyuban mengajukan permintaan ke instansi terkait agar diadakan pelatihan bahasa Inggris. Sebab, wisatawan asing yang datang di Kemuning cukup banyak. Biasanya, mereka akan berkunjung ke Candi Cetho, atau objek wisata lain yang ada di sekitarnya. ''Tapi permintaan kami belum terealisasi. Beruntung, dari SMKN Ngargoyoso malah memberi bimbingan bahasa Inggris pada kami. Sudah enam kali pertemuan, setiap Pon dan Legi, kami diajari Bahasa Inggris,'' jelasnya.

Dari 25 tukang ojek yang tergabung dalam paguyuban, hanya 12 hingga 13 orang yang aktif mengikuti pelatihan. Waktu belajar tiap pertemuan rata-rata dua jam. Waktu belajar juga tidak mengganggu aktivitas mengangkut penumpang. Jika ada orang yang akan menggunakan jasanya, tukang ojek tersebut bisa meninggalkan kegiatan belajar sewaktuwaktu. ''Sekarang sudah lumayan. Paling tidak bisa tawar menawar, bisa menjelaskan medan menuju lokasi yang dituju seperti apa, sehingga bisa menawarkan tarif yang sesuai. Sudah lebih pede, kalau ketemu turis asing,'' ujarnya.

Kepala SMKN Ngargoyoso Sri Eka Lelana mengatakan, ada tiga guru yang menjadi sukarelawan mengajar bahasa Inggris bagi tukang ojek tersebut. ''Ya ini bentuk kepedulian pihak sekolah pada lingkungan. Karena banyak turis asing yang datang ke Ngargoyoso, jadi penyedia jasa transportasi, dalam hal ini tukang ojek, perlu pembekalan bahasa Inggris. Biar lebih optimal dalam melayani. Alhamdulillah, respons penarik ojek bagus. Mereka semangat belajar, meski usianya tidak muda lagi,'' imbuhnya. (Irfan Salafudin-62)


Berita Terkait
Komentar