Mengupas Perjalanan Ngesti Pandawa

SM/Aristya Kusuma Verdana : BERI PENJELASAN : Penulis buku ’’Jalan Sunyi Ngesti Pandowo’’, Bambang Iss Wirya berbicara saat peluncuran buku tersebut di Gedung PWI, Jalan Tri Lomba Juang, Rabu (12/9). (22)
SM/Aristya Kusuma Verdana : BERI PENJELASAN : Penulis buku ’’Jalan Sunyi Ngesti Pandowo’’, Bambang Iss Wirya berbicara saat peluncuran buku tersebut di Gedung PWI, Jalan Tri Lomba Juang, Rabu (12/9). (22)

SEMARANG SELATAN - Buku pertama yang mengulas secara khusus Wayang Orang (WO) Ngesti Pandawa berjudul ’’Jalan Sunyi Ngesti Pandowo’’diluncurkan gedung PWI, Jalan Tri Lomba Juang, Rabu (12/9).

Buku karya Bambang Iss Wirya tersebut berisi perjalanan WO Ngesti Pandawa dari kisah para pendiri hingga cara bertahan yang acap menemui kesulitan. ’’Menulis WO Ngesti Pandawa adalah cita-cita saya. Sejak lama saya mencintai wayang orang,’’ kata Bambang saat peluncuran buku.

Dia menjelaskan, sekitar 1970- an saat masa kejayaan WO Ngesti Pandawa, dirinya tidak sempat menikmati pertunjukannya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan almarhum pemimpin WO Ngesti Pandawa, Cicuk Sastro Sudirdjo, yang merupakan teman waktu SMA. ’’Saya rutin menonton WO Ngesti Pandawa. Muncul keresahan di benak saya, penontonnya tidak banyak. Pemainnya juga banyak yang sudah terlalu dewasa, bahkan lanjut usia. Anak muda jarang,’’ tuturnya.

Buku tersebut diterbitkan oleh Gigih Pustaka Mandiri dalam 121 halaman, diedit oleh Budi Maryono. Dalam catatan yang ditulis Bambang, WO Ngesti Pandawa pada usia tuanya seolah berjalan sendiri di tengah semarak globalisasi perkotaan. Tanpa ada pembelaan yang berarti dari pemerintah. ’’Buku ini berkisah kehidupan di balik layar, romantika para seniman wayang orang. Pahit, getir, ambisi, persaingan, kesetiaan, dan kebahagiaan dari para senimannya. Kondisi yang tidak banyak diketahui khalayak penontonnya, sekali pun penggemar fanatiknya,’’ungkapnya.

Dosen Universitas Negeri Semarang, Restu Lanjari mengatakan, penonton pertunjukan tradisional dilatari dari beberapa faktor. Adapun faktor tersebut antara lain genetika serta lingkungan internal dan eksternal. ’’Faktor genetika tidak ada mengakibatkan kecintaan akan budaya kurang. Faktor intern juga, apalagi ekstern. Faktor ekstern itu contohnya di sekolah belajar bahasa Jawa, yang mendasari menonton pertunjukan wayang orang,’’ ucap Restu.

Topik Seksi

Budayawan dari Yogyakarta, Agus menuturkan, buku tersebut ditulis oleh Bambang yang selama ini memiliki rutinitas sebagai wartawan. Merangkum berbagai informasi yang menghasilkan karya menyoroti kesenian tradisional wayang orang. ’’Ini bukan topik yang seksi dan menarik bagi anak muda saat ini. Bambang mengangkat WO Ngesti Pandawa penuh keprihatinan dengan ketekunannya,’’terang Agus.

Pemimpin WO Ngesti Pandawa, Djoko Mulyono mengungkapkan, selama ini setiap ada kekurangan pemain, pihaknya bekerja sama dengan Unnes. Salah satunya sebagai penampil tari pembuka. ’’Saya tidak bisa membayangkan lima tahun ke depan WO Ngesti Pandawa itu bagaimana. Harapan kami ada generasi penerus, meskipun tidak dari intern kami. Pemain dan pengrawit seluruhnya anak muda,’’ kata Djoko.

WO Ngesti Pandawa, kata dia, ibarat perusahaan adalag termasuk perusahaan nonprofit. Dari jumlah pentontom 100 orang dan tiket Rp 30 ribu, menghasilkan pendapatan Rp 3 juta. ’’Ongkos setiap pementasan adalah Rp 5 juta. Jika empat minggu membutuhkan Rp 20 juta. Setiap bulan, kami ada dana Rp 10 juta. Berarti ada kekurangan Rp 10 juta,’’paparnya. (akv-22)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar