Rekayasa Pangan, Fokus Kearifan Lokal

PRAKTIK OLAH PANGAN : Mahasiswa Teknologi Pangan UAD melakukan praktik mengolah makanan berbahan dasar pangan lokal yang higienis, beluma lama ini.(23)
PRAKTIK OLAH PANGAN : Mahasiswa Teknologi Pangan UAD melakukan praktik mengolah makanan berbahan dasar pangan lokal yang higienis, beluma lama ini.(23)

PANGAN merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi untuk keberlangsungan hidup manusia. Permasalahannya, tidak semua makanan memiliki kandungan gizi yang baik. Bahkan tidak sedikit yang cenderung memiliki zat-zat yang berdampak negatif bagi kesehatan. Di sinilah pentingnya penelitian dan pemanfaatan pangan lokal perlu mendapat perhatian serius.

Program Studi Teknologi Pangan yang berada di dalam Fakultas Teknologi Industri Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta melihat betapa pentingnya kelayakan pangan bagi manusia.

Akan tetapi bukan sekadar layak, prodi tersebut berkomitmen melakukan riset kelayakan pangan namun fokus pada kearifan lokal. Pasalnya, ketersediaan bahan pangan lokal cukup berlimpah dan belum dimanfaatkan secara maksimal.

”Banyak faktor yang menentukan kelayakan konsumsi, dua di antaranya bahan baku dan cara pengolahan. Kami berupaya menempatkan kearifan lokal sebagai salah satu fokus utama dalam hal rekayasa pangan,” tutur Ketua Program Studi Teknologi Pangan, Ika Dyah Kumalasari PhD.

Ia memaparkan ada tiga hal yang menjadi fokus perhatian program studi yakni lokal, halal, dan fungsional. Indonesia sebagai negara tropis memiliki banyak bahan dasar makanan yang melimpah.

Karena itu kampus mengajarkan kepada mahasiswa terkait bahan dasar dan cara pengolahannya berdasar kearifan lokal. Tujuannya tentu untuk mengangkat potensi lokal Indonesia supaya dikenal masyarakat luas, tidak hanya dalam negeri tetapi juga seantero dunia.

Kekayaan Berlimpah

Kekayaan alam negeri ini menurutnya sangat berlimpah, hanya saja kurang sentuhan untuk inovasi-inovasi pengolahan mulai dari pembibitan, pembesaran sampai hasilnya. Kebanyakan hasil tanaman pangan untuk pemenuhan kebutuhan dasar tanpa upaya pengolahan yang kreatif agar lebih bernilai dari sisi higienitas sekaligus ekonomis.

”Kami di Teknologi Pangan banyak melakukan riset dan pengabdian kepada masyarakat terkait potensi bahan pangan lokal. Hal ini dilakukan untuk mengedukasi masyarakat supaya tidak bergantung pada produk pangan instan dan impor dari luar negeri,” tandas Ika.

Penelitian bahan dasar pangan lokal mulai dari kandungan gizi hingga cara pengolahan supaya kandungan zat-zat di dalamnya tidak rusak. Inovasi rekayasa pangan berdasar kearifan lokal harus terus dikembangkan supaya Indonesia menjadi negara yang mandiri pangan. Ika menambahkan, banyak bahan dasar pangan lokal yang belum dieksplorasi. Ia menyebut misalnya umbiumbian, kacang-kacangan hingga buah dan sayuran.

Menurutnya, sumber bahan pangan lokal perlu diangkat selain untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat juga supaya tidak punah. ”Dari segi gizi pun bahan-bahan asli Indonesia memiliki manfaat yang bagus bagi tubuh, jauh lebih baik dibandingkan dengan makanan instan apalagi yang impor,” katanya.

Teknologi Pangan UAD melihat kondisi itu sebagai peluang untuk mengembangkan penelitian secara ilmiah sekaligus mengembangkan variasi produk pangan yang berstandar internasional. Dampaknya, pangan lokal memiliki nilai jual tinggi, bisa diekspor, dan mampu bersaing dengan bahan pangan negara lain.(23)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar