Ajarkan Proses Penelitian dan Produksi Halal

PRODUK halal kini menjadi kebutuhan setiap orang, tidak terbatas lagi pada umat muslim. Berbagai negara yang penduduknya mayoritas non Islam sudah mulai melirik produk halal terutama makanan dan obat.

Mereka mulai terbuka pentingnya produk halal bagi kesehatan manusia setelah belajar dari masyarakat muslim dan merasakan manfaatnya. ”Karena itu dalam setiap mata kuliah, kami sisipkan pentingnya mengenal proses atau bahan halal kepada mahasiswa,” ungkap dosen Teknologi Pangan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Amalya Nurul Khairi STP MSc.

Bagi dosen asal Magelang ini, mengenal produk halal mulai dari proses, alat, dan bahannya merupakan hal mendasar apalagi banyak produk dari luar yang menggunakan bahan tidak halal. Tentu saja bagi mereka yang mayoritas muslim perlu waspada. Terlebih, banyak produk yang tidak terdaftar sebagai produk halal.

Berdasarkan data yang ia peroleh, tercatat data sertifikasi halal LPPOM MUI Pusat pada Oktober 2017 jumlah perusahaan sebanyak 1.169, dengan jumlah produk 52.982 namun jumlah produk yang sudah tersertifikasi halal hanya ada 1.516. Hal ini tentu masih perlu proses penyadaran supaya perusahaan-perusahaan melakukan sertifikasi kehalalan produknya.

”Banyaknya produk yang menggunakan bahan gelatin dari babi membuat kami waswas, terlebih produk dari luar. Apalagi masyarakat yang konsumtif sangat minim pengetahuan tentang halal dan tidak halal. Kami dari Prodi Teknologi Pangan terus mencari solusi agar tidak makan makanan yang mengandung gelatih dari minyak babi atau bahan lain yang tidak halal,” papar Amalya.

Libatkan Mahasiswa

Melihat kondisi tersebut, ia menyebutnya sebagai peluang untuk melakukan edukasi penyadaran produk halal dan membuat produk makanan yang bisa terjamin kehalalannya. Kampusnya juga ingin tetap menjaga kualitas makanan tanpa menggunakan bahan yang tidak higienis dan tidak halal.

Pengampu mata kuliah Sifat Fisik Bahan Pangan ini mencontohkan, gelatin dari bahan babi memang paling bagus untuk produk tertentu selain itu juga murah.

Akan tetapi sebenarnya gelatin bahan babi bisa diganti dengan kitosan dari minyak ikan, udang dan sapi, hanya lebih mahal. ”Kami terus mengkaji dalam penelitian dan agar lebih maksimal kami mengikuti banyak pelatihan tentang produk halal di dalam maupun luar negeri.

Upaya tersebut kami lakukan agar mendapatkan solusi yang tepat untuk bahan tidak halal yang bisa diganti dengan bahan halal,” tandas Amalya yang sedang meneliti ”Efek Fortifikasi Ekstrak Gambir pada Mutu Mi Ketela Khas Pundong.

Selain penelitian, kampus juga telah melakukan praktik membuat produk sendiri sebagai penganti produk yang tidak halal. Kegiatan itu melibatkan mahasiswa supaya edukasi produk halal lebih mudah karena mahasiswa merupakan penyambung dosen di masyarakat.(23)

Foto dan teks : Agung PW
Penyunting : Dwi Ani Retnowulan


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar