TONTON VIDEONYA dihttps://www.suaramerdeka.com/sm tv atau scan QR Code

Realisasi Investasi Jateng Rp 27,63 Triliun

Semester I 2018

SM/Irawan Aryanto : FORUM BISNIS : Kepala DPMPTSP Jateng, Prasetyo Aribowo (kanan) berbicara pada ”Business Forum” yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng bersama Kawasan Industri Kendal (KIK) di Po Hotel Semarang, Rabu (15/8). (46)
SM/Irawan Aryanto : FORUM BISNIS : Kepala DPMPTSP Jateng, Prasetyo Aribowo (kanan) berbicara pada ”Business Forum” yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng bersama Kawasan Industri Kendal (KIK) di Po Hotel Semarang, Rabu (15/8). (46)

SEMARANG - Investasi sektor konstruksi di Jawa Tengah (Jateng) semester I 2018 berhasil menyodok bidang tekstil yang pada periode sama setahun lalu ada di posisi teratas penanaman modal dalam negeri (PMDN). Kendati penanaman modal asing (PMA) agak melandai, tetapi secara keseluruhan realisasi investasi Jateng mencapai Rp 27,63 triliun atau 59% dari target sampai akhir tahun ini sebesar Rp 47,15 triliun.

Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, Prasetyo Aribowo mengungkapkan, sebenarnya masih ada yang belum terlaporkan karena sistem pusat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sudah terkunci, jumlahnya bisa mencapai Rp 15 triliun.

Kota Semarang dalam hal ini menggeser Kabupaten Karanganyar yang pada periode sama tahun lalu ada di peringkat pertama. ”Masih lebih banyak PMDN dibandingkan PMA, memang ada yang sudah melapor, tetapi sistem sudah terkunci di tanggal 10 sehingga ini bisa jadi cadangan. Tetapi memang ada juga yang belum melaporkan, padahal ini kewajiban yang harus dilakukan,” ujar Prasetyo pada kegiatan ”Business Forum” yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng bersama Kawasan Industri Kendal (KIK) di Po Hotel Semarang, Rabu (15/8).

Menurut Prasetyo, target hampir Rp 50 triliun itu optimistis bisa tercapai mengingat masih ada banyak proyek yang harus diselesaikan akhir tahun ini. Selain jalan tol, sektor Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang juga akan mulai memasukkan mesinmesin impor dengan nilai miliaran dolar AS.

Lokasi Terintegrasi

Wakil Ketua Umum Kadin Jateng, Bernardus Arwin menilai, Jateng menjadi provinsi yang diunggulkan dalam persaingan nasional. Tidak hanya dari aspek infrastruktur yang terus berbenah, tetapi juga efisiensi dan daya saing yang sudah lebih baik.

Forum Bisnis yang digelar Kadin bekerja sama dengan KIK itu sekaligus melihat potensi pengembangan industri di Jateng yang luar biasa. ”Melimpahnya bahan baku di Jateng untuk berbagai sektor industri pengolahan makanan harus diakomodasi dengan lokasi industri yang terintegrasi. KIK di Kendal sudah mempelopori langkah membentuk supply chain yang akan mendukung industri termasuk pengolahan makanan. Sektor ini sangat strategis, dan dengan terpenuhinya bahan baku sampai pengemasan di satu tempat ini akan meningkatkan daya saing ekonomi,” terang Arwin.

Stanley Ang dari KIK menambahkan, upah minimum kabupaten/ kota yang sangat kompetitif juga menjadi daya tarik investasi di Jateng, sehingga investor beramai-ramai memindahkan lokasi pabriknya ke Jateng.

Dari sisi infrastruktur, KIK mengusahakan agar seluruh kebutuhan sampai ke hilir dan seluruh ekosistem terkait bisa ada di satu lokasi untuk menekan biaya operasional. ”Sudah ada 43 tenant dari berbagai sektor industri dan kami terus mendorong potensi di Jateng untuk bisa berkembang di lokasi industri yang sudah terintegrasi,” ungkap Arwin. (J14-46)