Impor Bahan Baku Harus Ditekan

SEMARANG- Sektor makanan dan minuman memang sudah selayaknya menjadi prioritas dalam pembangunan industri pangan nasional. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada triwulan I 2018 saja, industri makanan dan minuman mengalami pertumbuhan tertinggi kedua setelah kelompok industri mesin dan perlengkapan. Kelompok industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 12,7% year on year (yoy).

Terus meningkatnya sektor industri ini didorong oleh naiknya pertumbuhan industri makanan yang tumbuh 13,01%, sedangkan industri minuman tumbuh 5,06% atau jauh lebih baik dari tahun 2017 yang mengalami penurunan produksi.

Direktur Perencanaan Manufaktur Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Said Ridwan menyampaikan, pengembangan industri pangan nasional termasuk di dalamnya sektor makanan dan minuman memang jadi prioritas. ”Kami akan optimalkan dengan foreign direct investment (FDI) untuk menarik investasi, khususnya di bidang pangan (makanan dan minuman-Red). Makanan olahan ini jadi salah satu industri andalan yang masuk dalam prioritas,” ujar Said dalam ”Business Forum” yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng bersama Kawasan Industri Kendal (KIK) di Po Hotel Semarang, Rabu (15/8).

Kembangkan Produktivitas

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman menambahkan, potensi dan kontribusi sektor industri makanan dan minuman sangat besar. Kendati demikian, kebutuhan bahan baku yang masih harus diimpor ini menjadi tantangan bagi sektor industri.

Apalagi dengan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cukup mengkhawatirkan para pelaku usaha yang harus mengimpor bahan baku untuk industri makanan dan minuman. Meski dari sisi keunggulan Jateng hampir memiliki semuanya, pemerintah daerah setempat perlu mengembangkan produktivitas termasuk dari aspek sumber daya manusia (SDM) untuk bisa bersaing, khususnya di sektor industri makanan dan minuman. ”Kami berharap industri ekstraksi di hulu untuk produksi makanan dan minuman ini perlu didorong supaya ketergantungan impor bahan baku bisa ditekan,” kata Adhi dalam diskusi yang dipandu Leonard Samosir itu.

Jika hal tersebut bisa diwujudkan, menurut dia, sektor industri makanan dan minuman bisa mengalami peningkatan signifikan serta memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.

Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Kabupaten Kendal Soepardjan menambahkan, keberadaan KIK di wilayahnya tentu membuat pemerintah kabupaten (Pemkab) terus berbenah supaya bisa lebih banyak menarik investor datang dan menjalankan usahanya. Kebijakan daerah pun diarahkan untuk mendukung investasi, termasuk di dalamnya produk olahan pangan. (J14-46)