Ditunggu Dua Pekerjaan Rumah

Hari Jadi ke-68 Provinsi Jawa Tengah

SM/Maulana M Fahmi - BERJABAT TANGAN : Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Wakil Gubernur Heru Sudjatmoko berjabat tangan. (55)
SM/Maulana M Fahmi - BERJABAT TANGAN : Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Wakil Gubernur Heru Sudjatmoko berjabat tangan. (55)

SEMARANG - Jawa Tengah yang saat ini memasuki usia 68 tahun memiliki dua pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Dua hal penting itu yakni persoalan kemiskinan dan kendala koordinasi lintas sektoral dan struktural.

Hal tersebut diungkapkan pengamat politik kebijakan publik Universitas Negeri Semarang (Unnes) Cahyo Seftyono kepada Suara Merdeka terkait peringatan HUT ke 68 Provinsi Jateng, Rabu (15/8).

”Angka kemiskinan kita masih relatif tinggi di skala nasional, meskipun usaha pengurangan angka kemiskinan itu sudah dilakukan. Oleh karenanya, perlu upaya yang lebih komprehensif dalam menangani ini. Misalnya dengan program pemberdayaan perempuan dan juga penguatan sektor informal,” papar Cahyo.

Data di BPS pada Maret 2018 menyebut, jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah mencapai 3,9 juta orang (11,32 persen) yang berarti berkurang sebesar 300.- 290 orang dibandingkan dengan kondisi September 2017 yang berada pada angka 4,20 juta orang (12,23 persen).

Angka tersebut juga lebih kecil dari 2016 sebesar 13,19 persen dan 2015 sebesar 13,32 persen. Berbanding lurus dengan angka kemiskinan yang terus menurun, jumlah pengangguran terbuka juga terus menurun.

Dari angka 4,99 persen pada 2015, turun menjadi 4,63 persen (2016), dan kembali turun di angka 4,57 persen (2017). Selain isu soal kemiskinan, Cahyo mengungkapkan pekerjaan rumah lain adalah kendala koordinasi lintas sektoral dan struktural.

Menurut dia, dalam beberapa kasus, persoalan pembangunan di Jawa Tengah juga sangat dipengaruhi oleh kinerja institusi yang ada di bawahnya. Dalam hal ini kinerja wali kota dan bupati beserta jajarannya. ”Seperti kebijakan pendidikan dan kesehatan misalnya. Sebenarnya ada terobosan positif dari Pemprov seperti Kartu Jateng Sejahtera (KJS).

Hanya saja selama ini Pemprov seperti jalan sendiri. Karenanya secara simultan harus dikerjakan bersama pemerintahan di tingkat kota/kabupaten agar bisa terlaksana dengan baik,” jelasnya. Sementara itu, Upacara Peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Jateng dilangsungkan di Lapangan Pancasila (Simpanglima) Semarang, Rabu (15/8).

Dalam pidatonya, Gubernur Ganjar Pranowo menyatakan Pemprov Jateng sangat fokus terhadap pembangunan sumber daya manusia karena merupakan faktor penentu kemajuan Jateng. ”Saat ini Jawa Tengah punya tiga SMK boarding gratis untuk siswa miskin berprestasi yang lokasinya di Kabupaten Purbalingga, Pati, dan Kota Semarang,” jelasnya.

Ia menambahkan, selain pembangunan SDM, persoalan kemiskinan akan terus didorong dengan penurunan angka kemiskinan sampai single digit. Bahkan, penurunan persentase penduduk miskin Jawa Tengah saat ini merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa.

Salah satu hal yang signifikan mengurangi angka pengangguran tersebut adalah semakin tumbuhnya sektor industri di Jateng. ”Zona merah kemiskinan masih jadi PR kita bersama. Oleh karena itulah pembangunan kita arahkan kepada masyarakat miskin dan tidak mampu, khususnya petani, nelayan, dan UMKM.

Seperti pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Kartu Tani, KJS, pemberian akses kredit usaha yang mudah dan berbunga rendah bagi UMKM,” jelasnya. Ganjar menjelaskan, pembangunan RTLH yang memakai dana APBD Provinsi pada 2017 meningkat drastis sebanyak 19.587 rumah dari 3.601 rumah pada 2016.

Jumlah tersebut belum termasuk program CSR dan program pembangunan RTLH dari kabupaten/ kota. Dalam kesempatan tersebut, Ganjar juga mengucapkan terima kasih kepada Wagub Heru Sudjatmoko. (G2-56)


Berita Terkait
Komentar