Ziolit Raih Emas di Jepang

Mewakili Indonesia, tujuh mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) berjaya di ajang kelas dunia. Lewat produk penelitian ziolit, mereka meraih medali emas dalam Japan Design, Idea & Invention Expo 2018.

Ketujuh mahasiswa itu ialah Ari Purnomo, Ilham Nur Hakim Rambe, dan Chusnul Khotimah dari Teknik Kimia, Falasifah dan Amalina Nabila Sulistyo Rini dari Biologi, serta Rizka Zakiyatul dari Fisika dan Ajeng Kurniawati dari Agribisnis. Tim ini bermula dari pertemuan Ari dan Sifa, sapaan Falasifah, di sebuah event Malaysia.

Merasa punya ketertarikan yang sama di bidang energi terbarukan, keduanya sepakat membentuk kelompok penelitian. Ari menggandeng kawan-kawannya di Teknik Kimia, sedangkan Sifa mengajak relasinya dari jurusan Fisika dan Agribisnis.

Mengingat dalam keseharian kebutuhan biofuel sangat diperlukan, tim yang diketuai Ari ini tertarik menciptakan teknologi bioetanol sebagai pengganti premium dan biodiesel sebagai pengganti solar dengan metode yang lebih efektif dan efisien.

”Singkatnya, kami membuat terobosan agar biofuel yang kami ciptakan bisa menghemat energi, tahapannya lebih sederhana, dan dapat menekan biaya,” jelas Sifa.

Sifa melanjutkan, bioetanol dan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif bisa menggantikan bahan bakar fosil, yang notabene lebih mahal, asalkan memiliki tingkat kemurnian 99.5 persen.

Inilah yang menjadi tantangan Ari dan kawan-kawan. ”Inovasi dari proses pemurnian etanol dalam penelitian ini dengan mensintesis zeolit. Zeolit ini bersifat hidrofobik sebagai agen pemisah dalam pembuatan biofuel,” Sifa menambahkan.

Sejatinya etanol tergolong murah, namun proses pemurniannya yang membuat etanol mahal. Dengan zeolit, etanol mampu terserap sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga mampu menghemat energi, waktu, dan biaya operasional.

Caranya dengan adsorpsi hidrolik terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan desorpsi etanol. ”Pada penelitian sebelumnya, yang biasanya diserap adalah air. Padahal air berjumlah banyak sehingga energi yang dibutuhkan lebih besar dan biaya lebih tinggi,” kata Sifa.

Siapkan Presentasi

Ari dan kawan-kawan bukan satusatunya tim asal Indonesia yang lolos dalam Japan Design, Idea & Invention Expo 2018. Tercatat ada 18 tim dari universitas se-Indonesia, enam di antaranya dari Undip.

Sejak mengirimkan abstrak penelitian ke panitia pada Mei lalu, Tim Zeolit tidak menyangka bisa terbang ke Jepang, apalagi memenangkan kategori Renewable Energy and Environmental.

Biaya, misalnya, menjadi kendala utama perjuangan Ari dan kawan-kawan. Beruntung, pihak Undip dan beberapa perusahaan bersedia menopang kebutuhan tujuh peneliti muda ini. Sesampainya di Jepang, Tim Zeolit bekerja keras menyiapkan presentasi dan stan untuk memamerkan produk.

Hasil penelitian tim lain, terutama tim dari Polandia, sempat membuat Ari dan kawan-kawan minder. Maklum, dengan dana operasional yang besar dan bahasa Inggris yang fasih membuat tim Polandia tampil meyakinkan.

Namun, penilaian juri berkata lain. Tim Zeolit berhasil meraih emas lantaran lebih unggul dalam hal analisis. Mereka menggunakan analisis tingkat dunia, sementara tim lain hanya analisis tingkat nasional.

Untuk para investor yang ikut mendatangi Japan Design, Idea & Invention Expo, analisis semacam itu berpengaruh besar. Ditambahkan Ajeng, timnya terus melakukan pengembangan dari beberapa penelitian sebelumnya sehingga secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

”Kami berharap tidak hanya berhenti di penelitian, tapi juga bisa ditindaklanjuti pemerintah. Walhasil pemerintah, industri, dan mahasiswa bisa berjalan beriringan demi kemajuan Indonesia,” tutup Ajeng. (Sofie Dwi Rifayani-53)


Baca Juga
Komentar