Berharap Dana Bantuan Segera Turun

Renovasi Kompleks Masjid Agung

SM/ M Ilham Baktora - AMATI BANGUNAN: Salah seorang pengurus Masjid Agung Surakarta mengamati bangunan Bangsal Pradangga (Pagongan) yang berada di sisi selatan pelataran masjid itu, Jumat (10/8).
SM/ M Ilham Baktora - AMATI BANGUNAN: Salah seorang pengurus Masjid Agung Surakarta mengamati bangunan Bangsal Pradangga (Pagongan) yang berada di sisi selatan pelataran masjid itu, Jumat (10/8).

SOLO - Langkah-langkah untuk tetap melestarikan berbagai bangunan dalam kompleks Masjid Agung Surakarta terus dilakukan pengurus masjid setempat. Pengajuan bantuan dana untuk merenovasi bangunan bersejarah yang telah berstatus Bangunan Cagar Budaya (BCB) itu juga telah dikirimkan ke Pemkot Surakarta.

Menurut Ketua Takmir Muhammad Muhtarom, pada awal Januari 2018 lalu, Yayasan Masjid Agung Surakarta sudah mengajukan proposal renovasi dua pagongan atau Pradangga.

Namun dia tidak ingat persis, berapa kebutuhan dana yang diajukan. ”Fokus pembenahan pada dua pagongan di sisi utara dan selatan pelataran masjid. Sebab bangunan itu sudah mengalami banyak kerusakan, padahal setiap tahun digunakan untuk menabuh gamelan sekaten menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW. Kami harap dana bantuan segera turun,” kata dia, Jumat (10/8).

Kerusakan terutama pada atas sirap yang menaungi tempat untuk menabuh gamelan Kiai Gunturmadu dan Guntursari tersebut. Menurut Muhtarom, banyak sirap yang sudah rusak sehingga bocor di sana-sini saat hujan turun. Padahal, beberapa bagian atap itu sudah ditambal. Selain itu, sebagian kayu kerangka atap juga telah lapuk termakan usia.

”Karena bocor, maka perangkat gamelan disimpan ditempat yang lebih aman. Penanganan pagongan jangan sampai menunggu roboh, karena bakal butuh biaya lebih besar,” tambahnya. Mengingat dua pagongan itu berstatus juga sebagai BCB, diperkirakan renovasinya membutuhkan dana hingga ratusan juta rupiah.

Sebab bahan-bahan bangunan pengganti dan cara pengerjaannya perlu perlakuan khusus. ”Jadi tidak bisa serta merta direnovasi dengan bahan-bahan yang biasa digunakan bangunan umum. Kajian dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) juga menentukan, bahan apa saja dan biaya yang harus disiapkan untuk renovasi pagongan,” ujarnya.

Pihaknya berharap, pengajuan permohonan ke Pemkot Surakarta dapat segera terealisasi pada 2019 mendatang. ”Pemkot dan BPCB harus segera bertindak. Kalau dana dari pihak masjid, sudah pasti sangat berat, karena biaya operasional pemeliharaan juga sudah tinggi,” ungkap Muhtarom.

Dana operasional rutin masjid tersebut, selama ini dipenuhi dari infak jamaah dan parkir di kompleks Masjid Agung. Menurut dia untuk menggaji 30 pegawai masjid saja, tak cukup Rp 50 juta per bulan. Belum lagi kebutuhan listrik, air, kebersihan dan lainnya.

”Pengeluaran biaya operasional sehari-hari dapat tercukupi. Namun untuk renovasi bangunan baik itu pagongan dan menara, Pemerintah harus hadir memberikan perhatiannya,” tambah dia.(ihm-21)


Berita Terkait
Komentar