ANALISIS

Pasangan Progresif-Dinamis

Oleh Muchamad Yuliyanto

PANGGUNG politik nasional kembali mengejutkan menyusul deklarasi pasangan caprescawapres koalisi partai di luar pemerintahan yang dimotori Gerindra - PKS. Bagaimana tidak, dalam dua pekan, komunikasi politik antara tokoh Gerindra, Demokrat, PKS, PAN bahkan ijtima’ ulama yang diinisiasi GNPF - alumni Gerakan 212 melahirkan beberapa figur cawapres untuk mendampingi Prabowo Subianto.

Namun pilihan injury time jatuh pada Wakil Gubernur DKI Sandiaga Salahuddin Uno. Manuver politik koalisi ini jelas mempertimbangkan soliditas maupun keperluan praktis (sumber daya modal) dan titik temu berbagai desakan partai koalisi yang mengajukan figur sentral agar dapat berpasangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra.

Pasangan Prabowo - Sandiaga sebagai penantang capres petahana memiliki berbagai kelebihan sekaligus tantangan untuk dapat memenangi Pilpres 2019, yang dapat dijelaskan sebagai berikut. Latar belakang pasangan mantan militer dan pengusaha muda relatif masih masuk dalam persepsi positif dan ekspektasi masyarakat.

Terutama mereka yang masih mengidolakan figur militer karena jaminan stabilitas dan kepemimpinan kuat. Adapun pengusaha diharap mampu melahirkan kebijakan inovatif untuk kemajuan sekaligus menyejahterakan rakyat.

Ketegasan disiplin dan nasionalisme sebagai ciri khas militer dianggap menjanjikan basis kompetensi kepemimpinan nasional. Pengusaha dipersepsi memiliki kompetensi mendorong investasi dan jaringan luas yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Selanjutnya, Prabowo sejak 2009 telah dikenal konsisten menyuarakan nasionalisme ekonomi dengan mengangkat kekayaan alam dan SDM negeri sebagai basis merealisasikan kesejahteraan dan keadilan. Ibarat gayung bersambut, pasangannya, Sandiaga, dikenal sebagai pengusaha sukses berkat keuletan dan langkah inovatif dalam mengelola sumber daya bisnis sehingga banyak menginspirasi generasi muda.

Hal itu tentu menjadi daya tarik tersendiri pada Pilpres 2019. Pasangan ini sedari awal mengedepankan wacana mengembalikan harga diri dan martabat bangsa yang agak merosot dalam relasi maupun tatanan dunia dalam satu dekade terakhir. Hal ini dengan argumentasi sebagai bangsa dan negara besar di kawasan Asia Tenggara membutuhkan kepemimpinan kuat bervisi internasional. Cita-cita tersebut ditunjukkan melalui kombinasi figur progresif Prabowo dan sosok inovatif-dinamis Sandiaga.

Disamping itu, secara sosiopolitik pasangan ini menunjukkan spirit regenerasi kepemimpinan melalui sinergi kerja sama berdasar pengalaman memimpin karena senioritas dan usia bekombinasi sosok muda energik, produktif, dan hampir tanpa batas dengan generasi milenial.

Performa Prabowo berhasil merawat sikap negarawan, visioner, sabar, dan berwibawa dilengkapi pasangan cawapres muda, inovatif, inspiratif, dan terkesan kontemporer merupakan kombinasi yang seolah merespons tuntutan zaman now. Oleh karenanya, mereka tidak bisa dianggap enteng sebagai pesaing petahana.

Respons publik atas konsistensi sikap progresif Prabowo maupun apresiasi terhadap inovasi cawapres saat mengelola DKI bisa jadi modal meyakinkan pemilih rasional maupun milenial yang merasakan chemistry terhadap sosok Sandiaga.

Berasarkan common values maka pasangan Prabowo - Sandiaga terus mengusung tawaran konstruksi kebersamaan anak bangsa untuk memperbaiki kondisi melalui tawaran ideologi kerakyatan guna menciptakan adil makmur pada basis ekonomi dan kemasyarakatan dalam bingkai empat pilar bangsa.

Berikutnya dukungan politik para tokoh GNPF disertai komunitas alumni gerakan 212 semakin menunjukkan pasangan progresif yang dianggap mampu mengayomi dan memberikan tambatan psikologis sebagian kaum muslim kontemporer, terutama sejak perhelatan Pilgub DKI 2017 lalu.

Pasangan ini dapat disimpulkan merupakan formasi kepemimpinan kuat bersinergi dengan manajemen ekonomi inovatif beralaskan fundamen patriotisme sebagaimana gagasan besar Prabowo.

Pasangan Dinamis

Formasi pasangan penantang petahana diwarnai dinamika komunikasi politik tinggi dan kompleks. Wujudnya seperti anjangsana intensif diantara ketua umum parpol maupun pesan politik antar elite partai via media. Hal itu merupakan pelajaran penting dan edukasi keteladanan bagi rakyat.

Karena posisi sederajat dan kerja sama mutualistik ditandai saling ketergantungan, maka penyusunan pasangan sarat manuver, terkesan rumit, dan bertele-tele. Hal demikian dalam politik sesungguhnya merupakan bagian uji kompetensi kepemimpinan untuk pasangan calon bersama para elite parpol pengusungnya.

Dari awal pemunculan Prabowo sebagai capres, tarik-menarik kepentingan dan eksistensi partai melalui bargaining maupun kesepakatan menempatkan kader terbaik dalam formasi pasangan calon amat dominan.

Realitas keterwujudan pasangan ini justru menjadi tantangan berat terkait soliditas dan loyalitas parpol untuk komit dan serius bertanggung jawab memperjuangkan kemenangan dalam pilpres.

Sebab, tidak terdapatnya perwakilan internal partai dalam formasi pasangan calon, rentan memunculkan kerja setengah hati dalam menggerakkan mesin partai. Pilihan cawapres pada Sandiaga merupakan jalan kompromi yang beresiko tidak dapat memenuhi harapan tertinggi parpol koalisi, bahkan menimbulkan kekecewaan pimpinan partai.

Hal demikian merupakan efek komunikasi politik yang terbuka, sederajat, dan saling membutuhkan untuk membangun kekuatan besar guna memenangi pilpres. Disamping itu Sandiaga dianggap memiliki sumber daya kapital memadai untuk menyokong pemenangan. Namun, jika tidak segera dikelola secara elegan berpotensi menimbulkan friksi internal koalisi yang akan meruntuhkan soliditas dan kerja pemenangan.

Kehadiran Sandiaga dimaksudkan sebagai magnet politik untuk menarik simpati sekaligus dukungan kaum muda terutama generasi milenial. Kecuali itu pilihan terhadap Sandiaga juga guna meredam konflik kepentingan yang mengeras sekaligus mengakhiri kebuntuan komunikasi politik akibat keuatnya gesekan kepentingan antar parpol pengusung Prabowo.

Terbukti dengan bergabungnya Partai Demokrat pada detik-detik menjelang pendaftaran ke KPU. Pasangan Prabowo-Sandiaga terkesan dinamis disebabkan mengusung semangat oposisi dan pembaruan yang ditunjukkan melalui sikap kritis terhadap pemerintahan Jokowi, diikuti upaya menawarkan gagasan perubahan untuk perbaikan masa depan bangsa dan negara.

Selanjutnya, dinamika komunikasi politik antara tokoh parpol pengusung terlihat intens dan pragmatis sampai memasuki soal pembagian kekuasaan dan peran dalam kabinet meski belum tentu memenangi pilpres. Termasuk dengan hadirnya kekuatan sosial non partai melalui ijtimaí ulama mendesakkan nama cawapres tertentu.

Posisi parpol pengusung yang hampir seimbang merupakan tantangan tersendiri bagi Prabowo - Sandiaga dan Partai Gerindra untuk membangun kebersamaan dan keseriusan memperjuangkan keterpilihan pasangan calon. Dan sekaligus meningkatkan elektabilitas partai sebagai konsekuensi pemilu serentak DPR dan Presiden dibawah bayangbayang ambang batas parlemen 4 persen yang tak mudah diraih dalam kompetisi ketat pemilu nanti.

Terakhir, pasangan itu harus belajar dari kekalahan Pilpres 2014 yang gagal merengkuh simpati dan dukungan pemilih akar rumput akibat tampilan elitis dan tidak terbangun homofili komunikasi antara Prabowo dengan rakyat jelata.

Meski sebagian besar pemilih mengakui kualitas pasangan calon saat itu, akan tetapi jika tidak terdapat kedekatan psikologis yang bersifat emosional intuitif menimbulkan sikap enggan bahkan tidak menyatu perasaan dengan figur calon. Akibatnya mudah menggeser pada pasangan calon lain meski belum mengerti betul kualifikasinya.

Pasangan ini harus mampu membumikan diri untuk menciptakan kondisi kesamaan komunikasi dengan jutaan pemilih termasuk di wilayah Jawa Tengah yang berciri khas melankolis, sensitif, dan sering membawa perasaan saat menentukan pilihan politiknya.

Boleh tampil dinamis seraya mampu menyesuaikan kondisi sosiopsikologis masyarakat sebagai target perolehan suara tertinggi untuk memenangi kompetisi pilpres 2019. *)

Penulis adalah Pengajar Komunikasi Politik FISIP Undip dan Direktur LPSI Semarang


Berita Terkait
Komentar