Jurnalis Senior Johanes Christiono

Ungkap Sejarah Kota melalui Foto

SM/Eko Fataip : TUNJUKKAN KARYA: Johanes Christiono menunjukkan karya foto di sela-sela persiapan pameran ”Semarang Gerang” di Gedung Oudetrap, Kawasan Kota Lama Semarang, Kamis (9/8). (24)
SM/Eko Fataip : TUNJUKKAN KARYA: Johanes Christiono menunjukkan karya foto di sela-sela persiapan pameran ”Semarang Gerang” di Gedung Oudetrap, Kawasan Kota Lama Semarang, Kamis (9/8). (24)

Selama kurang lebih dua dekade berkecimpung di dunia jurnalis dan fotografer, pengalaman berharga banyak didapat oleh Johanes Christiono. Sebagian besar karyanya merupakan foto era 1980-2000. Hingga kini, foto-foto itu masih tersimpan rapi. Bagi dia, foto mampu mengungkap sejarah dan perkembangan suatu kota.

JARI telunjuk kanan Johanes mengarahkan pada salah satu koleksi foto miliknya. Foto itu menggambarkan suasana kawasan Simpanglima Semarang tahun 1981. Ia menceritakan bagaimana kondisi kawasan tersebut pada zaman itu. Ketika itu, bangunan Gelanggang Olah Raga (GOR) Simpanglima — sekarang Mal Ciputra— masih berdiri megah.

Lalu, Masjid Baiturrahman di sisi barat lapangan belum dilengkapi menara. Belum seperti sekarang, lalu lintas kendaraan pada tahun itu masih lengang. Hanya sebagian kecil kendaraan umum dan pejalan kaki melintas. ”Foto itu saya ambil dari atas naik helikopter milik Brimob Polda Jateng.

Kegiatan mayarakat yang populer saat itu komunitas sepeda. Setiap sore banyak warga bermain sepak bola di lapangan Simpanglima,” kata Johanes di sela-sela persiapan pameran ”Semarang Gerang” di Gedung Oudetrap Kawasan Kota Lama Semarang, Kamis (9/8).

Kurang lebih 200 foto era 1980-2000 akan dia pamerkan di sana. Acara akan berlangsung selama dua hari, mulai Jumat (10/12) ini. Mayoritas foto yang dipamerkan adalah karyakarnyanya. Johanes berharap foto-foto tersebut akan membuka kenangan dan ingatan, terutama pada orang yang lahir seusianya. ”Kalau foto-foto ini tidak saya pamerkan, orang tidak akan pernah tahu dan selamanya terpendam. Bagi generasi milenial, ini akan menjadi pengetahuan dan menambah wawasan. Foto-foto ini sekaligus menceritakan perkembangan dan sejarah kota,” ujarnya.

Menurut pria kelahiran Ungaran, 10 November 1962 ini, tantangan memotret pada zamannya berbeda dengan era digital sekarang. Kala itu, perangkat yang digunakan masih kamera analog, yang memiliki keterbatasan jumlah rol film. ”Dulu kalau memotret tidak tahu hasilnya sebelum dicetak, jadi harus yakin ketika mengambil gambar. Setiap momen biasanya lebih dari satu kali dipotret, tetapi juga tidak bisa sesukanya,” imbuhnya.

Pengalaman berharga selama menjadi jurnalis ia utarakan saat meliput wafatnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada Oktober 1988. Saat itu, tidak semua orang bisa menghadiri ketika proses pemakaman di Kabupaten Bantul, Daerah Isitmewa Yogyakarta (DIY). ”Tidak semua orang bisa datang atau melihat langsung. Tamu undangan terbatas, termasuk wartawan yang meliput. Begitu juga pada saat penobatan Sri Sultan Hamengkubuwono X,” jelasnya.

Karir Johanes sebagai jurnalis diawali ketika masih duduk di bangku SMA. Di sekolahnya, SMA1 Ungaran, ia pernah menulis peristiwa unjuk rasa di sekolah tersebut, terkait kenaikan sumbangan pembiayaan pendidikan. Hasil tulisan tersebut lantas ia kirimkan ke harian Suara Merdeka dan terbit pada 10 Desember 1980. Tulisan itu pun menjadi karya pertamanya yang termuat di media cetak.

Setamat SMA, ia kemudian melanjutkan pendidikan di Akademi Bahasa (Akaba) 17 Agustus 1945 Semarang, dengan mengambil Jurusan Bahasa Inggris. Seperti halnya ketika SMA, di sela-sela kesibukan kuliah Johanes tetap menyempatkan menulis dan memotret. Tak lama setelah lulus, ia pun bergabung dan diangkat menjadi karyawan Suara Merdeka, sebelum memutuskan mengundurkan diri pada 1999. (Eko Fataip-31)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar