Pasangan Akomodatif- Konstruktif

TEKA teki kotak pandora pasangan caprescawapres Pilpres 2019 terbuka sudah, dengan deklarasi Joko Widodo- KH Ma’ruf Amin.

Rasa penasaran terhadap figur pendamping calon presiden petahana menjadi trending topic perbincangan sepekan terakhir. Keputusan itu pantas diapresiasi. Koalisi sembilan parpol pendukung Jokowi mampu mewujudkan situasi smooth dan hak prerogatif capres begitu dominan, sehingga mampu meredam silang sengkarut komunikasi politik di antara pimpinan partai pengusung yang sejatinya memiliki hasrat dan peluang sama mendampingi Jokowi.

Hasil kontemplasi dan pertimbangan Jokowi bersama para pimpinan partai pengusung dengan cermat, demi kemaslahatan bangsa dan negara, memilih KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres 2019 -2024. Dukungan kuat banyak parpol diakui atau tidak memengaruhi persepsi publik tentang akseptabilitas calon dalam relasi memimpin pemerintahan melalui kerja sama parlemen dengan presiden seperti saat ini.

Jika dianalisis, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dalam perspektif dinamika sosial politik dapat dijelaskan berikut. Pertama, secara sosiologis pasangan ini membuktikan fakta sejarah kepemimpinan sejak awal kemerdekaan yakni kombinasi nasionalis- religius. Jokowi secara personal maupun parpol pengusung dominan merepresentasikan kaum nasonalis yang mengedepankan entitas kebangsaan dan kecintaan terhadap Tanah Air. Sementara KH Ma’ruf Amin merepresentaskan sosok religius dalam frame santri.

Sejarah membuktikan bahwa kontribusi santri tidak kecil bagi NKRI. Spirit keduanya menguatkan tanggung jawab merawat integrasi bangsa dan negara. Kedua, terpilihnya KH Ma’ruf Amin sepertinya mengulang spirit pasangan Gus Dur-Megawati awal reformasi dengan lebih mengakomodasi psikologis kalangan mayoritas moderat dalam menjaga kemajemukan Indonesia yang agak terasa ”masuk angin” pasca Pilpres 2014. Ketiga, pasangan Jokowi ñ Ma’ruf Amin menunjukkan sikap transformatif Jokowi yang dalam dua tahun terakhir dirasakan sebagian kaum muslim kurang mengapresiasi, apalagi menguntungkan umat. Banyak orang mungkin terkejut dengan pilihan cawapres yang selama ini dikenal ulama besar spesifik mengurusi persoalan keagamaan, dan ditarik ikut memajukan bangsa dan negara di ranah eksekutif. Keempat, pilihan Jokowi kepada ketua MUI jelas menggeser persepsi publik terhadap presiden yang dikenal representasi parpol nasionalis dan pribadi yang sebelumnya jauh dari perbincangan lingkaran tokoh umat.

Hal demikian bakal memperkuat elektabilitas Jokowi pada Pilpres 2019, terutama di basis santri dan sekaligus masyarakat awam yang mendambakan suasana sejuk dan kedamaian. Kelima, pasangan akomodatif ini juga berimplikasi positif karena makin merekatkan basis sosial yang agak ”terbelah” antara masyarakat religius dengan mereka yang awam dalam kehidupan keseharian. Hal demikian dapat dipantau dalam topik dan pesan perbincangan media sosial yang terdikotomi sejak Pilpres 2014, Pilkada DKI dan mungkin suasana batin rakyat. Oleh karena itu, akan meredam ketegangan pandangan dan sikap publik merespon kondisi negeri. Keenam, sosok KH Ma’ruf Amin menjadi simbol mayoritas muslim penjaga marwah yang moderat toleran dan pluralis mengelola kodrat kemajemukan bangsa dalam NKRI. Ketujuh, pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin dapat disimpulkan lebih mempertimbangkan perspektif sosiopsikologis guna mengakomodir dinamika keumatan dan kebangsaan agar dapat tetap bertahan dan terawat sebagaimana pesan para founding fathers kita. Jika rakyat termasuk generasi milenial memahami sejarah sosiopolitik berdirinya NKRI tentu dapat mengerti bahkan akan memberikan apresiasi. Namun apakah semua bakal terbukti, kita tunggu Pilpres 17 April 2019.

Pasangan Konstruktif

Pasangan petahana ini juga merupakan pasangan konstruktif, dengan analisis penjelasan di antaranya;

(1) keberanian Jokowi memilih tokoh NU tentu dengan pertimbangan rasa percaya diri dan kompetensi pribadi yang meyakinkan dalam memimpin pemerintahan sekaligus merealisasikan pembangunan sebagaimana visi misi saat Pilpres 2014. Kehadiran KH Ma’ruf Amin makin memperkuat spirit kepemimpinan transformatif dalam bingkai spirit keagamaan sebagaimana kultur bangsa Indonesia sejak lama.

(2) Jokowi dengan memilih Ketua Umum MUI merupakan strategi jitu mengeliminir konflik internal parpol pengusung sekaligus menyiapkan pasar bebas kompetisi capres-cawapres pada Pilpres 2024. Sehingga cawapres pilihan saat ini lebih merupakan consensus point yang menyatukan beragam kepentingan dan menempatkan eksistensi masingmasing parpol pengusung ekuivalen.

Di samping tentu kebutuhan pendamping Jokowi yang sejuk dan relatif menciptakan suasana nyaman parpol pengusung selama lima tahun ke depan.

Ke-3, pasangan ini memperkuat konstruksi kepemimpinan yang mengusung Revolusi Mental dan Nawacita yang mulai sayup-sayup terdengar setahun belakangan. Masuknya KH Ma’ruf Amin diharapkan memperkuat kembali pelaksanaan pembangunan yang telah berhasil dalam lima tahun pertama untuk dilanjutkan tetap berbingkai Nawacita. Dengan demikian, Jokowi makin leluasa dan kuat merealisasikan gagasan besar untuk kemajuan Indonesia, tanpa dibebani persoalan relasi kepemimpinan.

Senioritas KH Ma’ruf Amin jelas dibutuhkan Jokowi ibarat ”sang pamomong” mendukung penuh kebijakan dan langkah presiden mewujudkan mimpi besar. Dan tentu memudahkan dukungan simpati masyarakat seperti di Jawa Tengah. Lalu, keempat, jika memenangi Pilpres 2019 maka pasangan ini juga lebih mudah mengonstruksi kabinet sebagai mesin merealisasikan visi misi presiden lima tahun mendatang. Apalagi pasangan ini disokong koalisi besar partai yang dipastikan memiliki tujuan dan kepentingan sendiri. Selanjutnya (5) pasangan Jokowi- KH Ma’ruf Amin menunjukkan representasi konstruksi kepemimpinan teknokrat-filosofis karena semangat memajukan Indonesia lewat berbagai kebijakan pembangunan ternyata tetap membutuhkan frame nilai etis-moral guna mewujudkan Indonesia maju, sejahtera dan berkeadaban yang tinggi. Apalagi sesungguhnya Jokowi berlatar belakang pengusaha dan bukan politikus murni.

Adapun KH Ma’ruf Amin adalah misionaris etika moral melalui jalur keagamaan yang diperjuangkan selama ini. Dan terakhir (6) pasangan ini bukan tidak menghadapi tantangan berat, yakni upaya pasangan ini agar supaya mudah diterima pemilih milenial. Salah satu isu penting adalah regenerasi kepemimpinan dari faktor usia dan performa figur. Boleh jadi pasangan ini harus meyakinkan pemilih muda yang sedang galau menghadapi dinamika kehidupan kompetitif, inovatif dan optimistik, di sisi lain mereka kurang berminat menyoroti persoalan filosofis - etis dalam kehidupan. (31)

*) Mochamad Yuliyanto, pengajar Komunikasi Politik FISIP Undip, direktur LPSI Semarang.


Berita Terkait
Loading...
Komentar