Pilihan Cerdas dan Tepat

Sandiaga Uno Cawapres Prabowo

JAKARTA- Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Yusuf M Martak, menilai Joko Widodo memilih calon wakil presiden yang tepat. Pilihan Jokowi terhadap KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres dianggap merepresentasikan pasangan nasionalis-religius.

Yusuf berharap, Prabowo Subianto yang didukung penuh oleh GNPF, juga pintar memilih wakil. Dia berharap Prabowo memilih ulama untuk menjadi pendamping pada Pilpres 2019. ”Jokowi saja pilih ulama. Jokowi cerdas, masa kita enggak,” kata Yusuf di bilangan Kertanegara, Jakarta Selatan, Kamis (8/8).

Yusuf menyebut pihaknya telah memberikan dua nama baru untuk dipilih Prabowo sebagai cawapres. ”Saya kirim nama Arifin Ilham dan Aa Gym (Abdullah Gymnastiar). Kami minta dibicarakan lagi,” kata dia. ”Kalau tidak bisa daftar besok kan akan diperpanjang waktunya oleh KPU masa pendaftarannya.” Yusuf menyebut, saat ini diperlukan ulama untuk mendampingi pemimpin bangsa agar terjadi keseimbangan. Jangan sampai, kata dia, wakil presiden hanya menjadi pendamping alias ban serep. ”Sudah saatnya ulama ikut memimpin, jangan wakil presiden hanya jadi back up saja,” kata dia.

Yusuf menegaskan GNPF tidak setuju jika Sandiaga Uno mendampingi Prabowo. ”Kami tetap bersikukuh dengan hasil ijtimak ulama, wakil presiden harus dari kalangan ulama,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj mengaku tidak menyangka Joko Widodo menunjuk Rais Aam PBNU Ma’ruf Amin menjadi cawapres.

Menurutnya, PBNU menduga Mahfud MD yang akan didapuk sebagai cawapres oleh Jokowi. ”Kami tidak mengira, tidak menyangka. Dari pagi yakin Mahfud MD. Allah menunjukkan kebesaran- Nya, kehendak Allah tidak ada yang bisa menghalangi,” ujar Said Aqil dalam konferensi pers di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (9/10) malam.

Said mengucapkan terima kasih kepada Jokowi dan parpol koalisi karena telah memberikan kursi cawapres kepada Ma’ruf. Said yakin pilihan Jokowi tidak keliru. Menurut Said, Ma’ruf adalah cawapres ideal lantaran akan membuat pasangan tersebut bernuansa nasionalis- religius. Selain itu, kapasitas Ma’ruf memimpin bangsa sudah tidak bisa diragukan lagi. Kelebihan lain dari Ma’ruf di mata Said yakni seorang ulama yang bersih. Apalagi Ma’ruf saat ini juga menjadi ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). ”Kami yakin Ma’ruf Amin ulama yang bersih dari masalah-masalah yang biasanya menyangkut tokoh nasional,” kata Said.

Said lantas menjelaskan bahwa Ma’ruf adalah anggota NU tulen sejak muda. Ma’ruf adalah murid dari pendiri NU Hasyim Asy’ari. Ma’ruf pernah menjabat sebagai ketua Banser NU Serang, Banten, serta anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Nahdlatul Ulama ”Ketika berdiri PKB, era reformasi, beliau menjadi ketua Dewan Syuro. Bukan Gus Dur. Gus Dur pendiri (PKB),” ujar Said.

Penilaian positif juga dilontarkan oleh Jam’an Nurchotib Mansur alias Yusuf Mansur. Dia menilai Ma’ruf Amin sebagai sosok yang ideal untuk mendampingi Joko Widodo. Pasangan ini diharapkan mampu mendongkrak ekonomi syariah. ”Bila niatnya (Jokowi) bukan mau mendongkrak suara dari umat Islam, tapi kerja untuk umat, maka pasangan ini ideal karena Pak Ma’ruf konsen di urusan ekonomi syariah,” ujar Yusuf Mansur, kemarin.

Sebaliknya, menurut dia, jika keputusan Jokowi memilih Ma’ruf Amin murni politik belaka, ia menilai tak akan ada kekuatan untuk mendongkrak ekonomi syariah. ”Tapi saya yakin ini dilakukan dengan pertimbangan matang. Pak Ma’ruf memiliki akar rumput yang luar biasa sehingga diharapkan kontestasi ini bisa menjadi lebih adem,” ungkapnya.

Ekonomi Syariah

Tak hanya terkenal sebagai ulama dan politikus, Ma’ruf Amin juga dikenal sebagai tokoh dalam pengembangan ekonomi syariah di Tanah Air. Saat ini, Ma’ruf Amin masih menjabat sebagai Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN). Ma’aruf juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah di beberapa bank syariah, antara lain Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah.

Pendapat berbeda dilontarkan ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara. Bhima mengatakan, cawapres semestinya memahami persoalan ekonomi. Pasalnya, wakil presiden ke depan bukan hanya bertindak sebagai ban serep bagi presiden.

Wakil presiden adalah mitra dan teman berbagi tugas presiden. Presiden ke depan dalam menjalankan tugas akan banyak disibukkan oleh masalah yang kompleks, seperti; hukum, keamanan dan politik.

Padahal, masalah menumpuk di bidang ekonomi. Pertama berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertatih-tatih di kisaran lima persen, jauh dari target pemerintah pada 2019 yang dipatok di level delapan persen. Kedua, nilai tukar rupiah bergerak tidak stabil. Sepanjang tahun ini saja, rupiah sudah anjlok dari Rp 13.475 menjadi Rp 14.439. Ketiga kinerja ekspor. Ekspor belum menunjukkan kinerja yang menggembirakan.

Kinerja ekspor sepanjang 2017 baru mencapai 145 miliar dolar AS, kalah jika dibandingkan Thailand, Malaysia, dan Vietnam yang masing-masing sudah mencapai 231 miliar dolar AS, 184 miliar dolar AS, dan 160 miliar dolar AS. Neraca dagang Januari-Juni 2018 pun masih defisit 2,83 miliar dolar AS. Bhima mengatakan bahwa kondisi tersebut memerlukan penanganan segera.

Untuk itu, presiden semestinya memiliki pasangan yang bisa diajak bertukar pikiran untuk mencari solusi mengatasi masalah tersebut. Masalah tersebut imbasnya cukup besar tidak hanya untuk ekonomi secara umum tapi juga kehidupan masyarakat. ”Titik pentingnya di situ, wakil presiden harus mengerti ekonomi,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional ( PAN) Hanafi Rais pergi meninggalkan kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Kamis (9/8) malam. Ia mengaku akan kembali ke lokasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-4 PAN di Hotel Sultan, Jakarta. Hanafi tidak menjelaskan alasan meninggalkan rumah Prabowo sebelum mantan Danjen Kopassus itu menyatakan siapa calon wakil presiden (cawapres) yang akan digandengnya untuk bersaing dengan pasangan Joko Widodo- Maa’ruf Amin.

Hanafi hanya menyebut bahwa calon presiden dan wakil presiden dari kubu Prabowo kemungkinan akan diumumkan Jumat ini. ”Besok (Jumat ini) deklarasi pasangan capres-cawapres, dan setelah jumatan kita daftarkan,” kata Hanafi.

Menurut dia, ini bukan tidak sesuai rencana, tapi terkait calon presiden dan wakil presiden memang akan diumumkan besok, di pagi hari waktu terakhir pendaftaran pasangan calon. ”Bukan diundur. Memang dari dulu kami akan deklarasi hari terakhir. Baru kemudian diantarkan (mendaftar ke KPU) setelah jumatan (salat Jumat),” kata Hanafi. Hanafi mengatakan, semalam partai- partai pendukung Prabowo bertemu membicarakan soal koalisi yang akan dibentuk. (F4,H28,bn,cnn-31)


Berita Terkait
Komentar