Beranda Ulama

Wanita Karier dalam Rumah Tangga

Fiqih Wanita

SM/Dok : Hj Umul Baroroh
SM/Dok : Hj Umul Baroroh

KEHIDUPAN keluarga saat ini didominasi pasangan suami-istri yang keduanya bekerja. Hal ini amat wajar karena mereka saling memahami dan menghargai kapasitas masing-masing.

Selain itu tingkat pendidikan masyarakat utamanya wanita juga sudah semakin meningkat hampir sejajar dengan pria. Kenyataan ini menyebabkan para wanita memanfaatkan ilmunya dengan bekerja atau berkarier sesuai bidangnya.

Hal ini tentu saja dimungkinkan sepanjang dia masih berstatus lajang. Ketika seorang wanita sudah bersuami maka harus ada kesepakatan dan kesepahaman masalah karier seorang istri. Selama karier itu tidak mengganggu kewajibannya sebagai seorang istri yang secara kodrati mengemban amanah Allah untuk keberlangsungan umat manusia, mendidik generasi muda putra-putrinya menjadi anak yang saleh-salehah, maka tidak menjadi masalah apabila pasangan suami istri menyepakatinya.

Peran istri, ibu sebagai madrasah pertama bagi puta putrinya harus benar-benar disadari dan diperankan. Memang menurut kitab-kitab yang ada, tidak ada kewajiban dari seorang istri untuk mencari nafkah.

Akan tetapi Rasulullah, pada masa hidupnya juga tidak melarang istrinya, Siti Khotijah menjadi saudagar. Juga mukminat yang bekerja sebagai perias pengantin, atau mantri pasar, dan sebagainya sepanjang urusan rumah tangganya tidak terbengkalai. Apabila istri yang berkarier dapat memahami hak dan kewajibannya dengan baik, maka tidak akan menjadi masalah. Sebagai istri harus memahami kewajibannya, bahwa kepergiannya untuk berkarier adalah atas rida suami. Wallahu aílam bishawab. (Hj Ummul Baroroh, Sekretaris MUI Jawa Tengah-54)


Berita Terkait
Loading...
Komentar