Beranda Ulama

Menggelorakan Islam Moderat

SM/Agus Fathuddin
SM/Agus Fathuddin

PEMAHAMAN Islam wasathiyah atau moderat harus terus-menerus digelorakan dan disuarakan di tengah masyarakat. Hal itu diungkapkan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Maíruf Amin.

Mengapa?

Karena paham-paham ekstrem kanan atau kiri berkembang secara masif. Islam moderat yang dikembangkan bukan hanya menyangkut soal pemikiran, tetapi juga gerakan. ”Pemikiran yang ingin kami bawakan adalah pemikiran yang moderat, damai dan santun.

Memberikan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lilalamin),” ungkap Kiai Ma’ruf kepada Suara Merdeka di sela-sela Halaqah Ulama se-Jateng yang mengangkat tema ”Pencegahan Radikalisme dan Terorisme”, di Sukoharjo belum lama ini.

Menurut Kiai Ma’ruf, ada dua kelompok yang berpikiran sangat tekstual dan ada juga kelompok yang memiliki pemikiran sangat liberal. Keduanya sangat ekstrem. Yang satu menganggap tidak ada perubahan-perubahan dalam Islam, sementara yang satunya lagi menganggap semua di dalam Islam boleh berubah. ”Mereka kelompok liberal menganggap agama ini seperti adonan. Bisa dibuat apa saja. Bisa berubah setiap hari,” kata Rais Aam PBNU itu.

Kiai Ma’ruf menjelaskan, cara berpikir Islam moderat itu ada tiga yaitu tawassuthiyyan (moderat), tathowwuriyyan (dinamis), dan manhajiyyan (menggunakan metodologi yang jelas). Pada dasarnya Islam adalah agama yang sangat toleran. Hal itu tercermin dalam Alquran Surat Al Kafirun ayat keenam. Tidak ada paksaan di dalam memeluk agama Islam. ”Teologi Islam itu toleran,” tegasnya.

Ia meminta agar Islam moderat Indonesia dikembangkan ke seluruh dunia, terutama dunia Islam. Mereka bisa belajar dari Indonesia tentang bagaimana Islam bisa berinteraksi dengan yang demokrasi dan modernitas dan juga umat Islam berhubungan dengan umat agama lainnya.

Islam Indonesia

Senada dengan Kiai Ma’ruf Amin, Rais Aam Pengurus Besar Jamiyyah Ahlith Thoriqoh An- Nahdliyyah Habib Luthfi bin Ali Yahya mengatakan, agama di Indonesia bermacam-macam. Juga terdapapat ratusan bahkan ribuan bahasa lokal. ”Ini adalah anugerah dan takdir Allah SWT, yang harus kita jaga. Saya titip kepada para kiai, kepada jamaah agar halhal yang berkaitan dengan ukhuwah kita, baik Islamiyyah, wathaniyyah, basyariyah. Persatuan dan kesatuan dapat kita jaga,” katanya.

Dalam berbagai kesempatan bertemu warga, Habib Luthfi selalu mengingatkan, cinta tanah air itu hukumnya wajib (hubbul wathan minal iman). Para ulama terus diajak berjuang keras untuk mengampanyekan nilai-nilai Islam yang rahmatan lilalamin, Islam wasathiyyah yang menebarkan perdamaian.

Menurutnya, di tengah berbagai ancaman radikalisme, tantangan konflik regional dan internasional, ulama sufi juga berperan penting dalam menarasikan nilai-nilai Islam yang sejuk dan menjadi oase di tengah teriakan perang. Menurut Habib Lutfi, cukup menjadi pelajaran berharga dari Afghanistan, Irak, Suriah, Libia, Yaman, Tunisia, Mesir, Somalia, dan negara-negara Islam yang menjadi sasaran konflik antarumat karena tidak adanya persatuan di antara mereka. Ide Islam Nusantara yang sampai hari ini masih menjadi pembicaraan hangat, menurut Habib Lutfi datang bukan untuk mengubah doktrin Islam.

Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam Nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan ”agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita Walisongo. Islam Nusantara tidak anti- Arab, karena bagaimanapun juga dasar-dasar Islam dan semua referensi pokok dalam berislam berbahasa Arab.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibien, Leteh, Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menjelaskan Islam tidak identik dengan Arab. ”Kalau Islam diidentikkan dengan Arab, Abu Jahal juga orang Arab, dia memakai sorban dan jubah. Tentu ketika kita memakai jubah dan sorban semata mengikuti sunah Rasulullah, bukan mengikuti budaya Arab,” katanya Dalam sebuah acara Mata Najwa, yang ditayangkan sebuah televisi swasta, Gus Mus bahkan mengkritisi mereka yang membawa agama ke panggung politik. Gus Mus menjawab pertanyaan Najwa Shihab soal agama dan politik. Najwa menanyakan pernyataan Gus Mus dalam akun Twitter-nya yang pernah menyinggung pihak-pihak yang menyeret agama dalam urusan politik.

Ia mengingatkan, tak seharusnya ada kesombongan dan kelompok yang merasa benar sendiri. ”Jadi kalau ada orang yang sombong, petentang-petenteng, merasa benar sendiri, saya ketawa,” katanya.(Agus Fathuddin Yusuf-54)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar