Beranda Ulama

Bolehkah Berkurban di Luar Daerah Domisili?

Rubrik ini diasuh oleh KH Kharis Shodaqoh, KH Dzikron Abdulloh, KH Ahmad Hadlor Ihsan, dan KH Fadlolan Musyaffa, serta Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah. Pertanyaan bisa disampaikan melalui surat elektronik: muijateng@yahoo.co.id, dan mui.jawatengah@ gmail.com atau telp/fax (024) 8413942

Pertanyaan: Pak Kiai, bolehkan berkurban di luar daerah domisili, karena kami tinggal jauh dari tempat kelahiran, sementara kami ingin membantu sanak saudara yang fakir di tempat kami lahir?. (Agus Ahmadi, Semarang )

Jawaban: Berkurban lebih utama dilakukan di daerah domisili. Diperbolehkan berkurban di daerah lain dengan pertimbangan lebih besar kemaslahatannya. Di antaranya, dengan melihat masyarakat mana yang lebih fakir dan membutuhkan daging kurban. Hal itu dikarenakan, sasaran yang dimaksudkan dalam penetapan syariat Islam adalah kemaslahatan. Mana yang lebih besar kemaslahatannya, itulah yang kita pilih. Tidak ditemukan dalil eksplisit (nash) yang membatasi kurban harus di daerah domisili. Dalam kitab Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah, Syekh As-Saídi menerangkan, ”Agama ini dibangun di atas maslahat. Baik dalam rangka mendatangkan maslahat atau mencegah mudharat. Bila terjadi pertemuan antara sejumlah maslahat. Maka dahulukan mana yang lebih besar maslahatnya.”

Menimbang hal tersebut di atas, apabila daerah lain dipandang lebih miskin dan lebih butuh, atau karena alasan lain di sana ada kerabat kita (dalam rangka silaturahmi), maka boleh berkurban di daerah tersebut. Karena apabila zakat saja yang hukumnya wajib, berdasarkan kesepakatan ulama (ijmaí), boleh dipindahkan ke daerah lain yang lebih membutuhkan, terlebih sembelihan kurban yang hukumnya sunah.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah No. 43778, ”Apabila di daerah lain terdapat maslahat yang kuat, yang menuntut untuk mengirimkan hewan kurban ke daerah tersebut, maka boleh-boleh saja berkurban di daerah lain. Sembelihan kurban tersebut dihukumi sah selama seorang mendermakan hewan kurbannya dengan meniatkan sebagai sembelihan kurban.” Di samping itu, amal kebaikan apabila semakin banyak manfaatnya, akan semakin besar pula pahalanya.

Menyalurkan kurban ke daerah lain yang dipandang lebih butuh akan lebih besar manfaatnya dari pada daerah domisili, yang masyarakatnya kaya. Manfaat akan benar-benar dirasakan oleh kaum miskin dan juga untuk orang yang berkurban, berupa pahala dan keberkahan, karena harta yang ia dermakan benar-benar dirasakan manfaat dan maslahatnya.

Syekh Abdullah Jibrin dalam salah satu fatwa beliau: ”Yang lebih utama, berkurban di daerah domisili Anda. Supaya Anda dapat menghadiri prosesi penyembelihan, menyebut nama Allah saat menyembelih, kemudian memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya, dan menyedekahkan sepertiganya. Namun, apabila di daerah tersebut penduduknya berkecukupan, tidak ditemui kaum fakir, sehingga apabila Anda berkurban di situ justru masyarakat setempat akan menyimpannya beberapa hari ke depan, karena mereka memiliki stok daging yang sangat cukup sepanjang tahun, maka boleh mengirimkan kurban ke daerah miskin yang kurang suplai daging, atau ada persediaan daging namun jarang. Asal dipastikan, penyembelihan dilakukan di hari raya atau tiga hari tasyrik. Kemudian hewan kurbannya juga dipastikan yang sah untuk berkurban; bebas dari cacat, serta orang yang dijadikan wakil penyembelihan haruslah orang yang amanah.” Wallahuaílam bis shawab.

KH Fadlolan Musyaffa, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Provinsi Jawa Tengah. (54)


Berita Terkait
Loading...
Komentar