Warga Prancis Main Gamelan Iringi Wayang

Persiapkan Diri dan Berlatih Setahun Penuh

SM/Sri Wahjoedi - NIYAGAPRANCIS : Sejumlah niyaga atau penabuh gamelan dari Asosiasi Pancha Indera, Paris, Prancis mengiringi pakeliran padat wayang kulit di Rumah Banjarsari, baru-baru ini. (55)
SM/Sri Wahjoedi - NIYAGAPRANCIS : Sejumlah niyaga atau penabuh gamelan dari Asosiasi Pancha Indera, Paris, Prancis mengiringi pakeliran padat wayang kulit di Rumah Banjarsari, baru-baru ini. (55)

Pesona budaya Indonesia, termasuk budaya Jawa, baik berupa seni musik gamelan maupun seni tari, mampu memikat banyak orang untuk melestarikannya. Tak urung, warga Prancis terpikat dan kini mampu menabuh gamelan bahkan mengiringi pementasan wayang kulit.

RAUT wajah serius diperlihatkan 25 warga Prancis yang tengah menabuh gamelan di Rumah Banjarsari Ruang Publik dan Seni, Surakarta. Terlebih, mereka sengaja datang ke Indonesia sebagai rumah gamelan, untuk memamerkan kemampuan menabuh gamelan dan menari.

Para niyaga dan penari dari Prancis yang tampil itu tergabung dalam Asosiasi Pancha Indera Paris yang didirikan oleh Christophe Moure dan istri Kadek Puspasari Moure. Christophe merupakan alumnus Darmasiswa Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

Kadek alumnus Jurusan Tari ISI Solo yang kemudian menjadi penari dan koreografer di Paris. ”Kami semacam home comming ke Solo. Mudik ke tempat asal gamelan sekaligus menunjukkan hasil pengenalan seni tari dan gamelan di mancanegara,” kata Kadek, penari kelahiran Bali yang dibesarkan di Solo itu. Sejak 2013, Kadek bersama suaminya mendirikan Pancha Indera di Paris, Prancis. Nama itu dimaksudkan sebagai upaya mengasah dan mengembangkan lima indera yang dimiliki setiap manusia.

Panca Indera

”Kami belajar dan melatih untuk menajamkan lima indera itu lewat kesenian, baik tari maupun gamelan Jawa dan Bali,” ujarnya. Menurutnya, tidak semudah membalik tangan saat dia dan suami yang mengajar di Cite De La Musique Philharmonie Paris itu berusaha mengenalkan budaya Indonesia di negeri yang merasa paling tinggi kebudayaannya itu. ”Di Prancis, seniman menjadi profesi yang diperhitungkan dan mendapat pengakuan intermitant de spectacle dan tercatat.

Setiap periode kegiatan dipantau pemerintah. Di Paris, Kadek dan Christophe mengajarkan gamelan dan tari Jawa-Bali tradisional, tari modern, dan tari kreasi. Di Rumah Banjarsari, para niyaga mengiringi pergelaran padat wayang kulit dengan lakon Dewi Sri yang diusung dalang Ki Tulus Raharjo.

Sebelum pentas wayang kulit digelar, disajikan tari pethikan dramatari Wuyung Amberung, karya Wahyu Santosa Prabowo dan Galuh Sintasari. Karya dua penari Solo itu menjadi materi workshop di Prancis. Ada sejumlah penari perempuan yang memerankan raksasa prajurit Alengka.

Menurut Kadek, Asosiasi atau Sanggar Pancha Indera beranggotakan 75 orang. Mereka berasal dari lintas profesi, meski sebagian besar guru kesenian. Sementara yang bisa ikut ke Solo hanya 25 orang, terdiri atas niyaga dan penari. Untuk bisa mengiringi pakeliran padat wayang kulit, mereka sudah mempersiapkan diri selama setahun.

Kemudian saat berada di Solo, para penabuh gamelan mendapat workshop untuk mengiringi pementasan padat dari dalang Ki Tulus Raharjo selama 12 hari. ”Sebenarnya kami juga mendapat tawaran ikut International Gamelan Festival di Solo, 9-16 Agustus. Namun kami tidak bisa ikut karena fokus latihan mengiringi pentas wayang kulit.” (Sri Wahjoedi-41)


Berita Terkait
Komentar