BACA BUKU

Pantura: Hikayat Dua Abad Urat Nadi Jateng

BICARA jalan utama pantai utara (pantura) Jawa Tengah tentu tidak bisa dilepaskan dari stereotip negatif yang menyertai. Macet, banjir, jalan berlubang, rawan kecelakaan, rawan kejahatan jalanan, dan permasalahan sosial lain. Endah Sri Hartatik, sejarawan sekaligus pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang, mengupas tuntas narasi pantura selama kurun waktu dua abad.

Dalam buku, yang semula merupakan disertasinya, Dua Abad Jalan Raya Pantura: Sejak Era Kerajaan Mataram Islam hingga Orde Baru, Endah menarasikan dinamika kehidupan yang bergerak di atas aspal panas pantura beserta perkembangan pembangunan fisiknya.

Narasi yang dia bangun terinsipirasi dari karya klasik sejarawan Perancis, Fernand Braudel, yang menceritakan dinamika kehidupan masyarakat di sekitar Laut Mediterania di Eropa bagian selatan. Braudel mengambil pengandaian lautan dengan gelombang besar, sedang, dan kecil.

Itulah pula yang mengilhami Endah dengan menyebut pantura Jawa Tengah ibarat cawan atau wadah yang memuat segala hal tentang kekerasan kehidupan di jalanan.

Berdasar data yang dia paparkan dalam buku ini, panjang jalan raya pantura Jawa Tengah merupakan jalan nasional terpanjang di Pulau Jawa, yakni 465,60 kilometer. Dengan jalan sepanjang itu, sudah selayaknya Provinsi Jawa Tengah mendapatkan keuntungan ekonomi luar biasa.

Puluhan juta kendaraan bermotor lalu-lalang, melintasi wilayah Jawa Tengah dari Brebes hingga Rembang. Pantura Jawa Tengah dalam penggambaran Endah, menghadapi banyak tantangan sesuai dengan perkembangan zaman.

Tantangan-tantangan tersebut antara lain berupa kemunculan modamoda transportasi baru, seperti kereta api pada era Tanam Paksa abad ke-19 hingga kendaraan bermotor yang mulai ramai sejak awal abad ke-20. Persaingan antarmoda transportasi itu tidak menghilangkan sensasi untuk melintasi jalan raya tersebut.

Selain itu, masih banyak aktivitas ekonomi yang terjadi. Bahkan transaksi ilegal pun tidak pernah hilang dan hampir selalu muncul menyertai, seperti praktik pungutan di jembatan timbang, premanisme jalanan, prostitusi, dan pencurian-pencurian.

Cuplikan Narasi

Pantura Jawa Tengah adalah urat nadi kehidupan. Sayang, perihal urat nadi itu hanya Endah sampaikan secara informatif. Pembaca hanya terkesan mendapat deskripsi dinamika pantura Jawa Tengah serta beberapa cuplikan narasi pantura Jawa Barat dan Jawa Timur yang juga dia bahas secara singkat.

Meski deskripsi itu dia perkuat dengan keragaman sumber sejarah, yang sebagian besar Endah peroleh dari berita-berita di surat kabar yang beredar di seluruh Pulau Jawa.

Di balik itu semua, tentu pembaca akan mendapatkan pencerahan, sekaligus citra baru dalam memandang pantura Jawa Tengah. Tidak selamanya jalan yang pada awal mula disebut Jalan Pos Anyer-Panarukan warisan Gubernur Jenderal Daendels itu diartikan buruk. Para pemangku kebijakan pembangunan jalan wajib membaca buku ini.

Jadi mereka mampu mengambil kebijakan yang pas berkait dengan persoalan transportasi. Itu sama persis dengan ujaran sejarawan senior dari Universitas Gadjah Mada Djoko Suryo di sampul belakang buku ini, bahwa penulisan sejarah infrastruktur semacam ini belum mendapat perhatian memadai.

Oleh karena itu, lewat penerbitan buku ini setidaknya Endah telah memberikan kontribusi mengenai pembangunan fisik dan sumber daya manusia di sepanjang pantura Jawa Tengah yang lebih humanis dan berkelanjutan. Apalagi saat ini pemerintah pusat di bawah komando Presiden Joko Widodo tengah gencar membangun jalan tol Trans Jawa.

Lalu, bagaimana dengan jalan raya pantura Jawa Tengah; apakah akan tetap difungsikan sebagaimana adanya? Apakah akan ada perombakan besar-besaran, berkait dengan penggunaan jalan raya yang memiliki jalur yang sama-sama menghubungan ujung barat hingga ujung timur Pulau Jawa?

Bila berkaca pada aktivitas tahunan mudik yang melintasi pantura Jawa Tengah, tentu jalan raya menjadi vital bagi kepentingan bangsa Indonesia. Oleh karena itulah, seyogianya jalan itu tetap dijaga, dirawat, dan difungsikan sebagaimana adanya. (Joseph Army Sadhyoko-44)


Komentar