Penguatan Kelembagaan Desa Wisata Samiran

MINIMNYA pengetahuan dan kesadaran warga untuk bersinergi dinilai telah menghambat perkembangan pembangunan Desa Wisata Samiran Kecamatan Selo, Boyolali (Dewisambi). Hambatan lain, persaingan yang tidak sehat di antara pelaku usaha desa wisata setempat. Padahal potensi di desa wisata itu sangat besar.

Mulai dari potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, hingga sumber daya buatan, yang memungkinkan Desa Samiran berkembang sebagai penopang kawasan wisata Selo. Kawasan wisata yang berada diantara Gunung Merbabu dan Gunung Semeru itu tidak akan ditemui di daerah lain.

Ketua Program Studi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Boyolali (UBY), Sigit Maryanto mencontohkan, keberadaan homestay di Desa Samiran merupakan unsur pendukung yang sangat strategis dalam pengembangan pariwisata setempat.

Namun sayangnya masih dikelola secara sederhana dan belum terorganisasi dengan baik. ”Demikian pula dengan lingkungan desa yang memiliki potensi agrowisata seperti sayuran, bunga, dan peternakan sapi perah, juga belum terkoordinasi dengan baik.

Sehingga sering kali wisatawan tidak mengenal potensi yang ada,” kata Sigit, Jumat (27/7). Nah, untuk menggugah kesadaran masyarakat, mengintegrasikan potensi yang ada, serta untuk penguatan kelembagaan, mahasiswa UBY yang telah sebulan KKN di Desa Samiran merintis pembentukan koperasi wisata.

Ke depan koperasi itu diharapkan dapat dikembangkan melibatkan banyak pemangku kepentingan atau pelaku wisata setempat. Seperti, kelompok seni dan budaya, pemilik rumah makan/warung makan, pemandu wisata, biro wisata, dan lainnya.

Sosialisasi

Sigit berharap, melalui integrasi kelembagaan pengelola homestay dan pelaku agrowisata dalam wadah koperasi wisata diharapkan potensi wisata yang ada dapat dioptimalkan kemanfaatannya yang pada gilirannya mampu mendorong peningkatan kunjungan wisata, pendapatan masyarakat yang pada akhirnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat desa Samiran.

”Selain merintis pembentukan koperasi wisata, para mahasiswa juga melakukan sosialisasi, penyuluhan, pelatihan, fokus grup diskusi, dan pendampingan pada warga Desa Samiran, khususnya di Dusun Tretes dan Dusun Pojok, dalam membangun dan mengelola desa wisata.

Pelatihan kelembagaan itu diantaranya, motivasi dan sikap wira usaha, management akutansi dan strategi pemasarane- commerce,” kata dia yang juga koordinator hibah KKN 2018 UBY.

Ketua Tim Hibah KKN PPM Universitas Boyolali, Donna Setiawati menambahkan, pelatihan penguatan kelembagaan penting dilakukan agar proses pembangunan agrowisata yang sudah dirintis warga sebelumnya bisa terselesaikan.

Ia mencontohkan, di lahan pertanian di alam sutra Dukuh Pojok, Dukuh Tretes, dan Dukuh Ngemplak yang semula ditanami sayuran dan kurang tertata kini telah ditanami berbagai jenis bunga dan hortikultura serta didirikan gazebo yang nyaman untuk bercengkerama bersama keluarga atau komunitas. Atau hanya berswaphoto.

”Target khusus KKN PPM 2018 adalah para pengelola homstay dan pelaku agrowisata dalam mengembangkan wisata melalui penguatan kelembagaan koperasi dan kemajuan bisa diukur dari terbentuknya koperasi, tersusunnya panduan pengelolaan homestay, dan tersusunnya modul paket desa wisata Samiran,” kata Dona.

Pembantu rektor 1 UBY Saiful Bahri mengatakan, pelaksanaan hibah pengabdian masyarakat KKN PPM UBY 2018 dinilai cukup berhasil. KKN ini mampu mengintegrasikan berbagai kepentingan dan bersinergi dengan berbagai pihak.

Termasuk Pemkab Boyolali dan pihak swasta. ”Ke depan, tidak hanya agrowisata dan homestay yang akan dikembangkan di Desa Samiran, namun juga potensi desa lainnya,” kata dia. (Langgeng Widodo-45)


Komentar