Mimpi Menjadi Bintang

KETIKA para remaja ingin tampil seperti bintang idolanya, dielu-elukan di panggung, dipuja segala prestasinya, dan ingin diperhatikan dalam setiap tingkah polahnya, mulailah bertebaran aplikasi yang mendukung mimpi mereka.

Bak gayung bersambut. Istilah ini lebih mencerminkan bagaimana sebuah aplikasi mencoba memenuhi kebutuhan para remaja yang ingin memperlihatkan jati dirinya. Budaya narsis ingin diperhatikan mulai tumbuh cepat dan hampir mengarah pada tindakan yang kadang melewati batas. Mereka mencari idola-idola di dunia maya, yang sesuai dengan keinginan.

Pengidolaan terhadap orang tua serta bapak dan ibu guru sudah mulai luntur. Situasi tersebut melebihi seorang fans fanatik yang berteriak dan menjerit di bawah panggung sambil menangis ketika bintang pujaannya tampil beraksi. Namun kali ini mereka dihadapkan pada kondisi tidak ada panggung, tidak ada artis terkenal, tidak ada realitas. Semuanya tersaji berseliweran di dunia maya, dunia virtual. Situasi inilah yang dibidik oleh kreator aplikasi berbasis sosial media.

Membidik Remaja Melalui dunia seni salah satunya akting dan tarik suara yang sangat digandrungi baik tua maupun muda serta tidak mengenal gender, agaknya pintu inilah yang dianggap terbuka bagi penyedia aplikasi. Untuk dunia tarik suara, mereka yang menyukainya bisa mengekspresikan dengan beragam cara.

Dari hanya duduk manis sambil menghayati lirik, tangan mulai bergerak mengikuti irama, bersenandung malu-malu, sampai pada yang lebih ekspresif dengan berteriak sambil bergoyang. Sedangkan dunia akting diwakili mereka yang suka membuat film berdurasi pendek. Baik itu tentang diri sendiri, perkembangan dan tingkah polah anak balita yang menggemaskan, atau perilaku hewan kesayangan.

Keberadaan aplikasi jenis ini hampir bebarengan dengan kelahiran sistem operasi berbasis Android. Meski hampir semuanya lahir dari sistem berbasis iOS milik iPhone, aplikasi ini mulai menyebar ke perangkat Android yang jumlah pemakainya lebih banyak dan hampir menguasai pasar gawai di semua negara. Bahkan Amerika Serikat yang merupakan tempat kelahiran dan kerajaan iPhone cukup puas mendapatkan porsi 42,7 persen. Sedangkan 52,6 persen menggunakan sistem operasi Android (Nielsen Company). Namun perlu dicatat kemenangan Android atas iPhone adalah hasil kroyokan dari Samsung, LG, Huawei, Xiaomi, Oppo, Motorolla, dan merek lainnya. Pada 2008 aplikasi Sonic Boom mulai diperkenalkan bagi mereka yang menyukai olah vokal. Kemudian muncul Magic Fiddledi tahun 2010, termasuk Glee Karaoke yang juga menggarap kategori yang sama. Pada 8 Agustus 2012, Sing! Karaoke by Smule memulai debutnya dan mengawali di App Store.

Aplikasi Tik Tok

Tik Tok adalah bagian dari Bytedance Inc, perusahaan internet raksasa Tiongkok yang juga jadi induk usaha Musical.ly. Di negara asalnya, Tik Tok dikenal dengan nama Douyin. Di Indonesia, Tik Tokresmi diluncurkan di Jakarta pada September 2017. Aplikasi ini dengan cepat menarik banyak perhatian.

Sepanjang kuartal pertama 2018, aplikasi ini telah menduduki peringkat nomor tujuh (SensorTower). Diunduh lebih dari 45 juta kali. Urutan ini hanya melihat unduhan yang ada di App Store untuk perangkat iPhone. Belum ditambahkan unduhan dari Play Store untuk perangkat Android. Cara kerja aplikasi Tik Tok bukanlah hal baru. Jika sudah terbiasa menggunakan fiturfitur di Instagram, Snapchat, atau Facebook akan dengan mudah beradaptasi menggunakan Tik Tok. Terlebih jika pengguna sudah mencoba aplikasi Musical.ly dipastikan tidak akan gagap begitu mencoba Tik Tok.

Aplikasi ini sudah diperkaya dengan segudang animasi yang dapat disematkan ketika pengguna sudah membuat video. Tik Tok memungkinkan pengguna membuat video pendek yang disertai dengan lagu, bisa juga membuat video lipsync, atau sekadar seru-seruan dan lucu-lucuan.

Cara kerjanya sederhana, pengguna tinggal merekam video selama 30 detik (maksimal) dan menghiasinya dengan berbagai musik, filter, atau efek-efek seperti telinga kelinci, gambar hati, atau menyundul bola.

Terdapat fasilits efek atau filter telah terpasang otomatis ketika membuka fitur kamera. Dengan filter tersebut, wajah tampak lebih putih dan halus. Filter tersebut bisa saja dimatikan, atau diganti dengan banyak filter lainnya sesuai keinginan. Video tersebut kemudian bisa dibagikan di dalam aplikasinya sendiri atau ke media sosial lain seperti Twitterdan Facebook.

Perang Opini

Dalam setiap aplikasi berbasis sosial media dipastikan akan berimbas pada tindakan negatif antarpengguna. Perang opini berakhir pada perundungan sudah bukan hal baru. Dari sekadar ancaman sampai pada pembunuhan telah mewarnai sisi kelam media sosial. Bahkan pemerintah di berbagai negara sudah menerapkan hukum pada persoalan dunia maya ini sebagai tindakan kriminal yang tujuannya untuk menekan sisi negatif. Sebenarnya banyak ‘’artis’’ dadakan yang terkenal (meski kemudian cepat tenggelamnya) dan menjadi kaya dikarenakan aplikasi-aplikasi ini. Tidak sedikit para remaja yang mengais rezeki dari aplikasi sejenis.

Sangat disayangkan ketika aplikasi unjuk diri untuk menjadi bintang dinodai oleh beberapa oknum. Fitur-fitur di Tik Tok yang berpotensi memunculkan tidak kejahatan dunia maya sudah mulai dipetakan dan dihapus. Perbaikan filterisasi konten akan ditambah ke dalam aplikasi untuk melindungi anakanak dari konten SARA (suku, agama, ras, antargolongan), radikal, dan pornografi. Selain itu penerapan teknologi artificial intelligence dapat mengendus keberadaan konten negatif. Penambahan fitur laporan juga diharapkan dapat memaksimalkan Tik Tok dari munculnya konten/video yang tidak diharapkan.

Melalui fitur tersebut, sistem akan menghapus konten yang berunsur negatif. Sehingga seperti pepatah, ‘’Jangan salahkan si pembuat pisau, tapi salahkan pelaku yang sudah membunuh korban.’’ (Dadang Aribowo, bbc.com, jalantikus. com, smartsocial.com-54)


Berita Terkait
Komentar